Pecahkan Rekor MURI, Erros Djarot Rilis Dua Buku Autobiografi dan 'Apa Kata Sahabat' Penuh Inspirasi
Politikus dan budayawan Erros Djarot meluncurkan dua buku terbaru, 'Autobiografi Erros Djarot jilid 1' dan 'Erros Djarot Apa Kata Sahabat', yang sarat nilai kejujuran dan integritas.
Politikus dan budayawan terkemuka, Erros Djarot, baru-baru ini meluncurkan dua karya tulis terbarunya di Jakarta pada Minggu, 19 Oktober. Peluncuran ini menjadi sorotan publik karena Erros Djarot memperkenalkan "Autobiografi Erros Djarot jilid 1" dan "Erros Djarot Apa Kata Sahabat". Kedua buku ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan pelajaran berharga bagi para pembaca dari berbagai generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Erros Djarot secara tegas menyampaikan bahwa nilai-nilai fundamental seperti kejujuran, konsistensi, dan integritas menjadi inti pesan utama dalam kedua bukunya. Ia berharap agar setiap pembaca dapat mengambil hikmah dari pengalaman hidup yang telah ia abadikan dalam setiap halaman. Ini merupakan upaya untuk berbagi pemikiran dan pembelajaran dari masa lalu.
Acara peluncuran tersebut juga diwarnai dengan penyerahan penghargaan prestisius dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan ini diberikan untuk kategori "Buku Autobiografi Pertama yang Ditulis dengan Kaidah Sastra", sebuah pengakuan atas keunikan dan kualitas karya Erros Djarot. Jaya Suprana secara langsung menyerahkan penghargaan tersebut, menandai momen penting dalam dunia sastra Indonesia.
Kisah Jujur dalam Autobiografi Erros Djarot
Buku "Autobiografi Erros Djarot jilid 1" menyajikan kisah nyata yang memenuhi kaidah sastra, lengkap dengan tokoh, alur cerita, dialog, plot, imajinasi, gagasan, dan konflik. Erros Djarot mengungkapkan bahwa ia menulis buku ini setelah melalui renungan mendalam di ruang kontemplasi berhari-hari. Ia berpegang pada pijakan moral untuk menulis sejujurnya, bahkan jika isinya mungkin tidak menyenangkan bagi beberapa pihak.
Dalam autobiografinya, Erros Djarot membuka perjalanan hidupnya sejak usia sembilan tahun sebagai anak broken home dan aktivis sejak SMP. Ia juga mengisahkan perjalanan bermusiknya yang dimulai sejak SMA, termasuk proses kreatif di balik lagu "Bisikku" bersama Barong's Band. Lagu tersebut menjadi soundtrack film "Kawin Lari" dan mengantarkannya meraih Piala Citra pertamanya sebagai music director di usia 25 tahun.
Karya-karya musiknya terus berlanjut dengan proses kreatif menciptakan lagu-lagu ikonik di album "Badai Pasti Berlalu", seperti "Merpati Putih", "Pelangi", atau "Badai Pasti Berlalu", bersama Debby Nasution, Chrisye, dan Yockie Suryo Prayogo. Erros Djarot juga berhasil meraih Piala Citra keduanya sebagai music director untuk film tersebut. Perjalanan kariernya juga mencakup penyutradaraan film "Tjoet Nja' Dhien", yang memborong delapan Piala Citra pada FFI 1988, termasuk tiga untuk Erros Djarot sebagai sutradara, penulis skenario, dan cerita asli terbaik. Film ini bahkan menjadi film Indonesia pertama yang diputar di Cannes Film Festival tahun 1989.
Erros Djarot dalam Perspektif Sahabat
Selain autobiografi, Erros Djarot juga merilis buku "Erros Djarot Apa Kata Sahabat", yang berisi kesaksian dan konfirmasi dari para sahabatnya. Buku ini merupakan pelengkap penting yang memberikan perspektif eksternal terhadap tulisan Erros Djarot di buku autobiografinya. Kehadiran buku ini memperkaya narasi tentang perjalanan hidup dan pemikiran Erros Djarot.
Buku ini menghimpun tulisan dari 72 sahabat Erros Djarot, yang mencakup berbagai tokoh penting di Indonesia. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, baik agama maupun politik, namun bersatu dalam memberikan pandangan mereka tentang Erros Djarot. Keberagaman ini menunjukkan luasnya pengaruh dan koneksi Erros Djarot di berbagai kalangan masyarakat.
Beberapa nama besar yang turut berkontribusi dalam buku ini antara lain:
- Guntur Soekarnoputra
- Christine Hakim
- Slamet Rahardjo
- Mahfud M.D.
- Laksamana Sukardi
- Anies Baswedan
- Ganjar Pranowo
- Muhaimin Iskandar
- Yenny Wahid
- Susilo Bambang Yudhoyono
Erros Djarot berharap bahwa buku ini, yang menyatukan teman-teman dari berbagai perbedaan, dapat menjadi pertanda baik dan inspirasi untuk persatuan di tengah masyarakat.
Sumber: AntaraNews