Ratusan Siswa SMP di Bali Tak Bisa Baca, Begini Respons Gubenur Koster
Padahal, kemampuan membaca seharusnya sudah tuntas sejak siswa duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Gubenur Bali, I Wayan Koster menanggapi soal ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, Bali tidak bisa membaca dengan lancar. Padahal, kemampuan membaca seharusnya sudah tuntas sejak siswa duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Koster mengatakan, hal tersebut sudah ditangani oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra.
"Sudah ditangani oleh bapak bupati," singkat Koster usai mengikuti Rapat Paripurna di Gedung DPRD Bali, di Denpasar, Selasa (15/4).
Di tempat yang sama, Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya atau dikenal Dewa Jack mengatakan, pihaknya belum mengetahui soal adanya ratusan siswa SMP di Buleleng belum lancar membaca. Dia memastikan akan segera berkoordinasi dengan Bupati Buleleng.
"Belum (mengetahui soal itu). Kami baru mendengar hari ini. Mohon maaf saya akan koordinasikan dengan Bupati Buleleng secepatnya nanti," katanya.
Dewa Jack juga mengaku akan mengecek kebenaran kondisi tersebut ke Dinas Pendidikan di Bali. Dia berharap bahwa persoalan ratusan siswa SMP yang belum lancar membaca hanya terjadi di Kabupaten Buleleng dan tidak di daerah lainnya di Bali.
"Mudah-mudahan hanya di Buleleng saja," ujarnya.
Literasi Siswa Rendah
Sebelumnya, Ketua Dewan Pendidikan Buleleng I Made Sedana mengungkapkan fenomena itu menunjukkan rendahnya literasi siswa. Dia menyarankan agar Disdikpora melakukan pemetaan untuk memastikan kebutuhan masing-masing siswa.
"Apakah berkebutuhan khusus atau bagaimana. Selain itu, pola mengajar guru juga harus dicermati, apakah sistem administrasi menyebabkan guru sibuk dan abai dalam melakukan pengajaran," ujar Sedana, Senin (14/4).
Sementara itu, Plt Kepala Disdikpora Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengungkapkan jumlah siswa SMP di daerah itu mencapai 34.062 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 155 siswa masuk dalam kategori tidak bisa membaca (TBM) dan 208 siswa masuk kategori tidak lancar membaca (TLM).
Ariadi membeberkan beberapa penyebab siswa tidak lancar membaca. Antara lain kurangnya motivasi, pembelajaran tidak tuntas, disleksia, disabilitas, dan kurangnya dukungan keluarga.
Adapun faktor eksternal lainnya yakni efek jangka panjang pembelajaran jarak jauh (PJJ), kesenjangan literasi dari jenjang SD, pemahaman keliru tentang kurikulum, kekhawatiran tenaga pendidik terhadap ancaman hukum dan stigma sosial, hingga faktor keluarga yang menyebabkan psikologis siswa terganggu.
"Misalnya siswa memiliki trauma di masa kecil akibat kekerasan rumah tangga, perceraian, atau kehilangan anggota keluarga. Atau korban perundungan," kata Ariadi.