dr. Aisah Dahlan Ungkap Akar Toxic Parenting: Memori Bawah Sadar dan Otak Manusia
dr. Aisah Dahlan menjelaskan akar toxic parenting berasal dari gangguan pada otak dan memori bawah sadar, yang dipicu oleh trauma atau gangguan jiwa.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seorang ibu yang penuh kasih sayang bisa memarahi anaknya berlebihan karena hal sepele, seperti menumpahkan air? Atau mengapa pola asuh yang keras terus berulang meski orang tua tahu itu salah? Jawabannya mungkin tersembunyi di memori bawah sadar dan cara kerja otak manusia. Dalam pengajian bertajuk “Mengenal Lebih Jauh tentang Toxic Parenting” yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kementerian Keuangan pada 10 Juni 2025, Dr. Aisah Dahlan, CHt, CM.NLP, Medical Doctor, Konsultan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba, Certified Hypnotherapist, dan Praktisi Neuroparenting Skill, mengupas fenomena ini dengan pendekatan neuropsikospiritual yang memikat hati. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan mudah dicerna, beliau menjelaskan bagaimana luka masa lalu dan otak emosi membentuk pola asuh yang merusak, sekaligus menawarkan solusi praktis untuk memutus siklusnya.
Apa Itu Toxic Parenting?
Toxic parenting bukan sekadar kesalahan kecil dalam mendidik anak, melainkan pola asuh yang meninggalkan “racun” pada perkembangan mental, emosional, dan fisik anak. Dr. Aisah menjelaskan bahwa "toxic parents ini diartikan adalah orang tua yang tidak menghormati dan tidak memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu. Bayangkan sudah tidak menghormati dan dia tidak memperlakukan dengan baik."
"Dalihnya apa yang dilakukannya semata-mata karena kasih sayang. Tetapi pola asuh yang toxic itu membuat racun, jadi toxic itu racun. Pada perkembangan mental dan fisik anak," sambungnya.
Bayangkan seorang ayah yang membandingkan anaknya dengan dirinya sendiri di depan keluarga, atau seorang ibu yang memarahi anak balita karena tidak memenuhi ekspektasinya. Tindakan ini, meski kadang dianggap biasa, bisa meninggalkan luka mendalam.
"Jadi toxic ini kadang-kadang disebut juga hyper parenting, pola pengasuhan yang hyper. Jadi kasih sayangnya itu kebangetan makanya jadi over, over love sehingga kita jadi juga over tindakannya," tegas dr. Aisah.
Menurut Journal of Child and Family Studies (2020), pola asuh otoriter meningkatkan risiko depresi dan kecemasan pada anak hingga 30% lebih tinggi dibandingkan pola asuh yang mendukung. Dr. Aisah menambahkan, “dampak toxic parenting itu, anak rentan sakit dan depresi. Emosi meledak-ledak. Kehilangan waktu bermain. Sehingga tidak kreatif dan tidak ekspresif. Hubungan yang kaku dengan orang tua”. Dampak ini tidak hanya terasa saat anak kecil, tetapi bisa membayangi mereka hingga dewasa, memengaruhi cara mereka membangun hubungan.
Memori Bawah Sadar: Luka Masa Lalu
Mengapa orang tua terjebak dalam pola toxic meski berniat baik? Dr. Aisah menyoroti memori bawah sadar, tempat kenangan masa kecil tersimpan. dr. Aisah menyatakan, “Terutama punya luka memori sewaktu kita di asuh juga oleh orang tua kita sehingga perilaku kita terlalu ekstrim. Bisa jadi karena kita sering dihakimi, sering di judge, sering dimarahi, sering diabaikan. Perilaku atau pengalaman yang berulang-ulang itu menjadi subconscious mind”. Bayangkan otak sebagai perpustakaan raksasa dengan 100 miliar neuron, masing-masing menyimpan kenangan seperti buku. Kenangan buruk—seperti dimarahi karena nilai buruk atau diabaikan saat menangis—tersimpan di “rak bawah sadar” dan memengaruhi perilaku tanpa disadari.
Studi dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews (2018) menunjukkan bahwa trauma masa kecil dapat mengubah struktur otak, terutama di amygdala dan hippocampus dalam limbic system, yang mengatur emosi dan memori. Trauma ini membentuk pola reaksi emosional yang otomatis. Dr. Aisah menegaskan bahwa, “perilaku atau pengalaman yang berulang-ulang itu menjadi subconscious mind. Kekuatannya 88 sampai 90 persen. Pikiran sadar cuma 10 sampai 12 persen”. Artinya, luka bawah sadar memiliki kekuatan jauh lebih besar daripada niat sadar untuk menjadi orang tua yang baik.
Otak Emosi: Pemicu Reaksi Berlebihan
Otak manusia terdiri dari tiga bagian utama: otak emosi (limbic system), otak reptilia (brainstem), dan otak akal (prefrontal cortex). Otak emosi, seukuran kepalan tangan, adalah pusat kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan. Dr. Aisah menjelaskan, “otak emosi sering disebut juga otak mamalia. Jadi kalo kita lihat otak manusia itu ada tiga lapis. Otak reptilia, otak mamalia, dan otak akal atau neocortex. Di otak manusia juga memang Tuhan ciptakan ada otak emosinya di tengah otak”. Ketika seorang ibu memarahi anak karena hal sepele, otak emosi inilah yang mengambil alih, mengesampingkan logika.
Penelitian dari Nature Communications (2021) menemukan bahwa stres kronis melemahkan koneksi antara limbic system dan prefrontal cortex, membuat seseorang sulit mengendalikan emosi. Ini menjelaskan reaksi berlebihan dalam toxic parenting. Dr. Aisah menyatakan, “orang tua yang masuk kategori toxic parent itu biasanya bukan karena orang tuanya jahat. Bisa jadi karena ada trauma atau memang, maaf, ada gangguan kejiwaan”. Trauma masa kecil, seperti dipermalukan di depan umum, bisa menciptakan “kabel-kabel” emosi yang salah di otak.
Inner Child: Warisan Luka Lintas Generasi
Dr. Aisah juga membahas konsep inner child memory, kenangan masa kecil yang membentuk pola asuh. “Di dalam rahim sampai masa anak-anak ini sering disebut inner child memory. Memori sewaktu kita kecil”terangnya. Jika seseorang dibesarkan dengan pola asuh keras, kenangan ini menjadi “cetak biru” yang diterapkan saat mereka menjadi orang tua.
Data dari American Psychological Association (2022) menunjukkan bahwa pola asuh diwariskan lintas generasi, dengan anak-anak dari orang tua otoriter 60% lebih mungkin mengadopsi pola serupa. Dr. Aisah memperingatkan, “kalau berkelanjutan, anak kita yang terbesarkan menjadi anak yang toxic, dia bisa juga toxic parent kepada anaknya. Siklus ini seperti rantai yang harus diputus agar generasi berikutnya tidak mewarisi luka.
Toxic parenting berakar pada luka bawah sadar dan otak emosi, tetapi bisa diatasi dengan kesadaran dan usaha. Dengan teknik memaafkan, menjaga kolbu, dan mengadopsi pola asuh modern, kita bisa memutus siklus ini. Seperti kata Dr. Aisah, “Supaya bayakan cahaya yang kita pancarkan dari kolbu kita adalah cahya yang bersih, penuh maaf, penuh bahagia, penuh syukur”. Mari memaafkan masa lalu dan membangun masa depan yang penuh cinta untuk anak-anak kita.