PCNU Banjarmasin Kenang Sejarah Penting Muktamar NU 1936 Banjarmasin dalam Semangat Hari Santri 2025
PCNU Banjarmasin memperingati Hari Santri 2025 dengan mengenang Muktamar NU 1936 Banjarmasin, sebuah peristiwa bersejarah yang menjadi tonggak perjuangan ulama di luar Jawa.
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, baru-baru ini menggelar peringatan Hari Santri Nasional 2025. Acara ini menjadi momentum penting untuk mengenang kembali sejarah berlangsungnya Muktamar NU ke-11 pada tahun 1936 di kota tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Aminiyah Banjarmasin.
Ketua PCNU Kota Banjarmasin, Habib Ali Khaidir Al-Kaff, menyatakan bahwa peringatan ini bertujuan membangkitkan semangat warga Nahdliyyin dan pondok pesantren. Mereka diajak untuk mengingat peristiwa besar yang menjadikan Banjarmasin sebagai lokasi Muktamar NU pertama di luar Pulau Jawa. "Moga Muktamar NU bisa kembali ke Banjarmasin nantinya," ujarnya.
Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin memiliki makna historis yang mendalam, terjadi sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini menjadi bagian tak terpisahkan dari semangat perjuangan para ulama dan santri dalam upaya melepaskan diri dari belenggu penjajahan kolonial.
Sejarah Penting Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin
Muktamar Nahdlatul Ulama yang ke-11 pada tahun 1936 merupakan catatan penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Acara bersejarah tersebut berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menandai pertama kalinya Muktamar NU diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Lokasi Muktamar NU 1936 Banjarmasin ini berada di Masjid Al-Hinduan, sebuah masjid ikonik yang terletak di tepian Sungai Martapura.
Pelaksanaan Muktamar NU 1936 Banjarmasin ini tidak lepas dari peran besar seorang tokoh ulama lokal. Beliau adalah KH Abdul Kodir Hasan, yang merupakan pimpinan kedua Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Kabupaten Banjar. KH Abdul Kodir Hasan dikenal sebagai sosok yang membawa Nahdlatul Ulama pertama kali ke Tanah Borneo, memperluas jangkauan organisasi ini di luar Jawa.
Kehadiran Muktamar NU di Banjarmasin pada masa itu menunjukkan betapa kuatnya jaringan ulama dan santri di berbagai daerah. Peristiwa ini juga menegaskan komitmen NU dalam menyebarkan ajaran Islam sekaligus menyuarakan semangat kebangsaan. Mengenang Muktamar NU 1936 Banjarmasin adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu.
Peran Tokoh Ulama dan Semangat Perjuangan Kemerdekaan
KH Abdul Kodir Hasan memiliki hubungan erat dengan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. "Beliau adalah salah satu murid Hadratus Syekh KH Cholil Bangkalan, yang baru saja ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional," ucap Habib Ali Khaidir. Keterkaitan ini menunjukkan silsilah keilmuan yang kuat dan pengaruh ulama Jawa terhadap penyebaran NU di Kalimantan.
Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin menjadi simbol perjuangan para ulama dan santri dalam menghadapi penjajahan. Semangat kebangsaan dan perlawanan terhadap kolonialisme sangat terasa dalam setiap keputusan yang diambil pada Muktamar NU 1936 Banjarmasin. Para ulama tidak hanya berdakwah, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membela tanah air.
Dalam peringatan Hari Santri Nasional 2025 ini, Habib Ali Khaidir Al-Kaff juga menyoroti pentingnya meneruskan semangat perjuangan tersebut. Kegiatan peringatan juga diisi dengan pembacaan ratib yang disusun oleh Hadratus Syekh KH Cholil Bangkalan. Pembacaan ratib ini dilakukan setelah salat fardu dan hajat berjamaah, sebagai bentuk penghormatan dan pengamalan ajaran ulama.
Pesan untuk Santri dan Penguatan Akidah Ahlussunah Wal Jamaah
Habib Ali Khaidir Al-Kaff menyampaikan pesan penting kepada para santri yang hadir dalam peringatan Hari Santri Nasional 2025. Ia menekankan agar para santri terus bersemangat dalam menuntut ilmu agama. Para santri diharapkan dapat menjadi penerus perjuangan bangsa untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di masa depan.
Selain itu, para santri di pondok pesantren juga diminta untuk terus menghidupkan ajaran yang dipegang kuat oleh Nahdlatul Ulama. Ajaran tersebut adalah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang bermazhab Imam Syafii, sebuah landasan akidah yang telah lama dianut. Penguatan akidah ini menjadi benteng moral dan spiritual bagi generasi muda.
Pesan dari ulama besar daerah, KH Muhammad Zaini atau Guru Sekumpul, juga turut disampaikan. "Bahkan pesan ulama besar di daerah kita KH Muhammad Zaini atau Guru Sakumpul untuk terus menjaga akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, kita harus mentaati ini," ujarnya. Habib Ali Khaidir menegaskan bahwa pesan ulama ini harus ditaati dan diamalkan oleh seluruh warga Nahdliyyin dan santri.
Sumber: AntaraNews