Pencarian Penerjun Hilang di Perairan Pangandaran Terus Berlanjut
Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap Widiasih, seorang penerjun yang hilang usai terjatuh di Perairan Bojongsalawe, Pangandaran, saat mengikuti Kejurda Terjun Payung.
Tim SAR gabungan hingga kini masih intensif melakukan pencarian terhadap seorang penerjun yang dilaporkan hilang di perairan Bojongsalawe, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Insiden ini terjadi saat kegiatan Kejuaraan Daerah (Kejurda) Terjun Payung berlangsung, memicu respons cepat dari berbagai elemen penyelamat. Pencarian difokuskan untuk menemukan Widiasih (58), warga Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, yang terjatuh pada Selasa (30/12) siang dan belum ditemukan hingga Rabu (31/12).
Peristiwa nahas ini bermula ketika lima penerjun payung lepas landas dari Bandara Nusawiru menggunakan pesawat latih Fly School Ganesha Cessna 185 PK-SRC. Namun, pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, terjadi perubahan arah angin yang signifikan. Kondisi cuaca ekstrem ini menyebabkan kelima penerjun kehilangan kendali dan arah pendaratan, sehingga mereka terjatuh di perairan.
Akibat insiden tersebut, satu orang penerjun bernama Rusli (kelahiran Medan, 7 Oktober 1961) dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, tiga penerjun lainnya, yakni Karni (56), Mustofa (56), dan Khuldori (54), berhasil mendarat dengan selamat meskipun tidak di lokasi yang ditentukan. Fokus utama saat ini adalah operasi pencarian penerjun Pangandaran, Widiasih, yang masih dinyatakan hilang.
Kronologi Insiden Terjun Payung di Pangandaran
Kejuaraan Daerah Terjun Payung yang diselenggarakan di Pangandaran pada Selasa (30/12) sekitar pukul 10.15 WIB berubah menjadi tragedi. Lima penerjun yang berpartisipasi dalam ajang tersebut memulai penerbangan dari Bandara Nusawiru menggunakan pesawat latih jenis Fly School Ganesha Cessna 185 PK-SRC untuk mencapai ketinggian yang diperlukan sebelum melakukan terjun payung.
Namun, saat berada di ketinggian sekitar 10.000 kaki, kondisi cuaca di lokasi tiba-tiba memburuk. Perubahan arah angin yang sangat signifikan dan tidak terduga terjadi, menyebabkan para penerjun menghadapi situasi kritis. Angin kencang ini membuat mereka kesulitan mengendalikan parasut dan menentukan arah pendaratan yang aman.
Akibatnya, kelima penerjun tersebut kehilangan kendali dan terjatuh di Perairan Laut Bojongsalawe. Dari lima penerjun, satu di antaranya, Rusli, ditemukan meninggal dunia. Tiga penerjun lainnya, Karni, Mustofa, dan Khuldori, beruntung dapat mendarat dengan selamat, meskipun di luar area pendaratan yang telah ditetapkan. Operasi pencarian penerjun Pangandaran, Widiasih, menjadi prioritas utama setelah insiden ini.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan Tim SAR Gabungan
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menyatakan bahwa operasi pencarian penerjun Pangandaran, Widiasih, telah dimulai sejak Rabu (31/12) pukul 07.00 WIB. Tim SAR gabungan dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) untuk memaksimalkan upaya pencarian. SRU 1 bertugas melakukan penyisiran ke tengah lautan menggunakan waverunner dan perahu, mencakup area jatuhnya korban.
Sementara itu, SRU 2 fokus pada penyisiran di area pantai. Mereka menyisir perbatasan Bojongsalawe dan Batukaras sejauh 3,25 kilometer. Selain itu, tim juga memanfaatkan teknologi drone thermal UAV untuk melakukan pemantauan udara di sekitar lokasi kejadian, berharap dapat mendeteksi keberadaan korban dari ketinggian.
Tim gabungan ini melibatkan berbagai instansi, termasuk jajaran Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan), Polres Pangandaran, Satuan Polairud, TNI, serta tim kesehatan dan instansi terkait lainnya. Koordinasi yang erat antarpihak diharapkan dapat mempercepat proses pencarian dan menemukan Widiasih secepat mungkin. Upaya pencarian penerjun Pangandaran ini menunjukkan komitmen serius dari aparat untuk keselamatan.
Imbauan Keselamatan dan Koordinasi Kegiatan Ekstrem
Menanggapi insiden ini, Kepala Kepolisian Resor Pangandaran, AKBP Andri Kurniawan, menegaskan bahwa kegiatan terjun payung tersebut telah dihentikan sementara hingga waktu yang belum ditentukan. Pihak kepolisian juga menyoroti fakta bahwa Kejuaraan Daerah Provinsi Jawa Barat ini tidak diberitahukan sebelumnya kepada Polres Pangandaran, sebuah pelanggaran prosedur yang serius.
AKBP Andri Kurniawan mengimbau seluruh pihak penyelenggara kegiatan olahraga ekstrem maupun wisata udara untuk selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat. Koordinasi ini krusial untuk memastikan aspek keselamatan dan kesiapan dalam menghadapi potensi risiko. Selain itu, penyelenggara juga wajib memperhatikan faktor keselamatan dan kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur dan kondisi lapangan menjadi pelajaran berharga dari insiden ini. Pencegahan kejadian serupa di masa mendatang dapat dilakukan dengan meningkatkan pengawasan, edukasi keselamatan, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Insiden pencarian penerjun Pangandaran ini menjadi pengingat akan risiko dalam olahraga ekstrem.
Sumber: AntaraNews