Kronologi Prajurit TNI Gugur saat Aksi Terjun Payung Jelang HUT ke-80 TNI

Diketahui, Zaenal menghembuskan napas terakhirnya saat melaksanakan operasi terjun payung.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Kronologi Prajurit TNI Gugur saat Aksi Terjun Payung Jelang HUT ke-80 TNI
Kronologi Prajurit TNI Gugur saat Aksi Terjun Payung Jelang HUT ke-80 TNI (Merdeka.com)

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah menceritakan kisahnya yang sempat hampir meninggal dunia saat mengalami kejadian seperti Praka Marinir Zaenal Mutaqim, anggota Detasemen Intai Para Amfibi 1 (Denipam 1) Marinir.

Diketahui, Zaenal menghembuskan napas terakhirnya saat melaksanakan operasi terjun payung. Awalnya, ia menjelaskan, kasus yang menimpa anggota TNI tersebut dalam perayaan HUT ke-80 TNI.

"Jadi memang dua hal yang berbeda dari kasus yang laka di laut sama yang laka penyiapan HUT ke-80 TNI itu berbeda. Yang pertama di laut itu, itu apa itu, murni proses, proses pada pada saat exit dari pesawat kemudian opening parasut, kemudian terjadilah tabrakan," kata Freddy kepada wartawan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Kamis (9/10).

Kemudian, jenderal bintang dua ini mengungkapkan yang hampir tewas saat mengalami insiden tersebut. "Saya pribadi pernah merasakan itu, di pangkat mayor saya pernah seperti itu dan pernah nyaris meninggal. Mungkin enggak jadi Kapuspen pada saat itu, dengan kejadian yang sama," ujarnya.

"Jadi di penerjunan itu mungkin dari setiap penerjunan pasti ada beberapa drop yang penerjunnya itu saling bertabrakan di udara," sambungnya.

Kemudian, faktor lainnya yakni penerjun itu bisa saling bertabrakan dengan penerjun lainnya.

"Kadang itu karena karena leveling pada saat pencabutannya bersamaan, kemudian bisa juga karena faktor begitu dia exit habis itu spin, sehingga nabrak penerjun yang lainnya. Jadi ada beberapa faktornya," tegasnya.

"Dan beruntungnya memang pada saat yang laka laut itu Almarhum sempat mencabut parasutnya," tambahnya.

Sehingga, beberapa kejadian lainnya yaitu tidak sempat mencabut parasut karena blackout. "Jadi ada beberapa kejadian yang tidak sempat mencabut parasut karena blackout, begitu tabrakan, blackout, enggak bisa nyabut parasut sampai darat sampai laut," ucapnya.

"Tapi yang kemarin almarhum sempat nyabut, kemudian mendarat di laut, kondisi pada saat itu sadar tapi memang kondisi yang ngigau seperti itu," tambahnya.

Ia pun memastikan, jika TNI akan terus melakukan evaluasi agar tidak terulang kembali kejadian serupa. "Itu akan terus dievaluasi, akan terus dievaluasi dari sisi keterampilan, kemampuan, kemudian teknis yang tadi sampaikan SOP-nya itu," ungkapnya.

Meski begitu, semua aksi unjuk keterampilan kemampuan yang dilakukan prajurit memiliki tingkat resiko yang begitu tinggi.

Seperti kita lihat sendiri, baik yang melaksanakan sailing pass di laut dengan sekian puluh alutsista kapal perang, kemudian rangkaian pesawat terbang helikopter dan unjuk kebolehan di laut itu memiliki resiko yang tinggi, termasuk pada tahapan persiapan," pungkasnya.

Rekomendasi