Menko Yusril Prihatin Banyak Monumen Sejarah Terbengkalai: Mudah Dibangun, tapi Tak Diurus
Yusril meminta agar Memorial Living Park Rumoh bukan hanya sekadar simbol penyelesaian HAM berat Non-yudisial di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, mengkritik kondisi banyak monumen bersejarah di Indonesia yang terbengkalai usai diresmikan. Ia menekankan pentingnya perawatan monumen secara berkelanjutan, bukan sekadar seremoni peresmian.
"Sering kali kita membangun monumen dengan upacara yang meriah, tapi setelah itu dilupakan. Tidak dirawat, tidak diurus," kata Yusril di Kabupaten Pidie, Aceh.
Yusril mencontohkan kondisi Taman Amir Hamzah di Langkat, Sumatera Utara. Saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, ia menyaksikan langsung taman tersebut rusak parah dan dipenuhi kambing. Padahal taman itu dibangun untuk mengenang Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah.
"Ini mencerminkan bagaimana kita memperlakukan sejarah. Selesai dibangun, diresmikan, lalu ditinggalkan. Seolah kita melupakan nilai dan pesan yang ingin dijaga," tegasnya.
Untuk itu, dia berharap Memorial Living Park Rumoh Geudong, tempat terjadinya pelanggaran HAM berat saat era Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, bisa dirawat dengan baik.
Monumen itu dibangun di atas lahan seluas 7 hektare menghabiskan biaya Rp13,2 miliar. Terdiri dari musala, area memorial, dan tempat ziarah.
Monumen Bukan Sekadar Simbol
Yusril menekankan monumen ini harus menjadi tempat hidup yang terus dimaknai, bukan hanya sekadar simbol penyelesaian HAM berat Non-yudisial di Indonesia.
"Tempat ini harus menjadi ruang penyembuhan batin, pengingat sejarah kelam, sekaligus pelita harapan bagi masyarakat Aceh dan seluruh rakyat Indonesia. Jangan dibiarkan mati seperti monumen lainnya," ujarnya.
Pemerintah, kata Yusril, akan membahas skema pengelolaan jangka panjang bersama Pemda Aceh dan kementerian terkait, termasuk soal pembiayaan pemeliharaan.
"Mari kita rawat monumen ini sebagai bagian dari komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu," pungkasnya.