Pakar Ungkap Relevansi KAA Tetap Hidup, Namun Terganjal Kepentingan Elite Global
Meski telah berusia 71 tahun, semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) dinilai tetap relevan. Namun, implementasinya kerap terhambat kepentingan elite di tengah dinamika global.
Pakar Hubungan Internasional Emir Chairullah menyatakan semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) masih sangat relevan hingga kini. Ia menyoroti bahwa nilai-nilai KAA tetap hidup meskipun usianya telah mencapai 71 tahun. Penilaian ini disampaikan saat dihubungi ANTARA di Jakarta pada Sabtu (18/4) terkait dinamika global.
Menurut Emir, relevansi KAA tidak hanya bersifat simbolis, melainkan masih menjadi rujukan penting. Namun, implementasi prinsip-prinsip KAA seringkali terhambat oleh kepentingan elite. Hal ini juga dipengaruhi oleh arah kebijakan rezim yang berkuasa di berbagai negara.
Dinamika politik global menjadi faktor utama yang mempengaruhi penerapan semangat KAA. Konflik antarnegara seringkali bukan kehendak rakyat, melainkan tarik-menarik kepentingan. Kondisi ini menciptakan tantangan besar bagi solidaritas negara-negara berkembang.
Dasasila Bandung dan Tantangan Implementasi
Dasasila Bandung, yang merupakan hasil rumusan KAA 1955, tetap menjadi pedoman krusial. Prinsip-prinsip ini mencakup penghormatan hak asasi manusia dan kedaulatan negara. Nilai-nilai ini menjadi dasar penting bagi kerja sama dan perdamaian antarnegara.
Meskipun demikian, realitas politik global seringkali berbenturan dengan implementasi Dasasila Bandung. Kepentingan nasional masing-masing negara menjadi penghalang utama. Bahkan, kepentingan elite di dalam negeri juga turut mempengaruhi.
Emir Chairullah menegaskan bahwa tidak ada warga negara yang ingin dijajah atau kehilangan sumber daya. Semua pihak menginginkan kehidupan yang lebih layak dan setara. Namun, kepentingan pimpinan negara seringkali mengesampingkan aspirasi warga.
Kolonialisme Modern dan Polarisasi Global
Konflik antarnegara, menurut Emir, bukan semata kehendak rakyat. Ia melihatnya sebagai hasil tarik-menarik kepentingan elite dan kekuatan global. Contohnya adalah perang Iran-Irak yang melibatkan aktor-aktor di baliknya.
Polarisasi global saat ini menunjukkan pola baru yang menyerupai kolonialisme modern. Eksploitasi sumber daya alam menjadi salah satu bentuk utamanya. Hal ini terjadi ketika pimpinan negara mendekatkan diri pada kekuatan Global North demi keuntungan finansial.
Beberapa kasus konkret menunjukkan adanya motif kepentingan di balik konflik. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro terkait sumber daya minyak menjadi salah satu contoh. Konflik Amerika Serikat-Israel terhadap Iran juga dinilai berkaitan dengan cadangan uranium.
Peran Indonesia dalam Menghidupkan Semangat KAA
Sebagai salah satu inisiator KAA, Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menggalang solidaritas. Terutama di antara negara-negara berkembang. Indonesia secara historis berperan dalam pembebasan dari kolonialisme.
Namun, langkah diplomasi Indonesia saat ini perlu keseimbangan yang lebih baik. Kedekatan dengan negara-negara besar adalah strategi, tetapi perlu diimbangi. Mempererat solidaritas Asia-Afrika sejalan dengan semangat KAA akan memperkuat posisi Indonesia.
Konferensi Asia Afrika sendiri digelar di Bandung pada 18–24 April 1955. Acara ini dihadiri 29 negara yang sebagian besar baru merdeka atau berjuang lepas dari kolonialisme. Lahirnya Dasasila Bandung menjadi salah satu hasil penting dari konferensi tersebut.
Sumber: AntaraNews