Prajurit TNI AD Kobarkan Semangat Pemulihan Gayo Lues dengan Kembang Api
Prajurit TNI AD memberikan dukungan moril kepada penyintas bencana di Gayo Lues melalui pertunjukan kembang api, menandai perpisahan sementara setelah tiga bulan membantu pemulihan dan mengobarkan semangat Pemulihan Gayo Lues.
Prajurit TNI AD dari Satgas Gelombang Bencana (Gulbencal) Yonif TP 855/Raksaka Dharma baru-baru ini menghibur warga penyintas banjir bandang di Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Kegiatan ini dilakukan dengan menyalakan kembang api sebagai bentuk dukungan moril bagi masyarakat setempat. Momen ini menjadi simbol kebersamaan dan harapan di tengah upaya pemulihan pascabencana.
Acara yang berlangsung pada Senin malam, 16 Maret, di posko satgas, merupakan bagian dari perpisahan sementara dengan masyarakat. Lettu Infanteri Al Ziz, Komandan BKO Gulbencal Desa Tetingi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar masyarakat tetap semangat. Mereka juga diharapkan terus meningkatkan solidaritas untuk bangkit bersama setelah musibah.
Setelah sekitar tiga bulan bertugas membantu penanganan bencana, 26 prajurit TNI AD ini akan menjalani masa libur. Namun, mereka akan kembali untuk melanjutkan pendampingan hingga 23 Maret 2026. Kehadiran mereka telah memberikan dampak positif dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Desa Tetingi, mendukung semangat Pemulihan Gayo Lues.
Peran Vital Satgas TNI AD dalam Pemulihan Gayo Lues
Selama tiga bulan bertugas, 26 prajurit TNI AD yang tergabung dalam Satgas Gulbencal ini terlibat aktif dalam berbagai upaya penanganan pascabencana. Mereka membantu membersihkan bangunan sekolah dari material kayu dan lumpur yang terbawa banjir bandang. Upaya ini sangat krusial untuk memastikan fasilitas pendidikan dapat segera digunakan kembali.
Selain itu, prajurit juga menyiapkan posko pengungsian yang layak bagi warga terdampak. Mereka bahkan membangun masjid darurat, menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Desa Tetingi sendiri terletak di dataran tinggi Gayo Lues, dipisahkan oleh aliran Sungai Tripe, menjadikannya rentan terhadap bencana alam.
Suasana perpisahan antara prajurit TNI dan warga berlangsung hangat dan penuh haru di Desa Tetingi. Kembang api yang dinyalakan bersama para remaja desa bukan hanya hiburan. Lebih dari itu, kembang api menjadi simbol semangat dan dukungan dari para prajurit. Harapannya, masyarakat tetap optimistis menata kembali kehidupan mereka setelah bencana di Gayo Lues.
Tantangan dan Harapan Pemulihan di Desa Tetingi
Berdasarkan pendataan pemerintah desa, Desa Tetingi dihuni oleh 133 kepala keluarga dengan total 418 jiwa. Seluruhnya terdampak langsung oleh banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025. Bencana ini menyebabkan kerusakan signifikan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas umum, termasuk kantor desa.
Kerusakan infrastruktur dan permukiman membutuhkan proses pemulihan yang komprehensif. Proses ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan aparat TNI. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi di desa tersebut.
Para prajurit TNI AD dijadwalkan menjalani masa libur selama enam hari dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026. Setelah masa libur berakhir, mereka direncanakan kembali bertugas di Desa Tetingi. Kehadiran mereka akan melanjutkan pendampingan kepada masyarakat terdampak bencana hingga 23 Maret 2026. Dukungan berkelanjutan ini diharapkan dapat memperkuat semangat Pemulihan Gayo Lues.
Sumber: AntaraNews