Tak Gentar Bencana, Semangat Mengaji Anak-anak Gayo Lues Tetap Membara
Meskipun puluhan rumah tertimbun lumpur pasca-banjir akhir 2025, anak-anak di Gayo Lues, Aceh, menunjukkan semangat mengaji yang luar biasa, menginspirasi banyak pihak.
Situasi di Kampung Uyem Beriring, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, nampak lebih sepi dari biasanya setelah puluhan rumah di wilayah tersebut tertimbun lumpur dan tersapu banjir pada akhir tahun 2025. Bencana alam ini meninggalkan dampak yang signifikan, mengubah lanskap desa dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi warga untuk kembali membangun kehidupan mereka.
Kendati demikian, kondisi memprihatinkan tersebut tidak sedikit pun mengurangi semangat anak-anak di desa itu untuk mempelajari ilmu agama, termasuk mengaji Al Quran. Ketabahan mereka menjadi inspirasi di tengah puing-puing bencana, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi keinginan untuk menimba ilmu. Semangat mengaji Gayo Lues ini menjadi bukti ketangguhan spiritual masyarakat.
Berdasarkan pantauan di salah satu rumah warga pada Selasa, lantunan ayat suci Al Quran mulai terdengar merdu usai shalat Maghrib sekitar pukul 19.30 WIB. Seorang ustadz dengan sabar memberi contoh cara membaca Al Quran dengan baik dan benar, diikuti oleh belasan anak yang bersemangat melantunkan Surah Al Fatihah. Suara merdu tersebut sesekali diiringi kerik serangga dari balik hutan yang mengelilingi Kampung Uyem Beriring.
Ketabahan di Tengah Puing Bencana
Bencana banjir yang melanda Kampung Uyem Beriring pada akhir 2025 telah menyebabkan kerusakan parah, dengan puluhan rumah tertimbun lumpur yang mengeras. Keheningan pasca-bencana menyelimuti desa, namun tidak mampu memadamkan semangat juang warganya. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk beradaptasi dan mencari cara agar kehidupan tetap berjalan, termasuk dalam hal pendidikan.
Salah satu dampak paling terasa adalah tidak dapat digunakannya lagi gedung SDN Tripe Jaya, yang kini tertimbun lumpur. Akibatnya, siswa-siswa seperti Fadlan, Ishar, dan Arafat, yang merupakan murid kelas 4, harus mencari alternatif tempat belajar. Namun, hal ini tidak menyurutkan niat mereka untuk terus belajar, terutama dalam mendalami Al Quran.
Ketabahan anak-anak ini menjadi cerminan kekuatan komunitas dalam menghadapi musibah. Mereka menunjukkan bahwa meskipun fasilitas fisik terbatas, keinginan untuk memperoleh pengetahuan dan spiritualitas tetap membara. Semangat mengaji Gayo Lues ini menjadi simbol harapan di tengah keterpurukan.
Lantunan Ayat Suci Mengisi Keheningan
Di tengah suasana desa yang masih dalam tahap pemulihan, kegiatan mengaji menjadi oase spiritual bagi anak-anak Kampung Uyem Beriring. Setiap malam setelah shalat Maghrib, sebuah rumah warga menjadi saksi bisu betapa kuatnya keinginan mereka untuk mendekatkan diri kepada agama. Lantunan ayat suci Al Quran terdengar mengisi keheningan malam, membawa ketenangan di tengah hiruk pikuk pemulihan.
Seorang ustadz dengan penuh kesabaran membimbing anak-anak, mengajarkan mereka cara membaca Al Quran dengan tajwid yang benar. Suara merdu sang ustadz diikuti oleh teriakan semangat belasan anak yang mencoba menirukan, terutama saat melafalkan Surah Al Fatihah. Momen ini memperlihatkan dedikasi para pengajar dan antusiasme tinggi dari para murid.
Kontras antara suara lantunan ayat suci dan kerik serangga dari hutan sekitar menciptakan suasana yang khusyuk namun juga penuh kehangatan. Ini bukan hanya sekadar kegiatan belajar, melainkan juga bentuk dukungan moral dan penguatan mental bagi anak-anak yang terdampak bencana. Semangat mengaji Gayo Lues ini menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan agama dalam kondisi apapun.
Upaya Pemulihan dan Dukungan Komunitas
Pemerintah dan berbagai pihak terus mengupayakan pemulihan wilayah Kampung Uyem Beriring pasca-bencana. Fokus utama adalah mengembalikan infrastruktur dasar dan memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak. Upaya ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pembangunan fisik hingga pemulihan psikologis.
Salah satu langkah konkret adalah pembangunan jembatan darurat yang dilakukan oleh Komandan Peleton Konstruksi Bangunan dari Yonif TP 855, Letda CZI M. Ragil. Jembatan ini ditargetkan rampung dalam pekan ini untuk mempermudah mobilisasi masyarakat yang sempat terhambat. Pembangunan ini krusial untuk memulihkan akses dan aktivitas ekonomi warga.
Selain itu, Yonif TP 855 juga melaksanakan program trauma healing bagi anak-anak kecil di desa tersebut. Letda CZI M. Ragil menjelaskan bahwa mereka mengajarkan berbagai kegiatan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma pasca-bencana. Program ini menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan mental anak-anak, memastikan mereka dapat pulih secara fisik dan psikis.
Sumber: AntaraNews