Tahukah Anda? STQH Nasional ke-28 di Kendari Jadi Momentum Cetak Generasi Qurani Peduli Lingkungan
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan STQH Nasional ke-28 di Kendari bukan hanya ajang spiritual, tetapi juga momentum penting mencetak generasi Qurani unggul yang peduli lingkungan dan berdaya saing global.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar secara resmi membuka perhelatan Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadis (STQH) Nasional ke-28 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Acara pembukaan berlangsung pada Sabtu malam, 11 Oktober, menandai dimulainya kompetisi keagamaan berskala nasional ini. Menag Umar menyebut STQH sebagai wasilah spiritual untuk menyemai generasi Qurani dan Hadis yang unggul, tangguh, dan berdaya saing di tengah tantangan global.
Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menekankan pentingnya ajang ini dalam mencetak generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Tema besar STQH tahun ini, "Syiar Al-Qur'an dan Hadis, Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan," menjadi landasan utama. Tema ini dipilih sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan sosial dan tantangan ekologis yang dihadapi bangsa.
Perhelatan akbar ini diharapkan dapat menumbuhkan cinta pada wahyu ilahi sekaligus menyemai semangat ekoteologis di kalangan peserta dan masyarakat luas. Konsep ekoteologis mengajarkan bahwa mencintai bumi adalah bagian dari iman. Merawat lingkungan merupakan bentuk zikir sosial yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan Hadis memiliki pesan keseimbangan dan keadilan ekologis.
STQH sebagai Pilar Generasi Qurani Berkarakter Lingkungan
Penyelenggaraan STQH Nasional ke-28 ini tidak hanya berfokus pada penumbuhan cinta terhadap wahyu, tetapi juga secara aktif menyemai semangat ekoteologis. Menag Nasaruddin Umar menjelaskan, "Ekoteologis adalah kesadaran bahwa mencintai bumi adalah bagian daripada iman dan merawat lingkungan adalah bentuk zikir sosial." Hal ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap alam merupakan manifestasi keimanan yang mendalam.
Dalam setiap ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang alam, selalu terselip pesan keseimbangan dan keadilan ekologis. Oleh karena itu, mencintai Al-Qur'an berarti juga mencintai bumi dan sesama makhluk hidup. STQH Nasional menjadi platform penting untuk menginternalisasi nilai-nilai ini, membentuk generasi Qurani yang tidak hanya fasih membaca dan menghafal, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi.
Tema "Syiar Al-Qur'an dan Hadis, Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan" sangat relevan di tengah tantangan global saat ini. Melalui ajang ini, diharapkan muncul generasi yang menjadikan Al-Qur'an dan Hadis sebagai pedoman hidup. Mereka akan menjadi agen perubahan yang mempromosikan harmoni sosial dan keberlanjutan lingkungan. Ini adalah upaya nyata dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ilahi dan kemanusiaan.
Peran Penghafal Al-Qur'an dan Hadis di Era Disrupsi
Di tengah era disrupsi yang penuh ketidakpastian, kehadiran para penghafal Al-Qur'an dan Hadis menjadi sangat krusial. Menag Nasaruddin Umar menyebut mereka sebagai "oase spiritual dan penjaga nilai," serta "cahaya di tengah kabut zaman." Keberadaan mereka memberikan arah dan panduan moral bagi masyarakat yang semakin kompleks. Mereka adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya.
Kebutuhan akan generasi Qurani ini tidak terbatas pada ruang ibadah semata. Kita membutuhkan mereka di setiap lini kehidupan, mulai dari lingkungan sekolah dan tempat kerja, hingga di ruang pengambilan kebijakan. Bahkan, peran mereka sangat vital di media massa dan ekosistem digital. Kehadiran mereka diharapkan dapat menjaga arah bangsa ini agar tetap berada di jalan yang adil, beradab, dan berakhlak mulia.
Para penghafal Al-Qur'an dan Hadis memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin yang berintegritas dan visioner. Dengan pemahaman mendalam terhadap ajaran agama, mereka dapat memberikan kontribusi positif dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial. STQH Nasional berperan penting dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi generasi ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
STQH dalam Pembangunan SDM dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal
STQH Nasional merupakan bagian integral dari upaya pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dicanangkan dalam Nawa Cita Presiden RI. Secara spesifik, ajang ini sejalan dengan Cita Keempat yang berfokus pada penguatan pembangunan manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Selain itu, STQH juga mendukung Cita Kedelapan untuk memperkuat toleransi antarumat beragama, menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kementerian Agama memiliki visi agar Al-Qur'an dan Hadis tidak hanya hidup di ruang ibadah, tetapi menjadi sumber nilai dalam membangun masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah yang merangkul keberagaman, menjunjung tinggi persaudaraan, dan menjamin keadilan bagi semua lapisan. STQH Nasional menjadi sarana efektif untuk mewujudkan visi tersebut, menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain aspek spiritual dan sosial, Kementerian Agama juga berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal melalui STQH. Berbagai kegiatan seperti pameran UMKM, bazar rakyat, dan penjualan produk-produk lokal diselenggarakan secara bersamaan. Ini adalah bentuk nyata sinergi antara spiritualitas dan pemberdayaan ekonomi. "Sebab kita percaya, keberkahan wahyu tidak hanya menghidupkan jiwa, tetapi juga harus menjelma menjadi kesejahteraan umat di bumi," tambah Menag Nasaruddin Umar.
Melalui inisiatif ini, STQH tidak hanya menjadi ajang kompetisi keagamaan, tetapi juga motor penggerak ekonomi kerakyatan. Partisipasi aktif masyarakat dan pelaku UMKM diharapkan dapat meningkatkan pendapatan lokal. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat bersinergi dengan pembangunan ekonomi. Hal ini menciptakan dampak positif yang luas bagi kesejahteraan umat dan kemajuan daerah.
Sumber: AntaraNews