Sekjen Kemenag Sebut Kualitas Ulama Ditentukan Pengetahuan soal Kitab Kuning

Ia menyebut ulama dituntut untuk menjadi role model dalam moderasi beragama.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Sekjen Kemenag Sebut Kualitas Ulama Ditentukan Pengetahuan soal Kitab Kuning
Sekjen Kemenag Prof Kamaruddin Amin (merdeka.com)

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof Kamaruddin Amin menyebut tingkat kualitas ulama ditentukan dari menguasai Kutub Turats atau kitab kuning. Hal tersebut disampaikan Kamaruddin saat dialog dalam rangka Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Internasional di Hotel Sallo, Kabupaten Wajo, Jumat (3/10).

"Keulamaan kita atau tingkat kualitas ulama seseorang menurut kami sangat ditentukan oleh kualitas, kedalaman, dan keluasan terhadap Kutub Turats atau Kitab Kuning," ujarnya.

Ia menyebut ulama dituntut untuk menjadi role model dalam moderasi beragama, memastikan bahwa pemahaman agama yang bersumber dari tradisi keilmuan menghasilkan kedamaian sosial.

“Ulama ini memiliki kewajiban untuk menjadi role model (teladan) bagi para murid dan santrinya, bagaimana menciptakan kehidupan yang rukun di tengah keberagaman bangsa Indonesia," tuturnya.

Sekjen Kemenag Prof Kamaruddin Amin (Baju putih)
Sekjen Kemenag Prof Kamaruddin Amin (Baju putih) merdeka.com

Oleh karena itu, Kamaruddin berharap pondok pesantren di Indonesia untuk terus mengajarkan dan mendalami kitab kuning. Bahkan, Kamaruddin berharap momen MQK bisa memperkenalkan tradisi Islam di Indonesia.

"MQK ini sebagai bentuk ikhtiar kita juga untuk sesungguhnya memperkenalkan tradisi artikulasi akademik pesantren dilaksanakan di Indonesia. Sehingga mudah-mudahan bisa menginspirasi dan juga menjadi rujukan bagi tradisi akedemik di seluruh dunia, khususnya di Asia Tenggara," kata dia.

Kamaruddin menyebut kitab kuning sangat penting dalam akademik pesantren. Alasannya, Kitab Kuning sebagai manifestasi keberagaman.

"Jadi kitab kuning ini sangat penting sekali, karena menjadi dasar artikulasi atau implementasi, bahkan manifestasi keberagamaan kita," kata Kamaruddin.

Ia menyoroti kondisi unik etnis Indonesia yang merupakan bangsa yang paling majemuk dan paling plural.

“Secara etnis dan keberagaman, bisa dibilang kita itu sangat plural dan majemuk, namun situasinya sangat aman dan damai. Kita harus bisa menjadi kiblat kehidupan beragama, yang mencerminkan kedamaian dan kerukunan," ucapnya.

Rekomendasi