Mendikdasmen Umumkan Bahasa Indonesia Resmi Jadi Program Studi di Al-Azhar Mesir
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu'ti, mengumumkan bahwa Bahasa Indonesia resmi dibuka sebagai program studi di Universitas Al-Azhar Mesir, menarik 350 mahasiswa Mesir dan menandai tonggak penting bagi bahasa nasional di kancah global.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Abdul Mu'ti, menyampaikan kabar penting terkait pengakuan Bahasa Indonesia di kancah internasional. Ia mengumumkan bahwa Bahasa Indonesia kini resmi dibuka sebagai program studi (progdi) sarjana (S1) di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pengumuman ini disampaikan pada acara Refleksi Milad ke-113 Muhammadiyah di Kudus pada Sabtu (22/11).
Pembukaan program studi ini menjadi tonggak sejarah baru bagi penguatan posisi bahasa nasional Indonesia di tingkat global. Untuk pertama kalinya, salah satu universitas Islam tertua dan paling bergengsi di dunia tersebut secara resmi menawarkan jurusan Bahasa Indonesia. Langkah ini menunjukkan peningkatan minat dan pengakuan terhadap bahasa serta budaya Indonesia.
Antusiasme terhadap program studi baru ini sangat tinggi, terbukti dengan pendaftaran 350 mahasiswa warga negara Mesir yang langsung mengambil jurusan tersebut. Keberhasilan ini merupakan buah dari perjuangan bersama antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan pemerintah. Hal ini juga menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mengangkat martabat Bahasa Indonesia di mata dunia.
Penguatan Bahasa Indonesia di Kancah Global
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa pembukaan program studi Bahasa Indonesia di Al-Azhar Mesir merupakan pencapaian signifikan. Ini bukan hanya sekadar penambahan jurusan, tetapi juga simbol pengakuan internasional terhadap kekayaan linguistik Indonesia. Saat ini, sudah ada 57 negara di seluruh dunia yang menyelenggarakan program pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing. Program-program ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kursus singkat hingga program studi formal di perguruan tinggi.
Kehadiran program studi Bahasa Indonesia di universitas sekelas Al-Azhar diharapkan dapat mempercepat upaya menjadikan bahasa ini lebih dikenal. Pemerintah Indonesia memiliki cita-cita besar untuk Bahasa Indonesia. Cita-cita tersebut adalah agar Bahasa Indonesia dapat menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2045. Target ini bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya perjuangan ini. "Kita memiliki cita-cita besar di tahun 2045, saat Indonesia genap 100 tahun merdeka, yaitu memperjuangkan agar Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejajar dengan bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, Arab, dan Mandarin," ujarnya. Slogan "Bangga lahir dan mati dengan Bahasa Indonesia" menjadi semangat dalam perjuangan kedaulatan bahasa ini.
Keseimbangan Spiritual dan Material untuk Kemajuan Bangsa
Di samping isu Bahasa Indonesia di Al-Azhar Mesir, Abdul Mu'ti juga menyoroti aspek penting lainnya dalam kemajuan bangsa. Ia menekankan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak cukup hanya diukur dari kecukupan materi semata. Kesehatan spiritual masyarakat juga memegang peranan krusial dalam menciptakan kesejahteraan yang utuh. Banyak negara maju di Barat, meskipun memiliki tingkat kesejahteraan materi tinggi, seringkali mengalami kehampaan spiritual.
Mu'ti mengemukakan bahwa survei menunjukkan negara-negara dengan status "welfare state" belum tentu memiliki masyarakat yang bahagia. "Banyak survei menunjukkan bahwa negara-negara yang dikenal sebagai welfare state memiliki masyarakat yang belum tentu bahagia," ungkapnya. Ia mencontohkan Jepang sebagai negara maju dan modern yang masih menghadapi persoalan sosial serta ketidakpuasan hidup di masyarakatnya. Ini menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan.
Tren global saat ini mulai menunjukkan pergeseran pandangan. Banyak lembaga internasional kini memikirkan kesejahteraan manusia yang lebih utuh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dimensi sosial dan spiritual. Abdul Mu'ti mencatat adanya peningkatan kesadaran spiritual di berbagai negara, bahkan di kawasan yang sebelumnya dikenal antiagama. Jumlah penganut ateisme dan agnostik kini terus menurun, menandakan perubahan global menuju nilai-nilai keagamaan.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus mampu melahirkan generasi yang unggul. Generasi ini tidak hanya kompeten dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu mengamalkan nilai moral, etika, dan spiritual, termasuk ajaran Al Quran. "Orang yang memiliki pegangan agama cenderung menjalani hidup lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak memiliki landasan spiritual," tegasnya. Ini menjadi landasan penting bagi pembangunan karakter bangsa.
Sumber: AntaraNews