Trivia Sejarah: Hari Bhakti Postel ke-80 Jadi Tonggak Pacu Konektivitas Digital Nasional
Peringatan Hari Bhakti Postel ke-80 di Bandung menegaskan pentingnya konektivitas digital sebagai fondasi kemajuan Indonesia, meski 2.333 desa masih belum terhubung internet.
Peringatan Hari Bhakti Pos dan Telekomunikasi (Postel) ke-80 yang dipusatkan di Bandung pada Sabtu lalu menjadi sorotan utama. Acara ini dicanangkan sebagai tonggak penting untuk memacu konektivitas informasi di seluruh penjuru Indonesia. Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa konektivitas ini merupakan fondasi krusial bagi kemajuan bangsa.
Meutya Hafid menyoroti berbagai aksi kolaboratif yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam upaya memperkuat konektivitas digital nasional. Saat ini, tingkat konektivitas digital di Indonesia telah mencapai angka 80 persen. Angka ini dianggap sebagai motor penggerak utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen.
Pembangunan infrastruktur digital menjadi kunci dalam mewujudkan visi tersebut, dengan setiap menara BTS dan kabel serat optik yang terbentang berperan vital. Setiap desa yang berhasil terhubung internet merupakan langkah nyata menuju pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam pemerataan akses informasi.
Konektivitas Digital sebagai Fondasi Ekonomi Nasional
Menteri Komdigi, Meutya Hafid, secara lugas menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur digital adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi. "Setiap menara BTS yang berdiri, setiap kabel serat optik yang dibentangkan, dan setiap desa yang berhasil terhubung internet adalah fondasi nyata menuju target delapan persen pertumbuhan ekonomi," ujarnya di Bandung.
Konsistensi dalam pembangunan infrastruktur digital nasional telah terlihat dari tahun ke tahun, ditandai dengan masifnya layanan publik digital. Selain itu, pertumbuhan transaksi elektronik juga menunjukkan peningkatan pesat, menandakan adopsi teknologi yang semakin meluas di masyarakat.
Meskipun demikian, digitalisasi belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan. Kesenjangan akses ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan untuk memastikan pemerataan pembangunan.
Tantangan dan Sinergi untuk Pemerataan Akses Internet
Data dari Komdigi mengungkapkan bahwa sebanyak 2.333 desa di Indonesia masih belum memiliki akses internet yang memadai. Rinciannya mencakup 2.017 desa yang belum terlayani jaringan 4G dan 316 desa tidak berpenghuni yang memerlukan pembangunan konektivitas.
Meutya Hafid menyatakan optimisme bahwa pekerjaan rumah ini dapat diselesaikan melalui penguatan sinergi. Kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator dan para pelaku usaha sebagai pelaksana pembangunan menjadi kunci utama. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemerataan akses digital.
"Kami mengapresiasi kerja keras seluruh pelaku industri telekomunikasi dalam menghadirkan jaringan hingga ke pelosok negeri, kita sudah terhubung ke seluruh provinsi di Indonesia," kata Meutya. Namun, ia menambahkan, "kita masih punya pekerjaan rumah, yang saya yakin bisa kita selesaikan kalau kita melakukan aksi-aksi kolaborasi."
Kedaulatan Ekosistem Digital dan Peran Industri Pos
Selain konektivitas, Meutya Hafid juga menyinggung pentingnya menjaga kedaulatan ekosistem digital di tengah situasi geopolitik global yang dinamis. Kedaulatan ini dianggap sebagai cerminan kekuatan pertahanan nasional. "Dalam pertikaian beberapa negara di era ini, salah satu yang ditargetkan untuk lumpuh ketika situasi perang adalah infrastruktur telekomunikasi," jelasnya.
Dari sisi industri pos, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam transformasi sektor pos dunia. Hal ini didukung oleh terpilihnya Indonesia sebagai salah satu dari lima anggota Council of Administration dan Postal Operations Council pada Kongres Universal Postal Union (UPU) ke-28 di Dubai.
PT Pos Indonesia didorong untuk semakin adaptif terhadap modernisasi teknologi dengan standar keamanan tinggi. Selain itu, perusahaan ini juga harus berpihak pada kepentingan nasional. "Industri pos harus dikelola dengan standar keamanan tinggi, modernisasi teknologi, dan keberpihakan pada kepentingan nasional," tegas Meutya.
Kontribusi PT Pos Indonesia dan Sejarah Hari Bhakti Postel
Direktur Bisnis dan Jasa Keuangan PT Pos Indonesia, Haris, menyampaikan bahwa peringatan Hari Bhakti Postel ini merupakan momentum penting bagi perusahaan. Dengan usia hampir tiga abad atau 279 tahun, Pos Indonesia terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
"Usia Pos Indonesia yang hampir tiga abad ini menunjukkan komitmen kami terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Keberadaan jaringan yang luas hingga pelosok 3T bukti nyata Pos Indonesia hadir hingga daerah terluar," kata Haris. Perusahaan ini juga terus berinovasi dengan memanfaatkan teknologi, seperti aplikasi PosAja dan PosPay, serta layanan kargo melalui Pos Logistik.
Puncak rangkaian kegiatan peringatan Hari Bhakti Postel ke-80 tahun, yang berlangsung sejak Juli 2025, adalah upacara bendera di halaman kantor PT Pos Indonesia. Hari Bhakti Postel sendiri diperingati setiap tahun untuk mengenang perjuangan Angkatan Muda Pos, Telegraf, dan Telepon yang merebut Kantor PTT di Bandung dari penjajah Jepang pada 27 September 1945. Peristiwa bersejarah ini disusul dengan penyebaran telegram pertama tentang Kemerdekaan Indonesia ke dunia.
Sumber: AntaraNews