Tingkatkan Literasi Iklim, Unhas Ajak Siswa Belajar Adaptasi Perubahan Iklim Lewat Game Monopoli

Fakultas MIPA Unhas berinovasi tingkatkan literasi iklim siswa SMA melalui game Monopoli. Pendekatan ini ajak peserta aktif diskusikan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tingkatkan Literasi Iklim, Unhas Ajak Siswa Belajar Adaptasi Perubahan Iklim Lewat Game Monopoli
Tim Pengabdian Unhas mengedukasi siswa SMA di Selayar mengenai adaptasi perubahan iklim menggunakan media monopoli edukatif, meningkatkan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan. (AntaraNews)

Makassar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengadakan program edukasi adaptasi perubahan iklim bagi siswa sekolah menengah atas. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 5 Juli, dengan menggunakan metode pembelajaran partisipatif berbasis permainan Monopoli. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran generasi muda terhadap isu krusial perubahan iklim.

Saaduddin, Ketua Tim Pengajar FMIPA Unhas, menyatakan bahwa perubahan iklim memiliki dampak luas, tidak hanya pada lingkungan tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan literasi bencana sejak usia dini menjadi sangat penting. Inisiatif Unhas ini berupaya membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Program edukasi inovatif ini bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman mendalam tentang risiko dan adaptasi perubahan iklim. Melalui pendekatan yang interaktif, Unhas berharap dapat mencetak generasi yang lebih tanggap dan siap dalam menghadapi potensi bencana. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam membangun kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan lingkungan.

Perubahan iklim merupakan ancaman serius yang dapat meningkatkan risiko bencana, terutama di wilayah pesisir. Saaduddin menyoroti bahwa daerah kepulauan seperti Kabupaten Kepulauan Selayar sangat rentan terhadap dampak ini. Dampak yang dapat terjadi meliputi abrasi pantai, banjir rob, intrusi air laut, serta penurunan produktivitas di sektor perikanan, pertanian, dan berbagai usaha berbasis masyarakat.

Kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir dan kepulauan menjadikan literasi bencana sebagai kebutuhan mendesak. Pemahaman yang kuat tentang risiko-risiko ini memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengambil langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat. Pendidikan sejak dini menjadi kunci untuk membangun ketahanan komunitas terhadap ancaman perubahan iklim.

Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan badai, semakin menegaskan pentingnya pengetahuan dan kesiapsiagaan. Dengan membekali siswa dengan literasi bencana, Unhas berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih tangguh. Hal ini sejalan dengan upaya nasional dalam mengurangi kerentanan terhadap bencana alam.

Tim Unhas merancang program edukasi ini menggunakan permainan Monopoli sebagai media pembelajaran yang interaktif. Pendekatan ini dipilih agar peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga aktif berdiskusi, menganalisis situasi, dan membuat keputusan terkait risiko bencana. Game Monopoli memungkinkan simulasi skenario nyata yang melibatkan berbagai aspek perubahan iklim.

Melalui game ini, peserta didorong untuk mengenali ancaman, kerentanan, kapasitas, dan langkah-langkah adaptasi yang dapat diambil secara individu maupun kolektif. Tujuannya adalah untuk membangun pemahaman bahwa perubahan iklim sangat erat kaitannya dengan berbagai risiko yang dihadapi oleh masyarakat pesisir. Metode ini terbukti efektif dalam menarik minat dan partisipasi aktif siswa.

Game Monopoli edukasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi bencana, melatih keterampilan berpikir kritis, memperkuat pengambilan keputusan, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kolaborasi. Upaya adaptasi perubahan iklim memerlukan kerja sama dari semua elemen masyarakat. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik kolaborasi dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan literasi bencana, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-undang tersebut menekankan pentingnya pendidikan, penyadaran, dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam merespons bencana alam. Unhas aktif mendukung implementasi regulasi ini melalui program-program edukasinya.

Perubahan iklim dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas berbagai bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan sejak usia dini. Program Unhas ini menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan dapat berperan aktif dalam mempersiapkan generasi mendatang.

Angga Al Faqih, seorang siswa dari SMAN 1 Selayar, memberikan respons positif terhadap kegiatan ini. Ia menilai bahwa program tersebut memberikan pengalaman baru mengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis sains. Angga menambahkan bahwa materi yang disajikan menarik dan dikemas dalam format permainan, sehingga lebih mudah dipahami dan meningkatkan kesadarannya akan pentingnya kesiapsiagaan bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi