Ribuan orang memadati Pantai Seger di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk mengikuti tradisi Bau Nyale. Ritual penangkapan cacing laut ini merupakan perwujudan kepercayaan akan reinkarnasi Putri Mandalika, yang telah menjadi denyut nadi budaya dan penggerak ekonomi penting bagi masyarakat setempat. Acara tahunan ini, yang biasanya berlangsung antara Februari dan Maret, tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas lokal.
Bau Nyale kini tidak lagi berdiri sendiri sebagai festival budaya semata, melainkan telah terintegrasi dalam lanskap pariwisata yang lebih luas. Kawasan Mandalika kini menjadi tuan rumah bagi Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, yang memiliki kontrak MotoGP hingga tahun 2031, serta berbagai inisiatif pariwisata olahraga lainnya. Integrasi ini bertujuan untuk menciptakan strategi keberlanjutan bagi pariwisata NTB, menggabungkan warisan budaya dengan daya tarik modern.
Pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan berupaya menyeimbangkan pelestarian tradisi dengan pengembangan pariwisata modern. Tujuannya adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari acara berskala internasional tidak mengikis nilai-nilai budaya lokal. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat Lombok, sekaligus menjaga keunikan identitas Mandalika.
Advertisement
Advertisement
Fondasi Ekonomi dan Budaya Mandalika
Bau Nyale, yang berpusat di Pantai Seger dalam KEK Mandalika, tidak hanya melibatkan penangkapan cacing laut, tetapi juga serangkaian acara pendukung. Festival ini dimeriahkan dengan pemilihan Putri Mandalika, Karnaval Seribu Putri Mandalika, dan berbagai pertunjukan seni tradisional yang kaya akan makna. Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menegaskan pentingnya Pantai Seger sebagai ruang bagi masyarakat untuk melestarikan tradisi Bau Nyale dan mendukung pariwisata berkelanjutan.
Tradisi Bau Nyale lebih dari sekadar daya tarik tahunan; ia adalah bagian integral dari identitas masyarakat Lombok Tengah. Pemerintah daerah bertekad memastikan bahwa pengembangan KEK Mandalika terus memprioritaskan budaya lokal, karena pelestarian tradisi diyakini dapat memperkuat ekonomi setempat. Selama puncak acara Bau Nyale, terjadi peningkatan signifikan pada tingkat hunian hotel di sekitar Mandalika dan wilayah sekitarnya.
Para pelaku usaha kecil, mulai dari penjual makanan hingga perajin suvenir, mengalami lonjakan pendapatan yang signifikan berkat acara ini. Momentum ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi mesin penggerak ekonomi yang kuat. Namun, dampak ekonomi musiman saja tidak cukup, sehingga tantangan utamanya adalah mengintegrasikan Bau Nyale ke dalam kalender acara pariwisata nasional tanpa menghilangkan nilai-nilai budayanya.
Advertisement
Keseimbangan menjadi kunci, di mana tradisi tidak boleh direduksi menjadi sekadar tontonan, melainkan harus tetap menjadi identitas hidup bagi masyarakat Sasak Lombok. Pada saat yang sama, tradisi ini harus diberikan ruang untuk bertransformasi dalam konteks ekonomi modern.
Advertisement
Potensi Wisata Olahraga dan Diversifikasi Mandalika
Sejak tahun 2022, ajang MotoGP di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika telah menjadi ikon nasional pariwisata olahraga. Pemerintah Indonesia memposisikan acara ini sebagai bagian dari program strategis nasional yang bertujuan untuk meningkatkan investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Eksposur global yang dihasilkan oleh MotoGP sangat signifikan, dengan jutaan penonton menyaksikan Mandalika melalui siaran internasional dan platform digital.
Meskipun kontrak MotoGP berlangsung hingga 2031, ketergantungan berlebihan pada satu acara besar berisiko menciptakan ketidakseimbangan ekonomi setelah perhatian global beralih. Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menekankan perlunya diversifikasi agenda pariwisata daerah. “Kita tidak boleh hanya bergantung pada satu acara. MotoGP memang memberikan dampak signifikan, tetapi Mandalika harus tetap hidup sepanjang tahun,” ujarnya.
Untuk mencapai hal ini, tradisi budaya seperti Bau Nyale dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi strategi utama untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Bau Nyale dan berbagai acara pendukungnya berfungsi sebagai pilar penting. Contohnya, Bhayangkara Riding Day 2026 yang diselenggarakan oleh kepolisian, menarik sekitar 3.500 pengendara motor dari berbagai daerah, tidak hanya sebagai ajang otomotif tetapi juga kampanye keselamatan jalan dan penggalangan dana kemanusiaan.
Advertisement
Model ini menunjukkan integrasi olahraga, solidaritas sosial, dan promosi destinasi. Wisata olahraga tidak selalu harus diwujudkan melalui acara kelas dunia; ia bisa berupa pertemuan komunitas, lari santai, acara triatlon, atau festival bersepeda yang menyatu dengan lanskap budaya. Pengalaman dari daerah lain, seperti Bali dan Yogyakarta, menunjukkan bahwa diversifikasi acara adalah kunci keberlanjutan, dan Mandalika memiliki potensi serupa dengan keunggulan pantai, perbukitan, dan tradisi uniknya.
Advertisement
Arah Kebijakan dan Keberlanjutan Pariwisata Mandalika
Pengembangan Mandalika memerlukan upaya lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Provinsi NTB, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), pemerintah daerah, asosiasi pariwisata, dan masyarakat lokal. Isu-isu seperti konektivitas, ketersediaan hotel, pengelolaan lahan, dan kualitas layanan masih menjadi tantangan yang harus diatasi secara kolektif. Aspek lingkungan juga tidak boleh diabaikan, mengingat Bau Nyale berlangsung di ekosistem pesisir yang rapuh.
Lonjakan pengunjung berpotensi meningkatkan sampah dan menekan habitat laut. Tanpa pengelolaan yang tepat, tradisi yang lahir dari penghormatan terhadap alam justru bisa merusaknya. Oleh karena itu, pendekatan pariwisata berkelanjutan harus menjadi prinsip dasar. Ini memerlukan langkah-langkah konkret seperti edukasi pengunjung, penetapan zona penangkapan, pengelolaan sampah terpadu, dan pelibatan aktif kelompok sadar wisata lokal.
Peningkatan kapasitas UMKM lokal juga krusial untuk memastikan manfaat ekonomi berdampak optimal bagi daerah. Pelatihan manajemen bisnis, akses pembiayaan, dan pemasaran digital dapat memperkuat daya saing pelaku lokal. Dengan demikian, pertumbuhan tidak hanya menjadi angka makroekonomi, tetapi juga menciptakan dampak nyata pada rumah tangga lokal. Mandalika berada di persimpangan jalan penting, memiliki sirkuit kelas dunia sekaligus rumah bagi legenda yang mengakar kuat.
Advertisement
Masa depan Mandalika tidak hanya akan ditentukan oleh seberapa cepat sepeda motor melaju di sirkuit, tetapi oleh seberapa dalam ia menghormati akar budayanya. Antara aroma laut dan deru mesin balap terhampar sebuah pilihan penting. Ini adalah keputusan yang akan menentukan masa depan Mandalika: apakah ia hanya menjadi daya tarik sementara atau menjadi fondasi abadi bagi kemakmuran masyarakat lokal.
Sumber: AntaraNews