Antusiasme Warga STQH Nasional di Bumi Anoa Sultra: Bukti Gema Al Quran dan Hadis yang Luar Biasa

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, terkesima dengan antusiasme warga yang memadati STQH Nasional ke-28 di Kendari, membuktikan gema Al Quran dan Hadis di Bumi Anoa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Antusiasme Warga STQH Nasional di Bumi Anoa Sultra: Bukti Gema Al Quran dan Hadis yang Luar Biasa
Gubernur Sultra terkejut dengan antusiasme warga di STQH Nasional ke-28, bukti nyata gema Al-Quran dan Hadis. Apa makna di balik keramaian ini? (AntaraNews)

Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, menyatakan kekagumannya terhadap antusiasme warga yang membanjiri perhelatan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Nasional ke-28. Acara akbar ini berlangsung di Kendari, ibu kota Provinsi Sultra, dan menarik perhatian ribuan masyarakat setiap malamnya. Kehadiran massa yang luar biasa ini menjadi indikasi kuat gema Al Quran dan Hadis di Bumi Anoa.

Andi Sumangerukka secara pribadi mengaku tidak menyangka akan tingginya animo masyarakat yang menyaksikan kegiatan keagamaan ini. "Terus terang saya tidak menyangka bahwa setiap malam penyelenggaraan kegiatan ini saya hadir dan bahkan menerima laporan bahwa antusias masyarakat Sulawesi Tenggara begitu hebat, bahkan lapangan ini dipenuhi oleh mereka yang menyaksikan lantunan itu," ujarnya. Setiap malam, kawasan eks MTQ Kendari, sebagai venue utama, dipenuhi oleh lautan massa.

Keberhasilan Sultra menjadi tuan rumah STQH Nasional ke-28 ini tidak hanya menjadi kebanggaan daerah. Lebih dari itu, acara ini berhasil menyatukan semangat keagamaan dan kebangsaan, di mana ayat-ayat suci Al Quran dan Hadis bergema di seluruh penjuru kota. Gubernur berharap semangat ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi semua pihak.

Gubernur Andi Sumangerukka menegaskan bahwa STQH Nasional ke-28 memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar ajang seleksi. Kompetisi ini bukan hanya untuk mencari pembaca atau penghafal Al Quran dan Hadis terbaik. Melainkan, merupakan manifestasi syiar Islam yang bertujuan menyebarkan keindahan, kedamaian, dan kasih sayang di tengah masyarakat.

Tema yang diusung pada STQH Nasional kali ini, "Si'ar Al-Qur'an dan Hadits, Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan", juga memiliki makna yang sangat mendalam. Tema ini relevan dengan kondisi sosial dan lingkungan saat ini. Pesan kerukunan dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi inti dari perhelatan akbar ini.

Meskipun STQH Nasional ke-28 telah berakhir, Andi berharap semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak berhenti. Masyarakat diimbau untuk terus menanamkan kecintaan kepada Al Quran dan Hadis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini penting untuk membentuk karakter bangsa yang religius dan toleran.

Pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap STQH Nasional ini dapat melahirkan generasi yang qurani. Generasi ini diharapkan tidak hanya pandai membaca dan menghafal Al Quran. Namun juga mampu mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi qurani yang dicita-citakan adalah mereka yang berakhlak mulia, mencintai kedamaian, dan peduli terhadap lingkungan. Mereka diharapkan menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, daerah, dan bangsa. Nilai-nilai ini menjadi pondasi penting bagi pembangunan karakter bangsa.

Andi Sumangerukka juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pemerintah pusat. Khususnya Kementerian Agama dan Kemenko PMK, atas kepercayaan yang diberikan kepada Sultra. Kepercayaan ini menjadikan Provinsi Sultra sebagai tuan rumah STQH Nasional 2025.

Gubernur Sultra turut menyampaikan ucapan selamat kepada para kafilah yang telah meraih apresiasi dalam ajang STQH Nasional. Ia menekankan bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal peringkat atau piala yang diraih. Melainkan tentang sejauh mana nilai-nilai Al Quran dan Hadis diterapkan dalam kehidupan.

Penerapan nilai-nilai ini tercermin dalam sikap, tutur kata, dan perbuatan sehari-hari setiap individu. Hal ini menjadi indikator utama keberhasilan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Oleh karena itu, integritas dan moralitas menjadi lebih penting daripada sekadar prestasi kompetisi.

Bagi kafilah yang belum berhasil meraih juara, Andi Sumangerukka berpesan agar tidak berkecil hati. Setiap usaha yang dilakukan untuk memuliakan Al Quran adalah kemuliaan itu sendiri. Ia mendorong mereka untuk terus belajar, berdakwah, dan menjadi pembawa cahaya Al Quran bagi masyarakat luas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi