Sosok Yurike Sanger dan Kehidupan Cintanya dengan Soekarno
Yurike Sanger, istri ketujuh Soekarno, memiliki kisah cinta yang menarik dan penuh liku hingga akhir hayatnya.
Kisah cinta antara Soekarno dan Yurike Sanger menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah Indonesia. Pertemuan mereka terjadi pada tahun 1963, saat Yurike masih berstatus pelajar. Soekarno, yang saat itu menjabat sebagai Presiden, jatuh cinta pada pandangan pertama dan mengajak Yurike berbincang setelah acara kenegaraan.
Pada tahun 1964, keduanya resmi menikah secara diam-diam. Meskipun terpisah usia 44 tahun, cinta mereka tetap bertahan di tengah gejolak politik yang melanda Indonesia. Namun, pernikahan ini tidak berlangsung lama dan berakhir pada tahun 1968. Yurike Sanger meninggal dunia di Amerika Serikat pada 17 September 2025, meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga dan sejarah bangsa.
Yurike Sanger lahir pada 22 Mei 1945 di Poso, Sulawesi Tengah. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang dan penuh kasih, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Kehidupannya berubah drastis setelah bertemu Soekarno, yang mengubahnya menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Pertemuan Pertama dan Awal Cinta
Pertemuan pertama Yurike Sanger dengan Soekarno terjadi pada tahun 1963. Saat itu, Yurike berusia sekitar 18 tahun dan merupakan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Soekarno hadir dalam acara kenegaraan dan langsung tertarik pada Yurike. Ia memanggilnya dan mengajak berbincang, bahkan menawarkan untuk mengantarnya pulang.
Dalam perjalanan pulang, Soekarno meminta Yurike memanggilnya "mas" dan membicarakan masa depan. Ia bahkan melontarkan tawaran pernikahan dengan mengatakan, "Adiklah, istri yang terakhir." Momen ini menjadi awal dari hubungan mereka yang semakin dekat.
Lamaran dan Pernikahan
Setelah hubungan mereka semakin serius, Soekarno melamar Yurike pada tahun 1964. Meskipun orang tua Yurike sempat ragu karena perbedaan usia yang signifikan, mereka akhirnya memberikan restu. Pernikahan mereka dilangsungkan secara diam-diam pada 6 Agustus 1964, hanya dihadiri oleh keluarga dekat.
Yurike yang semula beragama Kristen memutuskan untuk menjadi mualaf demi pernikahan tersebut. Meskipun pernikahan ini berlangsung dalam suasana politik yang tidak stabil, Yurike tetap setia mendampingi Soekarno.
Dinamika Pernikahan dan Akhir Hubungan
Pernikahan Yurike dan Soekarno berlangsung dalam situasi yang sulit. Mereka tidak dikaruniai anak, dan meskipun Yurike sempat hamil, bayinya lahir prematur. Soekarno kemudian menikah lagi dengan Heldy Djafar pada 1966, dan pernikahan dengan Yurike berakhir pada tahun 1967 atau 1968.
Setelah bercerai, Yurike kembali memeluk agama Kristen dan menikah lagi dengan Subekti Didi. Ia kemudian pindah ke Amerika Serikat, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya hingga meninggal dunia pada 17 September 2025.
Kabar Duka dan Pemulangan Jenazah
Kabar duka mengenai meninggalnya Yurike Sanger disampaikan oleh putranya, Yudhi Sanger. Ia meninggal dunia di San Gorgonio Memorial Hospital, California, akibat kanker payudara. Kementerian Luar Negeri RI telah berkoordinasi dengan keluarga untuk memulangkan jenazahnya ke Indonesia.
Jenazah Yurike direncanakan akan dibawa ke Rumah Duka di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk disemayamkan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan mereka yang mengenangnya sebagai bagian dari sejarah Indonesia.
"KJRI Los Angeles membantu proses pemulangan jenazah ke Indonesia berkoordinasi dengan pihak mortuary dan otoritas di AS," kata Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, Jumat (19/9).
Menurut Judha, pihak otoritas di California sedang memproses surat keterangan kematian (death certificate), yang merupakan dokumen penting untuk memulai proses repatriasi jenazah.KJRI juga telah menjalin komunikasi dengan keluarga Yurike Sanger yang berada di San Bernardino, California.
"Pihak keluarga telah menunjuk pihak mortuary untuk proses pemulasaraan jenazah," ujar Judha.