Ribuan Warga Padati Pantai Seger Buru Nyale, Tradisi Bau Nyale Lestarikan Budaya dan Kembangkan Pariwisata
Ribuan masyarakat memadati Pantai Seger dan sekitarnya di Lombok Tengah untuk berburu nyale, cacing laut jelmaan Putri Mandalika, dalam puncak tradisi Bau Nyale yang diharapkan mampu melestarikan budaya dan mendongkrak pariwisata daerah.
Ribuan masyarakat dari berbagai wilayah, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, memadati area pesisir Pantai Seger hingga dekat Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kedatangan mereka bertujuan untuk mengikuti puncak tradisi Bau Nyale yang berlangsung pada dini hari 7-8 Februari 2026. Mereka berbondong-bondong turun ke laut untuk menangkap nyale, cacing laut yang diyakini sebagai jelmaan legenda Putri Mandalika.
Para pemburu nyale mulai berdatangan sejak sore hari sebelumnya hingga Sabtu malam (7/2) dan Minggu (8/2) dini hari. Dengan membawa perlengkapan seperti jaring, ember, dan lampu senter, mereka siap menyusuri pantai sebelum matahari terbit. Aktivitas perburuan nyale ini menjadi daya tarik utama dalam perayaan budaya tahunan yang sangat dinantikan oleh masyarakat setempat dan wisatawan.
Meskipun antusiasme tinggi, hasil tangkapan nyale dilaporkan tidak sebanyak yang diharapkan oleh beberapa warga. Koko, seorang warga asal Cakranegara Kota Mataram, mengungkapkan bahwa nyale yang keluar hari itu sedikit. Ia juga menambahkan bahwa mencari nyale memerlukan ketekunan dan kejelian karena kondisi gelap dan tidak semudah yang terlihat di media sosial.
Antusiasme Pemburu Nyale di Tengah Tantangan
Puncak perburuan nyale di Pantai Seger menarik ribuan orang yang datang dari berbagai daerah. Mereka rela menunggu hingga dini hari untuk menangkap cacing laut yang memiliki nilai budaya dan spiritual tinggi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perburuan nyale membutuhkan usaha ekstra.
Koko, salah satu pemburu nyale, menceritakan pengalamannya yang sulit dalam mencari nyale. Ia hanya mendapatkan sedikit nyale setelah tiga jam mencari, jauh dari harapannya untuk bisa mengisi satu ember penuh. Kondisi gelap dan jumlah nyale yang tidak melimpah menjadi tantangan tersendiri bagi para pemburu.
Tradisi ini bukan hanya tentang menangkap nyale, tetapi juga tentang pengalaman dan pelestarian budaya. Meskipun tantangan dalam perburuan, semangat masyarakat untuk melestarikan tradisi tetap tinggi. Mereka percaya bahwa nyale membawa berkah dan mengajarkan nilai-nilai pengorbanan.
Bau Nyale: Tradisi Budaya dan Potensi Pariwisata NTB
Gubernur NTB Lalu M Iqbal menekankan pentingnya melestarikan tradisi Bau Nyale sebagai kearifan lokal yang mengajarkan pengorbanan demi kepentingan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa hujan yang mengguyur malam puncak Bau Nyale diharapkan membawa berkah untuk masyarakat dalam mewujudkan NTB Makmur Mendunia. Tradisi ini menjadi simbol kekayaan budaya yang dimiliki Nusa Tenggara Barat.
Senada dengan Gubernur, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melestarikan budaya Bau Nyale. Bupati meyakini bahwa semua acara pendukung (side event) Bau Nyale dilaksanakan untuk memperkuat pengembangan budaya dan mendukung promosi pariwisata. Pengembangan budaya ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat secara signifikan.
Pemerintah daerah melihat Bau Nyale sebagai aset penting dalam sektor pariwisata. Dengan terus melestarikan dan mempromosikan tradisi ini, Lombok Tengah dapat menarik lebih banyak wisatawan. Hal ini pada gilirannya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal, menciptakan peluang bagi UMKM, dan memperkenalkan kekayaan budaya NTB ke kancah nasional maupun internasional.
Puncak Perayaan Berdasarkan Sangkap Warige
Penentuan waktu puncak Bau Nyale dilakukan berdasarkan hasil sangkap warige, yaitu musyawarah para tokoh adat setempat. Untuk tahun ini, puncak perayaan disepakati jatuh pada tanggal 7-8 Februari 2026. Penetapan tanggal ini memastikan bahwa perayaan dilakukan sesuai dengan perhitungan dan kepercayaan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Keputusan ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal masih memegang peranan penting dalam penyelenggaraan acara budaya. Keterlibatan tokoh adat dalam menentukan jadwal puncak Bau Nyale memastikan bahwa tradisi ini tetap berjalan sesuai dengan pakemnya. Hal ini juga memperkuat identitas budaya masyarakat Lombok Tengah.
Melalui proses sangkap warige, tradisi Bau Nyale tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ini adalah wujud nyata dari upaya kolektif untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Sumber: AntaraNews