Puan Tekankan Reformasi Pendidikan Nasional di Tengah Krisis Literasi Siswa SMP
Puan menegaskan, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian angka, namun harus memastikan kualitas pemahaman siswa.
Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti fenomena siswa SMP di sejumlah daerah yang tidak bisa membaca dan menulis dengan lancar. Ia menilai kondisi ini sebagai krisis literasi yang harus segera ditangani melalui misi pendidikan yang terintegrasi dengan arah pembangunan nasional.
"Jika anak-anak naik kelas tanpa kemampuan membaca yang cukup, kita berisiko membangun masa depan yang kokoh di atas fondasi yang belum memadai. Ini bukan soal menyalahkan, melainkan memastikan bahwa sistem pendidikan kita memiliki dasar yang kuat untuk mendukung pencapaian visi 2045," kata Puan, Kamis (17/7/2025).
Dalam rapat Komisi X DPR dengan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, terungkap adanya siswa kelas 1-2 SMP di Serang, Banten yang belum bisa baca tulis, bahkan kesulitan menulis ‘Indonesia Raya’. Kondisi serupa juga terjadi di Buleleng, Bali ada 155 siswa tergolong tidak bisa membaca, sementara 208 siswa tidak lancar membaca.
Puan menegaskan, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian angka, namun harus memastikan kualitas pemahaman siswa. Ia mendorong keterlibatan aktif guru, orang tua, dan komunitas sekolah dalam pemantauan literasi dan numerisasi.
"Pendidikan harus lebih dari sekadar angka. Kita perlu sistem yang tidak hanya mengukur capaian, tetapi juga memastikan kualitas pemahaman siswa," tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi misi pendidikan dalam arah pembangunan nasional, dengan menjadikan kualitas pendidikan dasar sebagai prioritas.
"Misi pendidikan harus terintegrasi dengan arah pembangunan nasional, memastikan bahwa kualitas pendidikan dasar tidak lagi menjadi titik lemah dalam peta pembangunan sumber daya manusia Indonesia," ungkap Puan.
Puan memastikan DPR berkomitmen menjalankan peran pengawasan dan legislasi guna mendorong reformasi pendidikan nasional yang adil dan adaptif.
"Tidak boleh ada lagi anak Indonesia yang tertinggal dalam hal kemampuan dasar. Setiap potensi anak harus diberi ruang untuk tumbuh maksimal dalam ekosistem pendidikan yang berkualitas," tutup Puan.