Siswa Nakal Digembleng di Barak TNI Tak Bisa Sembarangan Dijenguk Orangtua, Ini Jadwalnya
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengatakan, selama menjalani kegiatan di barak tidak boleh sering dijenguk
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) telah melakukan pembinaan terhadap siswa bermasalah di wilayahnya. Pelaksanaan sejak 2 Mei 2025 ini dilakukan di barak militer.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengatakan, selama menjalani kegiatan di barak para siswa tidak boleh sering dijenguk orangtuanya. Karena memang sudah ada waktunya.
"Boleh (dijenguk), tapi ada waktunya kan. Itu di weekend di akhir minggu, Sabtu atau Minggu. Itu waktu weekend, tapi ada jamnya kan diatur jamnya, jam berapa, yang atur dari tempat pelatihannya jadwalnya," kata Wahyu saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (3/5).
Ia menjelaskan, para siswa dijenguk saat akhir pekan saja karena agar mereka bisa fokus dalam menjalani pendidikan.
"Dijenguknya setiap weekend, kan biar fokus, supaya fokus pendidikannya. Karena kan merubah karakter, terus menanamkan disiplin, sudah gitu menanamkan leadership, terus penyuluhan-penyuluhan tadi, kan juga enggak bisa tepat kan," jelasnya.
"Terganggu dengan jadwal-jadwal kunjungan yang mungkin tidak diatur dengan baik mungkin menjadi tidak efektif. Makanya, kunjungannya di akhir minggu," pungkasnya.
Usulan Dedi Mulyadi
Sebelumnya, rencana Dedi Mulyadi "menyekolahkan" siswa bermasalah di Jabar agar dididik di barak militer sempat ramai jadi perbincangan.
Dedi menyebut, agenda ini merupakan bagian dari pendidikan karakter yang akan mulai dijalankan di beberapa wilayah di Jawa Barat dengan bekerja sama bersama TNI dan Polri.
"Tidak harus langsung di 27 kabupaten/kota. Kita mulai dari daerah yang siap dan dianggap rawan terlebih dahulu, lalu bertahap," ujar Dedi dalam keterangan di Bandung mengutip dari laman antaranews (2/5).
Dedi mengungkapkan tiap siswa akan mengikuti program itu di sekitar 30 hingga 40 barak khusus yang telah disiapkan oleh TNI. Peserta program dipilih berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan orangtua.
Program ini diprioritaskan pada siswa yang sulit dibina atau terindikasi terlibat dalam pergaulan bebas maupun tindakan kriminal, untuk diikutkan program pembinaan yang akan berlangsung enam bulan per siswa.
"Selama enam bulan siswa akan dibina di barak dan tidak mengikuti sekolah formal. TNI yang akan menjemput langsung siswa ke rumah untuk dibina karakter dan perilakunya," kata Dedi.
Pembiayaan program akan dilakukan melalui kolaborasi antara Pemprov Jabar dan pemerintah kabupaten/kota yang terlibat.