Mengecek Rumah Terakhir Alvaro, Bocah Malang Dibunuh Ayah Tiri
Panjangnya hanya sekitar satu meter lebih sedikit, kedalamannya 1,5 meter. Liang lahat itu, digali untuk seorang anak bernama Alvaro Kiano Nugroho (6).
Tanah merah itu masih basah ketika sinar matahari mulai menyengat kulit. Di antara deretan nisan abu-abu, sebuah liang lahat kecil tampak menganga.
Panjangnya hanya sekitar satu meter lebih sedikit, kedalamannya 1,5 meter. Liang lahat itu, digali untuk seorang anak bernama Alvaro Kiano Nugroho (6), yang meninggal akibat dibunuh oleh ayah tirinya sendiri.
Di dekat lubang itu berdirilah Kasuarno, tubuhnya kurus dan kulitnya kecokelatan terbakar matahari. Celana pendek lusuh dan sandal jepit menjadi seragam hariannya selama hampir setengah abad ia menjadi tukang gali kubur di tempat itu. Usianya boleh senja, tapi gerakannya masih cekatan meski punggungnya tampak tak lagi sekuat dulu.
"Itu liang untuk seorang anaknya, katanya dibunuh sama orang tuanya," kata Kasuarno saat ditemui, Rabu (26/11).
Kasuarno mulai menggali sejak Minggu. Perintah datang dari mantan ketua RW, meminta liang disiapkan sambil menunggu hasil tes DNA si bocah. Katanya, jenazah baru bisa dimakamkan jika semua proses selesai.
"Ya sudah 3 hari gali ya, yang sekarang. Tadi dari mantan RW, katanya, kalau enggak Jumat, Sabtu," ucap dia.
Di tengah pekerjaan itu, muncul permintaan keluarga agar makam Alvaro ditumpangkan pada makam omnya. Kasuarno menolak.
Aturan Tanah Wakaf
Aturan tanah wakaf melarang pembongkaran makam yang baru setahun lebih berdiri, apalagi jenazah yang masih dalam kondisi utuh. Dia keberatan memaksa membuka liang lama hanya untuk menumpangkan tulang belulang baru.
"Ya, permintaannya, itu kan katanya minta sih ditumpang sama omnya. Saya enggak berani kan, ini kan baru 1 tahun. Kalau di tanah, di tanah, tapi di wakaf itu enggak bisa 1 tahun, karena itu masih belonjor," ucap dia.
Penggali Kubur
Kasuarno sudah 49 tahun menggali kubur. Tidak ada tunjangan, tidak ada THR. Penghasilannya datang hanya ketika ada yang meninggal.
Setiap liang digarap empat orang dengan upah Rp 600 ribu, itu dibagi-bagi, sekitar Rp150 ribu per orang.
"Nah, itu resikonya jadi tukang gali. Saya minta berhenti udah lama, tapi enggak berhenti-berhenti," ujar dia.