Polda Bali dan Densus 88 Ingatkan Bahaya Radikalisme Digital, Ajak Masyarakat Perkuat Benteng Digital
Polda Bali bersama Densus 88 Antiteror Polri mengajak masyarakat mewaspadai penyebaran paham radikalisme digital yang semakin masif, menekankan pentingnya kesadaran kolektif demi keamanan dan ketertiban di Bali.
Kepolisian Daerah Bali bersama Densus 88 Antiteror Polri secara proaktif mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai bahaya penyebaran paham radikalisme digital. Peringatan ini disampaikan mengingat radikalisme kini semakin masif memanfaatkan ruang digital dan media sosial sebagai sarana propaganda. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama dalam menangkal ancaman tersebut demi menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat di Pulau Dewata.
Sosialisasi yang melibatkan berbagai komunitas di Denpasar, Bali, pada Sabtu, 20 Juni, menjadi momentum penting. Acara ini menekankan urgensi kolaborasi antara aparat keamanan dan elemen masyarakat. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan digital yang aman dari pengaruh negatif paham radikal yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Bali, Kombes Pol. Suwandi Prihantoro, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi informasi membawa banyak manfaat, namun juga menyimpan ancaman serius. Kemudahan akses internet seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan paham radikal, ujaran kebencian, hingga informasi bohong. Hal ini secara langsung dapat mengancam keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia.
Ancaman Radikalisme di Ruang Digital
Perkembangan teknologi informasi memang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses informasi dan berkomunikasi. Namun, kemudahan ini juga menjadi celah bagi penyebaran paham radikal yang berbahaya. Kelompok penyebar paham radikal kini lebih banyak menggunakan media sosial sebagai sarana utama propaganda dan perekrutan anggota baru.
Anak-anak, remaja, serta pengguna internet yang kurang kritis menjadi kelompok yang sangat rentan terpapar paham radikal. Mereka cenderung mudah menerima informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, sehingga rentan termakan narasi menyesatkan. Ujaran kebencian dan informasi bohong atau hoaks yang disebarkan melalui platform digital juga berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Kombes Pol. Suwandi Prihantoro menegaskan, “Saat ini, internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi juga menyimpan ancaman nyata. Salah satu yang harus kita waspadai bersama adalah penyebaran paham radikal melalui dunia maya.” Pernyataan ini menggarisbawahi betapa pentingnya kewaspadaan kolektif terhadap ancaman radikalisme digital.
Peran Komunitas dan Pembangunan Benteng Digital
Polda Bali sangat menekankan pentingnya peran komunitas dalam memperkuat ketahanan sosial di tengah masyarakat. Komunitas dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan yang efektif. Mereka dapat membantu menyebarkan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kebangsaan di lingkungan masing-masing, sehingga dapat membentengi masyarakat dari pengaruh radikalisme digital.
“Polri tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Komunitas adalah mitra strategis dan ujung tombak dalam menjaga Bali tetap aman, damai, dan harmonis,” kata Suwandi. Pernyataan ini menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci dalam upaya pencegahan. Partisipasi aktif komunitas sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif.
Dalam kegiatan sosialisasi, peserta juga diajak untuk membangun “Benteng Digital” melalui penggunaan internet secara bijak, cerdas, dan bertanggung jawab. Masyarakat diimbau untuk selalu menyaring informasi sebelum membagikannya, melawan hoaks dengan menyebarkan konten positif, serta segera melaporkan akun atau kelompok yang terindikasi menyebarkan paham radikal kepada pihak berwenang. Langkah-langkah ini krusial untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan aman.
Sinergi Menjaga Keamanan dan Harmoni Bali
Keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan fondasi penting bagi Bali, terutama sebagai destinasi wisata dunia yang sangat bergantung pada citra damai dan harmonis. Oleh karena itu, sinergi yang kuat antara Polri, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan. Kolaborasi ini bertujuan untuk menjaga situasi tetap kondusif dan mencegah timbulnya potensi konflik.
Kegiatan sosialisasi juga diisi dengan dialog interaktif yang membahas berbagai persoalan terkait keamanan digital dan penyebaran informasi menyesatkan. Diskusi ini juga mencakup langkah-langkah konkret pencegahan radikalisme di lingkungan masyarakat. Pendekatan dialogis diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi aktif dari seluruh peserta.
Melalui kolaborasi yang erat, Polda Bali mengharapkan upaya pencegahan radikalisme dan penguatan literasi digital dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, Bali dapat terus menjadi daerah yang aman, damai, serta menjunjung tinggi nilai toleransi dan kerukunan. Hal ini penting untuk keberlangsungan pariwisata dan kehidupan sosial yang harmonis di Bali.
Sumber: AntaraNews