Launching MQK Internasional, Menag Ingin Santri Ponpes Tak Hanya Pandai Baca Kitab Kuning Tapi juga Kitab Putih
Menag membuka Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Internasional di Pondok Pesantren As'adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan
Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar membuka Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Internasional di Pondok Pesantren As'adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (2/10). Menag Nasaruddin berharap santri ponpes tidak hanya pintar membaca kita kuning, tetapi juga kitab putih.
Nasaruddin mengatakan santri ponpes memang diharuskan untuk menguasai kitab kuning atau turas. Ia menyebut kitab turas inilah yang memberikan ruhul Islam, yang membentuk karakter kebangsaan.
"Pondok Pesantren di Indonesia ini dikenal semenjak abad ke-14. Berarti dunia pendidikan yang tersistematis itu, lahir di bumi Indonesia, itu dilahirkan oleh pondok pesantren. Seandainya tidak ada kecelakaan sejarah, di mana komunitas Islam pada waktu itu kalah secara politik, maka tentu kita akan menemukan universitas yang terkemuka," ujarnya.
"Mungkin bukan UGM, bukan ITB, bukan IPB, dan bukan Perguruan Tinggi Umum yang lain. Mungkin yang kita temukan adalah Universitas Lirboyo, Universitas Darul Ulum yang ada di Jombang, dan Universitas As'adiyah," imbuhnya.
Nasaruddin mendorong agar ponpes tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga kita putih. Ia menyebut kitab putih menyangkut soal sosial, politik, dan sains.
"Pondok Pesantren di mana pun juga berada harus cerdas, bukan hanya asyik membaca kitab kuning, kitab turats, tapi juga seharusnya punya kemampuan untuk membaca kitab-kitab putih. Kitab-kitab yang menyangkut masalah sosiologi, kitab-kitab politik, dan kitab-kitab sains, dan seterusnya," tuturnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengatakan perubahan iklim lebih mematikan daripada perang.
“Jika perang menelan 67 ribu korban jiwa per tahun, maka perubahan iklim telah merenggut hingga empat juta jiwa per tahun. Ini jumlah yang sangat besar dan harus menjadi perhatian kita," ungkapnya.
Perubahan iklim yang terjadi, lanjut Menag, disebabkan karena adanya perilaku manusia yang tidak sepantasnya dalam memperlakukan alam.
"Di sinilah perlunya bahasa agama mengambil peran," kata Menag.
Di MQK Internasional ini, Menag berharap pembahasan ajaran-ajaran agama tentang menjaga alam dapat dilakukan.
“Mari kita eksplorasi ajaran turats tentang pelestarian lingkungan. Kini saatnya Kemenag mensponsori apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni kerjasama antara manusia, alam, dan Tuhan,” sebutnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno menyampaikan bahwa MQK tahun ini menghadirkan tiga hal penting. Pertama, MQK untuk pertama kali digelar di level internasional dengan melibatkan negara-negara ASEAN. Kedua, seluruh mekanisme pelaksanaan berbasis digital, mulai dari seleksi, input nilai, hingga penyediaan teks kitab.
“Ketiga, MQK tahun ini diselenggarakan di kawasan Indonesia Timur, tepatnya di Pesantren As’adiyah Wajo,” kata Amien.