Puluhan Pelajar SMP di Tabanan Kurang Lancar Membaca
Dinas Pendidikan Tabanan membuat tim di tingkat kabupaten untuk melakukan monitoring maupun tim di tingkat sekolah-sekolah untuk penguatan literasi dan numerasi
Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan, Bali mencatat 23 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) belum lancar membaca. Puluhan siswa belum lancar membaca itu dari sekolah swasta maupun negeri di Kabupaten Tabanan, Bali.
"Jadi di data kami ada 23 (siswa) bukan tidak bisa membaca, jadi kurang lancar membaca," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Ngurah Darma Utama saat dikonfirmasi, Kamis (15/5).
Penanganan Dinas Pendidikan
Darma mengatakan, saat ini sistem pendidikan inklusi dan anak-anak yang membutuhkan pelayanan di tingkat pendidikan harus diterima terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.
"Kan tidak mesti dia masuk di sekolah luar biasa. Kecuali dengan kebutuhan khusus yang permanen, contohnya disleksia (kesulitan membaca menulis dan mengeja). Jadi tentu ini ada penanganan khusus, karena kita juga memiliki guru inklusi, yang menangani terhadap itu," ujar Darma.
Sementara untuk menangani pelajar SMP belum lancar membaca, Dinas Pendidikan Tabanan telah membuat tim di tingkat kabupaten untuk melakukan monitoring maupun tim di tingkat sekolah-sekolah untuk penguatan literasi dan numerasi.
"Jadi anak-anak yang ketinggalan termasuk ketertinggalan urusan membaca belum lancar. Tentunya kami melakukan pendampingan oleh tim itu. Tapi tetap di jenjang pendidikan dasar berproses," ujar Darma.
Kemudian di luar itu, secara fungsional ada guru inklusi melakukan pendampingan. Sedangkan apabila ada siswa ketertinggalan belajar akibat dari kekerasan terhadap anak, baik kekerasan verbal dan non verbal, serta bullying dan lain sebagainya serta anak-anak bermasalah.
"Kita punya tim penanganan kekerasan di satuan pendidikan sekolah dan juga tim penanganan di tingkat kabupaten. Dan itu yang menangani 23 orang ini," ujar Darma.
Faktor Penyebab Puluhan Pelajar Belum Lancar Membaca
Darma menyebutkan, dari 23 siswa SMP di Tabanan yang belum lancar membaca itu dari sekolah swasta maupun negeri. Saat ini telah dilakukan pendampingan guru-guru pilihan di sekolah.
"(23 siswa itu) dari negeri dan swasta itu hasil dari assessment setiap tahun. Kita pantau dan kita melakukan pendampingan, kalau di level sekolah ada guru-guru pilihan yang mendampingi khusus memberikan pembelajaran tambahan di luar pembelajaran reguler," ujar dia.
Dia juga menyatakan bahwa para siswa SMP di Tabanan yang belum lancar membaca yang paling banyak karena faktor disleksia. Faktor disleksia itu sebagian kecil dari 12 ribu lebih siswa di jenjang pendidikan dasar SD, SMP.
"Targetnya kita kan mereka bisa membaca lebih dari membaca mengeja. Kalau tingkatan membaca itu kan ada bisa membaca dengan cara mengeja, bisa membaca lancar dan bisa membaca profesional," kata Darma.