Pemprov Sulteng Perkuat Slogan Dua Anak Lebih Sehat untuk Keluarga Berkualitas dan Cegah Stunting
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) gencar mendorong slogan “Dua Anak Lebih Sehat” sebagai upaya memperkuat kesadaran keluarga berencana, sekaligus menekan angka stunting di wilayahnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) secara aktif menggalakkan slogan “Dua Anak Lebih Sehat” di tengah masyarakat. Langkah ini diambil untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya program keluarga berencana (KB) di seluruh lapisan keluarga. Wakil Gubernur Sulteng, Reny A Lamadjido, menegaskan bahwa prinsip ini dapat membawa dampak positif signifikan bagi kesejahteraan anak dan keluarga.
Pernyataan tersebut disampaikan Wagub Reny saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026 di Palu pada Jumat lalu. Ia menekankan bahwa “Dua Anak Lebih Sehat” bukan hanya sekadar slogan, melainkan sebuah prinsip yang harus diterapkan. Program Bangga Kencana diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Menurut Wagub, perencanaan keluarga yang baik akan memberikan ruang lebih optimal bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Kebutuhan tersebut meliputi aspek kesehatan, pendidikan, dan gizi yang merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Dengan demikian, peluang anak untuk tumbuh sehat dan terhindar dari masalah stunting akan semakin besar.
Manfaat Prinsip Dua Anak Lebih Sehat bagi Keluarga
Penerapan prinsip “Dua Anak Lebih Sehat” dalam sebuah keluarga memiliki banyak manfaat fundamental. Keluarga dapat lebih fokus dalam mengalokasikan sumber daya untuk setiap anak, memastikan mereka mendapatkan perhatian dan perawatan yang maksimal. Hal ini mencakup pemenuhan gizi seimbang, akses terhadap layanan kesehatan yang memadai, serta kesempatan pendidikan yang lebih baik.
Dengan jumlah anak yang terencana, orang tua cenderung memiliki waktu dan energi lebih untuk berinteraksi dan mendidik anak-anak mereka. Kualitas interaksi ini sangat penting untuk perkembangan kognitif dan emosional anak. Lingkungan keluarga yang lebih teratur dan stabil juga berkontribusi pada kesehatan mental seluruh anggota keluarga.
Fokus pada dua anak juga memungkinkan keluarga untuk mencapai stabilitas ekonomi yang lebih baik. Beban finansial yang lebih ringan akan mengurangi tekanan pada orang tua, sehingga mereka dapat menyediakan kebutuhan esensial tanpa kendala berarti. Kondisi ini secara langsung mendukung upaya pencegahan stunting, karena gizi dan kesehatan anak menjadi prioritas utama.
Integrasi Data untuk Penanganan Stunting Komprehensif
Dalam upaya pencegahan stunting, Wagub Reny meminta pengintegrasian dua instrumen pengukuran penting. Instrumen tersebut adalah Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Penggabungan data dari kedua sumber ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat dan komprehensif mengenai kondisi stunting di lapangan.
Wagub menyoroti peran krusial e-PPGBM untuk pencatatan data anak di Posyandu dan Puskesmas. Sistem ini memungkinkan pemantauan kasus stunting secara bulanan, sehingga setiap perubahan dapat terdeteksi dengan cepat. Dengan data yang terkini dan akurat, intervensi program dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran, memaksimalkan efektivitas penanganan.
Penggunaan data terintegrasi ini juga membantu pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang berbasis bukti. Identifikasi wilayah atau kelompok masyarakat dengan prevalensi stunting tinggi menjadi lebih mudah. Dengan demikian, program-program pencegahan dan penanganan dapat difokuskan pada area yang paling membutuhkan, menciptakan dampak yang lebih signifikan.
Pendekatan Holistik dalam Penilaian dan Intervensi Stunting
Wagub Reny menegaskan bahwa penilaian kasus stunting tidak boleh hanya bertumpu pada indikator tinggi badan anak. Indikator lain yang harus diperhatikan mencakup berat badan anak di bawah ideal, respons motorik yang lemah, serta kemampuan konsentrasi yang kurang. Selain itu, imunitas yang lemah sehingga anak rentan sakit juga merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan.
Pendekatan holistik ini memastikan bahwa intervensi yang diberikan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan fisik semata. Melainkan juga mencakup aspek perkembangan kognitif, motorik, dan kesehatan secara keseluruhan. Pemahaman yang mendalam tentang berbagai faktor penyebab stunting akan menghasilkan strategi penanganan yang lebih efektif.
Pentingnya kunjungan ke rumah sasaran intervensi stunting juga ditekankan, terutama bagi mereka yang jarang datang ke Posyandu atau Puskesmas. Langkah proaktif ini memastikan proses pemantauan dan pencatatan bulanan tidak terhambat. Selain itu, kunjungan rumah juga menjamin bahwa program intervensi stunting terus berjalan dan menjangkau semua anak yang membutuhkan.
Sinergi Lintas Sektor Melalui Program Unggulan
Wakil Gubernur Reny A Lamadjido memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program-program unggulan BKKBN Perwakilan Sulteng. Program-program ini sejalan dengan visi pemerintah provinsi melalui inisiatif Berani Sehat dan Berani Cerdas. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan generasi yang sehat dan cerdas.
Salah satu program yang diapresiasi adalah Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), yang merupakan wujud kolaborasi lintas sektor. Program ini melibatkan berbagai pihak untuk menanggulangi angka stunting secara bersama-sama. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta sangat penting untuk mencapai tujuan pencegahan stunting yang berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pelaksanaan program Bangga Kencana. MoU ini melibatkan BKKBN Perwakilan Sulteng dengan sejumlah mitra kerja, memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pembangunan keluarga berkualitas. Kerjasama ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target program Bangga Kencana di Sulawesi Tengah.
Sumber: AntaraNews