Dalam setiap pelukan yang tulus, dalam setiap kata yang menenangkan, sesungguhnya kita sedang menanamkan memori kepada anak-anak kita—memori yang akan mereka bawa, ulang, dan wariskan. Dr. Aisyah dalam ceramahnya menyampaikan pesan penting: apa yang dilakukan orang tua hari ini akan direkam oleh anak dan dicontoh di masa depan. Maka, membangun kenangan yang positif dalam pengasuhan bukan hanya bentuk cinta hari ini, tapi investasi emosional untuk generasi mendatang.
Advertisement
Kita mungkin pernah menganggap bahwa nasihat verbal adalah cara utama mendidik anak. Namun nyatanya, tindakan jauh lebih kuat terekam dalam memori anak. Ketika seorang ibu mendengarkan curhatan ibunya yang sudah tua dengan sabar, anak yang melihat itu secara tidak sadar merekamnya dalam benaknya.
“Apa yang kita lakukan sekarang akan dilakukan ulang oleh anak kita… Anak kita merekam bahwa seandainya ibuku sudah tua seperti ini, aku akan seperti ibuku, mendengarkan ibu curhat,” ujar dr. Aisah.
Pernyataan ini menegaskan bahwa empati yang ditunjukkan kepada orang tua bukan hanya amal, tapi juga contoh hidup bagi anak-anak kita. Jika yang mereka saksikan adalah kemarahan, ketidaksabaran, atau kekerasan verbal, maka kemungkinan besar mereka akan meniru pola yang sama saat dewasa—dan menjadi “toxic parent” berikutnya.
Advertisement
Lebih dari sekadar otak, Dr. Aisah menyoroti peran kolbu (hati) dalam pengasuhan. Kolbu, dalam pandangan beliau, adalah pusat energi dan cahaya dalam diri manusia. Pancaran dari kolbu memengaruhi lingkungan sekitar, terutama dalam relasi keluarga.
“Kolbu kita ini bercahaya... Kebayang gak kalau kolbu kita penuh ikatan peristiwa negatif. Maka yang berpancar adalah kemarahan, kejengkelan, kebusukan namanya,” jelasnya.
Bayangkan jika seorang ibu datang ke rumah dalam keadaan penuh amarah yang tersimpan lama. Anak-anak yang awalnya merasa baik-baik saja, bisa tiba-tiba merasa gelisah atau marah tanpa sebab. Inilah efek dari memori luka yang tidak sembuh, yang disimpan dalam kolbu.
Kolbu bekerja jauh lebih kuat daripada otak. Sinyalnya 5.000 kali lebih besar, dan seperti sinyal dari gadget, ia terus aktif bahkan tanpa kita sadari. Maka penting untuk menjaga kebersihan kolbu agar tidak memancarkan energi negatif yang bisa merusak dinamika keluarga.
Advertisement
Salah satu momen menyentuh dalam ceramah Dr. Aisah adalah tentang pentingnya menemani tanpa mengatur, bahkan dalam hal sesederhana air mata. Ketika seseorang—entah ibu kita, mertua, atau teman—menangis saat bercerita, jangan buru-buru memberinya tisu.
“Please jangan kasih tisu. Kalau kita kasih tisu, tandanya ‘berhenti kamu menangis’. Biarin dia yang cari tisu. Itu teknik.”
Memberikan tisu secara otomatis adalah simbol halus bahwa kita ingin orang itu berhenti menangis. Padahal bisa jadi ia butuh melepaskan kesedihan hingga tuntas. Menemani dengan diam, memegang punggungnya dengan hangat, bisa lebih menyembuhkan daripada seribu kata.
Advertisement
Mengasuh anak dengan hati yang penuh luka adalah hal yang berat. Maka, sebelum memperbaiki hubungan dengan anak, kita perlu terlebih dahulu memulihkan hubungan dengan diri sendiri. Di sinilah pentingnya self-healing.
Dr. Aisah memberikan teknik sederhana: tarik napas, hadirkan kembali peristiwa yang menyakitkan, lalu bayangkan orang yang menyakiti kita, dan maafkan dia dengan sepenuh hati. Ucapkan, “Saya telah memaafkan Fulan bin Fulan, dan memohon kepada Allah agar terus mengampuninya.”
“Allah menyuruh kita memaafkan dulu, baru memohonkan ampun. Bayangkan... kita yang terluka justru diminta memohon ampun untuk orang yang menyakiti kita,” papar wanita kelahiran 17 Desember 1968 ini.
Ini bukan perkara mudah, tapi jika dilakukan dengan sepenuh hati, ia bisa memulihkan cahaya kolbu, menghilangkan beban memori, dan menata ulang energi pengasuhan.
Advertisement
Seperti sebuah lilin yang menyalakan lilin lainnya, kita bisa menjadi penerang bagi generasi berikutnya—jika kita mampu membersihkan cahaya dalam diri sendiri terlebih dahulu. Ketika anak-anak kita tumbuh di lingkungan penuh kasih sayang, sabar, dan penghormatan terhadap orang tua, maka mereka akan menjadi orang tua yang sama kelak.
Namun sebaliknya, jika yang mereka lihat adalah kemarahan, penolakan, atau kurangnya empati, mereka akan mengulangi siklus luka itu. Oleh sebab itu, setiap pelukan, senyuman, bahkan saat-saat kita sabar mendengarkan curhat orang tua tanpa memotong atau mengeluh—itu semua menjadi warisan berharga.
“Biarkan, walaupun dia ulang-ulang. Itu akan tercatat jadi amal salih. Dan pada saat kita begitu, ada anak kita. Anak kita merekam bahwa nanti kalau ibuku seperti ini, aku akan mendengarkan seperti ibuku mendengarkan.”
Advertisement
Membangun memori positif dan menjaga kebeningan kolbu bukanlah tugas sepele. Ia membutuhkan kesadaran, latihan, dan kadang tangisan. Tapi dari sanalah bermula perubahan. Kita tidak hanya sedang memperbaiki diri sendiri, tapi sedang menciptakan masa depan yang lebih sehat, hangat, dan penuh cinta bagi anak-anak kita.
Karena sesungguhnya, pengasuhan bukan hanya soal membesarkan anak, tapi juga soal membentuk manusia yang kelak akan membesarkan cucu kita. Mari mulai dari hati. Mari sembuhkan, lepaskan, dan pancarkan cinta. “Jagalah hati, jangan kau kotori… Jagalah hati, lentera Ilahi.”