Menag Apresiasi Singkawang sebagai Contoh Harmoni Budaya Nasional yang Memukau
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyoroti Kota Singkawang sebagai teladan harmoni budaya nasional, menunjukkan keberagaman yang menjadi kekuatan persatuan dan daya tarik wisata.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar secara tegas menyatakan kekagumannya terhadap Kota Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar). Beliau menyebut Singkawang sebagai contoh nyata harmoni dalam promosi budaya nasional Indonesia. Pernyataan ini disampaikan saat Menag menghadiri acara "Discover Timeless Harmony Explore Singkawang" di Jakarta.
Acara yang berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta pada Jumat (23/1) ini bertujuan memperkenalkan potensi budaya dan pariwisata Singkawang. Inisiatif ini digagas untuk menjangkau khalayak nasional maupun internasional. Menag Nasaruddin menekankan bahwa kegiatan semacam ini membuktikan kekayaan dan keindahan budaya Indonesia yang beraneka ragam.
Menag juga mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk terus memupuk harmoni tanpa batas di tengah keberagaman. Hal ini penting demi menghilangkan sekat antarkelompok dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan promosi ini menjadi bukti konkret betapa indahnya keberagaman budaya bangsa.
Singkawang: Teladan Toleransi dan Keberagaman
Nasaruddin Umar, Menteri Agama, menegaskan bahwa Kota Singkawang patut dijadikan contoh daerah yang berhasil menjaga toleransi. Masyarakat Singkawang hidup berdampingan secara harmonis, meskipun memiliki latar belakang suku dan agama yang berbeda. Kondisi ini menunjukkan kekuatan persatuan di tengah perbedaan.
Keberhasilan Singkawang dalam merawat toleransi menjadi fondasi penting bagi pengembangan daerah. Ini juga membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat identitas bangsa. Menag berharap semangat ini dapat menular ke daerah lain di Indonesia.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, yang turut hadir, menjelaskan bahwa promosi budaya ini merepresentasikan kehidupan masyarakatnya. Masyarakat Singkawang menjunjung tinggi nilai toleransi dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini terlihat dari interaksi sehari-hari antarwarga.
Batik Tidayu: Simbol Persatuan Etnis di Singkawang
Dalam acara "Discover Timeless Harmony Explore Singkawang", Pemerintah Kota Singkawang menampilkan Batik Tidayu. Batik ini merupakan akronim dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Kehadiran Batik Tidayu menjadi simbol keberagaman dan persatuan masyarakat Singkawang yang kuat.
Tjhai Chui Mie menjelaskan bahwa Batik Tidayu sengaja ditampilkan untuk memperlihatkan kekayaan budaya Singkawang kepada para pengunjung. Lebih dari sekadar kain, batik ini adalah representasi visual dari slogan toleransi yang melekat pada kota tersebut. Ini membuktikan bahwa toleransi tidak hanya narasi, tetapi juga karya nyata.
Berbagai kegiatan dan agenda budaya di Singkawang juga menjadi bukti nyata komitmen terhadap toleransi. Selain busana, karya masyarakat lainnya seperti seni pertunjukan turut memperkuat pesan ini. Inisiatif ini memperkaya khazanah budaya nasional.
Singkawang sebagai Miniatur Indonesia dan Kolaborasi Budaya
Wali Kota Tjhai Chui Mie menyebut Singkawang sebagai miniatur Indonesia. Kota ini dihuni oleh beragam suku yang hidup rukun dan saling menghormati. Keberagaman ini menjadi modal utama dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya dan toleransi.
Kegiatan "Discover Timeless Harmony Explore Singkawang" adalah hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Singkawang dan manajemen Hotel Borobudur Jakarta. Kolaborasi ini bertujuan menjadi gerbang promosi potensi budaya, kuliner, dan pariwisata Singkawang. Dengan reputasi internasional Hotel Borobudur, promosi diharapkan menjangkau pasar global.
Tahun ini, Singkawang akan menyaksikan momentum unik dengan perayaan Imlek yang berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Panitia Imlek dan Cap Go Meh akan berkolaborasi dengan panitia Ramadan Fair. Kolaborasi ini akan menghasilkan berbagai kegiatan bersama, termasuk hiasan kota bernuansa Imlek dan Idul Fitri, pasar juadah, serta pentas seni budaya dari 17 paguyuban.
Sumber: AntaraNews