Dasasila Bandung: Kompas Moral Indonesia di Tengah Polarisasi Global
Dasasila Bandung, warisan Konferensi Asia Afrika 1955, kembali relevan sebagai kompas moral bagi Indonesia dan dunia di tengah polarisasi global yang kian mengancam tatanan multilateral.
Lebih dari tujuh dekade yang lalu, kota Bandung menjadi saksi bisu lahirnya sebuah visi besar yang mengusung dunia bebas dari dominasi, kesetaraan martabat, dan kedaulatan dalam menentukan nasib sendiri. Prinsip-prinsip luhur ini kemudian tertuang dalam Dasasila Bandung, sebuah deklarasi yang menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomasi global.
Prinsip-prinsip yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 tersebut, seperti menghormati kedaulatan, menolak intervensi, dan mendorong kerja sama damai, merupakan warisan diplomasi yang semakin relevan di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Polarisasi global hari ini tidak hanya terbatas pada persaingan antarnegara besar, melainkan juga menjadi ancaman nyata terhadap tatanan multilateral yang selama ini melindungi negara-negara berkembang.
Di tengah eskalasi konflik, perang dagang, dan tekanan geopolitik yang semakin keras dan agresif, nilai-nilai KAA menjadi landasan paling realistis untuk membangun solidaritas Selatan-Selatan yang bermartabat. Oleh karena itu, Dasasila Bandung kembali menemukan urgensinya sebagai kompas moral bagi bangsa-bangsa yang menolak tunduk pada satu blok kekuatan mana pun.
Relevansi Abadi Dasasila Bandung di Era Polarisasi Global
Dunia saat ini menghadapi tantangan polarisasi yang kompleks, melampaui sekadar persaingan antarnegara adidaya. Ancaman ini mengikis tatanan multilateral yang telah lama menjadi pelindung bagi negara-negara berkembang, menciptakan ketidakpastian dan ketidakstabilan. Eskalasi konflik, perang dagang, serta tekanan geopolitik yang agresif menjadi pemandangan umum dalam lanskap internasional.
Dalam konteks inilah, nilai-nilai yang terkandung dalam Dasasila Bandung menawarkan sebuah fondasi yang kokoh dan realistis. Prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi landasan untuk membangun solidaritas Selatan-Selatan yang bermartabat, di mana negara-negara berkembang dapat bersatu dan menyuarakan kepentingannya. Dasasila Bandung berfungsi sebagai kompas moral, membimbing bangsa-bangsa untuk menolak tekanan dari blok kekuatan mana pun dan mempertahankan kedaulatannya.
Dasasila Bandung adalah seperangkat prinsip yang dirumuskan untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan damai. Prinsip-prinsip ini mencakup:
- Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam Piagam PBB.
- Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
- Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
- Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam persoalan-persoalan dalam negeri negara lain.
- Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB.
- Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain.
- Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara.
- Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
- Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
- Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.
Peran Indonesia sebagai Penjaga Semangat Dasasila Bandung
Sebagai tuan rumah bersejarah Konferensi Asia Afrika, Indonesia memikul tanggung jawab moral yang besar dalam menjaga dan menyuarakan nilai-nilai Dasasila Bandung. Di masa ketika banyak negara dipaksa untuk memilih kubu, Indonesia dapat menegaskan kembali posisinya sebagai jembatan, bukan karena menghindari sikap, melainkan karena keyakinan bahwa dialog dan keadilan adalah jalan yang lebih kuat menuju perdamaian dunia.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa Indonesia akan terus menyuarakan nilai-nilai KAA yang tertuang dalam Dasasila Bandung sebagai perekat solidaritas negara berkembang dan solusi konflik global. Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A Mulachela, menyatakan bahwa diplomasi Indonesia akan terus mengusung nilai Dasasila Bandung di berbagai forum, khususnya dalam menyuarakan isu perdamaian dunia di tengah konflik global.
Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia, Syaroni Rofi’i, menambahkan bahwa Dasasila Bandung sejalan dengan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti penghormatan nilai universal, kedaulatan, dan tatanan dunia yang adil. Menurut Syaroni, “Nilai dan semangatnya tetap relevan. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengamplifikasinya menjadi gerakan moral baru di negara-negara Asia Afrika.”
Menghidupkan Kembali Semangat Bandung untuk Masa Depan
Semangat Bandung bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan sebuah pilihan sikap yang harus terus diperbarui oleh setiap generasi. Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh rivalitas kekuatan besar, Dasasila Bandung mengingatkan bahwa perdamaian bukanlah hadiah dari negara-negara kuat, melainkan hak yang harus diperjuangkan bersama oleh bangsa-bangsa yang berdaulat dan bermartabat.
Relevansi KAA 1955 tidak ditentukan oleh frekuensi penyebutannya dalam pidato, melainkan oleh sejauh mana nilai-nilainya diwujudkan dalam kebijakan nyata, seperti menolak tekanan, menjunjung keadilan, dan berani berbeda dari arus dominan. Syaroni Rofi’i menjelaskan bahwa momentum sejarah KAA sering menjadi acuan kebijakan luar negeri negara Asia Afrika, meskipun kini lebih berfokus merespons dinamika politik kawasan daripada melawan imperialisme.
Syaroni juga menekankan bahwa warisan diplomasi Asia-Afrika ini dapat dihidupkan melalui penguatan kerja sama dan kapasitas diplomasi di forum multilateral seperti PBB guna mendukung penyelesaian konflik kawasan. Indonesia, sebagai bagian penting dari KAA 1955, dapat berinisiatif menyatukan gagasan negara Asia Afrika untuk merumuskan strategi menghadapi dinamika geopolitik sekaligus berperan sebagai bagian dari solusi atas ketidakadilan global.
Pemerintah Indonesia juga perlu menggelorakan kembali semangat perjuangan bangsa, terutama generasi muda, dalam menghadapi dunia yang semakin terpecah akibat rivalitas dan keagresifan kekuatan besar. KAA dan Dasasila Bandung membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang bukan bagian dari kekuatan besar pada tahun 1955, mampu merumuskan visi perdamaian yang masih relevan hingga saat ini.
Visi tersebut semakin dibutuhkan saat multilateralisme terancam dan solidaritas antarbangsa diuji oleh kepentingan sempit kekuatan dominan. Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan blok kekuatan yang saling mengancam, melainkan ruang di mana bangsa-bangsa duduk setara, berbicara jujur, dan membangun masa depan bersama tanpa rasa takut. Semangat itu masih hidup, dan kini Indonesia sebagai salah satu penggagas KAA 1955 berkewajiban menjaganya agar tetap menyala.
Sumber: AntaraNews