Pembangkit Listrik Gaza Siap Beroperasi Kembali Setelah Dua Tahun Mati
Satu-satunya Pembangkit Listrik Gaza dikabarkan akan segera beroperasi kembali setelah terhenti lebih dari dua tahun, membawa secercah harapan bagi jutaan warga yang terenggut dari pasokan energi dan layanan vital.
Gaza City, Palestina – Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza diperkirakan akan segera beroperasi kembali setelah terhenti lebih dari dua tahun. Kabar baik ini disampaikan oleh Ketua Komite Nasional Pengelolaan Gaza, Ali Shaath, pada Sabtu (24/1). Pengumuman tersebut membawa harapan besar bagi jutaan penduduk Gaza yang telah lama menderita akibat krisis energi berkepanjangan.
Operasional pembangkit listrik tersebut terhenti total sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023, diikuti dengan blokade berkepanjangan yang menghambat masuknya bahan bakar. Kondisi ini telah melumpuhkan hampir seluruh aspek kehidupan, terutama layanan vital dan rumah sakit yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Meskipun demikian, Shaath belum merinci mekanisme pemulihan listrik, tahapan teknis yang akan ditempuh, maupun jadwal pasti dimulainya kembali operasional pembangkit. Pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan pihak internasional terkait pengembangan energi surya, sekaligus berkoordinasi dengan penyedia listrik untuk memulihkan pasokan secepat mungkin.
Dampak Krisis Energi Berkepanjangan di Gaza
Sebelum agresi yang terjadi, ketersediaan listrik di Jalur Gaza sudah sangat terbatas, diperkirakan hanya sekitar 212 megawatt. Angka ini kurang dari separuh kebutuhan sekitar 500 megawatt yang diperlukan untuk memastikan pasokan listrik selama 24 jam penuh bagi seluruh wilayah. Kondisi defisit ini diperparah oleh konflik yang terus-menerus.
Selama lebih dari dua tahun konflik, infrastruktur kelistrikan Gaza menjadi sasaran utama. Kantor Media Gaza melaporkan bahwa sekitar 5.080 kilometer jaringan listrik serta 2.285 trafo distribusi listrik, baik yang berada di atas maupun di bawah tanah, telah hancur. Kerusakan masif ini menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza gelap gulita dan sangat bergantung pada generator darurat.
Total kerugian sektor kelistrikan Gaza akibat kerusakan infrastruktur ini diperkirakan mencapai sekitar 1,4 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp23,2 triliun. Angka ini mencerminkan skala kehancuran yang sangat besar dan tantangan berat dalam upaya rekonstruksi pasca-konflik.
Krisis listrik telah menimbulkan dampak yang sangat luas dan mendalam di seluruh Jalur Gaza. Rumah sakit berjuang untuk mengoperasikan peralatan medis vital, pasokan air bersih terganggu karena pompa tidak berfungsi, dan sistem sanitasi kolaps. Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan dan kesehatan yang sudah parah di wilayah tersebut.
Upaya Pemulihan dan Tantangan ke Depan
Pengumuman dari Ali Shaath sebagai Ketua Komite Nasional Pengelolaan Gaza menandai langkah awal penting menuju pemulihan infrastruktur vital. Komite ini memiliki peran krusial dalam mengkoordinasikan berbagai upaya untuk mengembalikan fungsi dasar kehidupan di Gaza, termasuk pasokan listrik.
Selain upaya perbaikan infrastruktur yang rusak, penjajakan pengembangan energi surya menjadi salah satu fokus Komite Nasional Pengelolaan Gaza. Inisiatif ini diharapkan dapat menyediakan sumber energi yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan, mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal yang rentan terhadap blokade. Koordinasi intensif dengan penyedia listrik juga terus dilakukan untuk memastikan pemulihan pasokan dapat berjalan efektif.
Meskipun ada kabar baik mengenai potensi beroperasinya kembali pembangkit listrik, tantangan besar masih membayangi. Pasokan bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit masih menjadi isu sensitif, terutama dengan adanya blokade yang belum sepenuhnya dicabut. Keamanan di lapangan juga menjadi faktor penentu, mengingat kondisi yang belum sepenuhnya stabil pasca-gencatan senjata.
Sumber: AntaraNews