Pertolongan Pertama saat Keracunan Makanan, Wajib Diketahui
Orang tua dan tenaga pendidik juga dinilai belum bisa memberikan pertolongan pertama saat terjadi keracunan pada anak.
Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini marak terjadi diberbagai daerah. Kondisi ini memicu keprihatinan banyak pihak.
Sayangnya orang tua dan tenaga pendidik belum dibekali pengetahuan cukup mengenai perbedaan alergi dan keracunan makanan dalam penanganan keracunan ini. Orang tua dan tenaga pendidik juga dinilai belum bisa memberikan pertolongan pertama saat terjadi keracunan pada anak.
Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Tri Wibawa menjelaskan soal perbedaan antara alergi dan keracunan makanan, agar masyarakat dapat mengambil langkah pertolongan pertama yang tepat ketika gejala muncul.
Tri Wibowo menyebut alergi makanan dan keracunan makanan memiliki penyebab dan mekanisme yang sangat berbeda. Deteksi awal apakah alergi makanan atau keracunan makanan disebut Tri Wibowo penting untuk penanganan awal.
"Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi dapat menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan yang memicu asma, hingga gangguan pencernaan," kata Tri Wibowo, Jumat (10/10).
Tri Wibowo memaparkan dalam beberapa kasus, reaksi alergi dapat berujung pada kondisi yang mengancam jiwa yang dikenal sebagai anafilaksis. Sementara itu, keracunan makanan bukan disebabkan oleh reaksi sistem imun, melainkan akibat masuknya kuman atau zat berbahaya dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi.
"Keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti sakit perut, muntah, dan diare, yang muncul beberapa jam hingga hari setelah mengonsumsi makanan tersebut," ungkap Tri Wibowo.
Tri Wibowo menjabarkan sebagian besar kasus keracunan bersifat ringan dan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berakibat serius jika tidak segera ditangani.
Namun pada kasus keracunan, ia menyebutkan bahwa bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E. coli) memiliki mekanisme yang berbeda dalam menyebabkan keracunan makanan.
"Salmonella patogenik dapat bertahan dari asam lambung dan menyerang mukosa usus, memicu peradangan serta luka pada dinding usus. Sedangkan E. coli penghasil toksin Shiga (Shiga toxin-producing E. coli / STEC) dapat menyebabkan penyakit tular makanan yang parah," terang Tri Wibowo.
"Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya," imbuh Tri Wibowo.
Tri Wibowo menekankan pentingnya penanganan pertama yang cepat dan tepat ketika siswa menunjukkan gejala keracunan makanan. Penanganan pertama ini jadi kunci untuk menjaga kondisi anak yang keracunan.
"Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi," ungkap Tri Wibowo.
Lakukan Ini Jika Timbul Gejala
Dosen Mikrobiologi Klinik ini menyarankan agar penderita banyak minum air putih atau cairan dengan suplemen elektrolit.
"Jika muntah masih terjadi, minumlah sedikit demi sedikit. Dan jika kondisi memburuk segera cari pertolongan dari petugas kesehatan," urai Tri Wibowo.
Tri Wibowo menuturkan tidak menutup kemungkinan gejala demam yang mungkin muncul saat keracunan merupakan mekanisme alami tubuh dalam melawan infeksi. Peningkatan suhu tubuh membantu memperlambat pertumbuhan bakteri serta mengoptimalkan kerja sistem imun.
"Demam membantu mengendalikan infeksi dengan memberi tekanan panas pada patogen dan meningkatkan efektivitas sistem kekebalan tubuh," ucap Tri Wibowo.
Meski begitu, untuk mencegah terjadinya keracunan Tri Wibowo mengingatkan bahwa pengawasan ketat terhadap seluruh rantai produksi makanan MBG sangat penting, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.
"Setiap tahap proses dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal," tegas Tri Wibowo.
Tri Wibowo berpesan bahwa pemahaman masyarakat terhadap perbedaan antara alergi dan keracunan, serta upaya preventif terjadinya keracunan makanan merupakan kunci untuk mencegah risiko fatal.
"Kata kuncinya adalah menjaga mutu bahan dan proses, menaati standar kebersihan, dan segera bertindak tepat ketika gejala muncul," pungkas Tri Wibowo.