Fenomena Cinderella Effect di Kasus Pembunuhan Alvaro Kiano oleh Ayah Tiri, Apa Artinya?
Secara naluriah dan evolusioner, makhluk hidup memiliki kecenderungan untuk melindungi keturunan yang memiliki kesamaan darah atau genetik.
Terkuaknya kasus penculikan dan pembunuhan terhadap Alvaro menyisakan duka mendalam sekaligus kekhawatiran di tengah masyarakat. Kasus ini, bersamaan dengan insiden anak yang dibakar di Bandung, menimbulkan pola serupa yaitu pelakunya adalah orang tua tiri.
Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri, menyoroti fenomena ini bukan sebagai kebetulan semata. Ia menjelaskan adanya risiko kekerasan yang lebih tinggi dalam pengasuhan keluarga tiri, yang dalam dunia psikologi dikenal sebagai Cinderella Effect.
Apa Itu Cinderella Effect?
Cinderella effect, fenomena dimana tingkat kekerasan dan penelantaran lebih tinggi terhadap anak diri, dibandingkan anak kandung
Reza menjelaskan bahwa secara naluriah dan evolusioner, makhluk hidup memiliki kecenderungan untuk melindungi keturunan yang memiliki kesamaan darah atau genetik.
Tentu, banyak orangtua tiri yang menyayangi anak tirinya dengan sepenuh hati. Pada sisi lain, riset menemukan bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga tiri ternyata punya risiko lebih tinggi untuk mengalami kekerasan.
"Itu terjelaskan oleh Cinderella Effect. Yakni, secara evolusi, makhluk hidup secara umum hanya mau mengasuh keturunan yang punya kesamaan genetik dengannya. Sebab itulah, apalagi ketika ada cekcok besar, impuls agresif menjadi lebih gampang meledak," jelas Reza saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (25/11).
Anak Jadi Korban Pelampiasan (Displacement)
Reza menganalisis bahwa dalam kasus Alvaro, anak menjadi korban dari mekanisme pertahanan diri yang disebut displacement atau pengalihan sasaran.
Ketika pelaku (orang tua tiri) menghadapi tekanan berat, baik itu masalah ekonomi atau kecemburuan pasangan, amarah tersebut tidak dilampiaskan kepada sumber masalah, melainkan kepada sosok yang paling lemah.
"Anak kecil adalah salah satu kelompok rentan. Termasuk menjadi target displacement. Apalagi pelakunya adalah orang dekat," jelas Reza.
"Jadi ketika ada konflik besar seperti ekonomi atau kecemburuan seperti di kasus Alvaro, anak kecil menjadi target utama sasaran amarah orang tua, terutama orang tua tiri," sambungnya.
Peringatan Bagi Orang Tua
Meski demikian, Reza menegaskan bahwa status "tiri" bukanlah faktor tunggal penyebab kejahatan. Ia mengakui banyak orang tua tiri yang tulus menyayangi anak sambungnya. Namun, riset ilmiah menunjukkan adanya risiko yang tidak boleh diabaikan.
Temuan ini menjadi peringatan keras (warning) bagi siapa saja yang hendak menikah kembali dan membawa anak dari pernikahan sebelumnya.
Temuan Studi
"Temuan studi ini setidaknya mengingatkan kita ada kompleksitas yang perlu disikapi secara bijak dan partisipatif ketika suami atau istri berniat menikah kembali dengan seseorang yang akan menjadi orang tua tiri bagi anak bawaannya," tutur Reza.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie