Mendukbangga: Program MBG Perkuat Ketahanan Gizi Keluarga, Kunci Pencegahan Stunting Nasional
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) tegaskan Program MBG vital untuk ketahanan gizi keluarga, kunci atasi stunting. Simak dampaknya!
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah konkret. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan gizi keluarga di seluruh Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam fasilitasi teknis Bangga Kencana di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (10/10). Acara itu turut dihadiri Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene.
Wihaji menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar terhadap isu gizi keluarga melalui Program MBG. Sasaran utamanya adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B). "Program ini merupakan langkah nyata memperkuat ketahanan gizi dan kesehatan keluarga Indonesia," kata Mendukbangga Wihaji dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (11/10). Ia menambahkan bahwa keluarga adalah pilar utama pembangunan bangsa.
Menurut Wihaji, jika kondisi keluarga Indonesia baik, maka negara juga akan turut berkembang dengan baik. Tugas utama Kemendukbangga/BKKBN adalah memastikan pertumbuhan penduduk yang ideal. Selain itu, lembaga ini berupaya meningkatkan kualitas keluarga Indonesia secara menyeluruh. Fokus utamanya adalah pencegahan stunting melalui kesiapan fisik dan mental calon orang tua serta pemenuhan gizi yang cukup.
Peran Strategis BKKBN dalam Penguatan Gizi dan Pencegahan Stunting
Menteri Wihaji menguraikan bahwa BKKBN memiliki mandat untuk memastikan pertumbuhan penduduk yang seimbang. Lembaga ini juga bertugas meningkatkan kualitas hidup keluarga di Indonesia. Salah satu prioritas utama adalah mengatasi masalah stunting yang masih menjadi tantangan nasional. Pencegahan stunting dimulai dari kesiapan calon orang tua.
Kesiapan tersebut mencakup aspek fisik dan mental sebelum pernikahan. Selain itu, usia pernikahan yang ideal juga menjadi faktor penting. Pemenuhan gizi yang adekuat menjadi krusial dalam setiap tahapan kehidupan. Terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak, yaitu usia 0-2 tahun.
Wihaji menekankan bahwa periode 1.000 HPK adalah masa krusial yang harus dijaga dengan optimal. Pemenuhan gizi yang tepat dan stimulasi tumbuh kembang anak sangat menentukan masa depannya. Interaksi positif dalam keluarga juga memiliki dampak signifikan. Sayangnya, kedekatan orang tua dan anak kini sering berkurang akibat aktivitas digital.
Komunikasi yang efektif dan perhatian penuh dari orang tua sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif dan emosional. Oleh karena itu, Program MBG menjadi inisiatif penting. Program ini mendukung upaya BKKBN dalam menciptakan keluarga yang berkualitas dan bebas stunting.
Dukungan DPR RI dan Peran Masyarakat dalam Gerakan Anti-Stunting
Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, turut menegaskan pentingnya peran keluarga. Keluarga menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan stunting di Indonesia. Mereka juga memiliki peran vital dalam pembentukan generasi unggul. Stunting bukan sekadar persoalan fisik semata.
Felly mengingatkan bahwa stunting menyangkut kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. "Kita harus melihat stunting sebagai persoalan bersama," ujarnya. Ia melanjutkan, "Ini bukan sekadar soal tinggi badan, melainkan tentang bagaimana anak-anak kita bisa tumbuh cerdas, sehat, dan produktif." Pernyataan ini disampaikan untuk meningkatkan kesadaran publik.
Selain keluarga, Felly juga mengapresiasi peran para guru yang hadir dalam acara tersebut. Guru memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku dan pemahaman generasi muda. Topik yang ditekankan meliputi gizi, kesehatan, dan kehidupan berkeluarga yang harmonis. "Guru bukan hanya pendidik di sekolah, melainkan juga penggerak perubahan di masyarakat," paparnya.
Dengan keteladanan dan pengetahuan yang dimiliki, para guru dapat menjadi bagian penting. Mereka bisa menggerakkan gerakan pencegahan stunting di lingkungan sekitar. Felly mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk aktif mendukung program pemerintah. Dukungan ini khususnya di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga.
"Program pencegahan stunting hanya bisa berjalan dengan baik jika ada dukungan dari semua pihak," ucap Felly Estelita Runtuwene. Dukungan tersebut mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, hingga seluruh lapisan masyarakat. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting nasional. Ini demi mewujudkan generasi penerus yang lebih berkualitas.
Sumber: AntaraNews