Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia telah menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Kemitraan ini bertujuan untuk mempromosikan Bahasa Indonesia secara global melalui pembentukan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Peluncuran program ini secara resmi dilakukan pada tanggal 6 November lalu di universitas bergengsi tersebut.
Inisiatif ini merupakan tonggak penting dalam upaya Indonesia memperkenalkan kekayaan bahasanya ke dunia internasional. Program studi ini menjadi yang pertama di wilayah Afrika dan Timur Tengah, menunjukkan komitmen kuat Indonesia. Sebanyak 350 mahasiswa baru telah mendaftar untuk mengikuti program inovatif ini.
Menteri Pendidikan, Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa peluncuran program ini menandai pencapaian signifikan. Ia juga menyoroti peran historis Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hal ini memperkuat ikatan antara kedua negara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.
Advertisement
Advertisement
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar ini menjadi yang pertama di Afrika dan Timur Tengah. Kehadiran program ini menunjukkan minat yang tinggi terhadap Bahasa Indonesia di kancah internasional. Menteri Pendidikan Abdul Mu'ti menegaskan, "Program Bahasa dan Sastra Indonesia ini adalah yang pertama di jenisnya di Afrika dan Timur Tengah, menandai tonggak penting bagi promosi bahasa nasional kita."
Abdul Mu'ti juga menyoroti hubungan historis antara Indonesia dan Mesir. Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, memperkuat landasan kerja sama ini. "Antusiasme masyarakat Mesir terhadap bahasa dan budaya Indonesia sangat tinggi," tambah menteri tersebut.
Salah satu momen menarik dalam peresmian adalah penampilan seni bela diri Tapak Suci dan pantun tradisional. Pertunjukan ini dibawakan oleh mahasiswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), menunjukkan minat budaya yang berkembang. Ini mencerminkan daya tarik budaya Indonesia yang kuat di Mesir.
Advertisement
Advertisement
Proses pendirian Program Studi Bahasa Indonesia di Al-Azhar membutuhkan waktu yang cukup panjang dan persiapan matang. Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Kairo, Abdul Muta'ali, menjelaskan bahwa proses ini memakan waktu sekitar satu tahun lima bulan. Ini menunjukkan dedikasi dan kerja keras dari berbagai pihak terkait.
Muta'ali merinci, "Prosesnya dimulai dengan penyusunan kurikulum, mendapatkan persetujuan dari Grand Sheikh Al-Azhar dan Dekan Fakultas Bahasa dan Penerjemahan, serta mengadakan beberapa presentasi di hadapan Dewan Agung." Beberapa presentasi juga harus dilakukan di hadapan Dewan Agung Al-Azhar untuk mendapatkan restu.
Dekrit Dewan Agung Al-Azhar Nomor 343 tertanggal 12 Juli 2025 menjadi landasan hukum resmi program ini. Keberhasilan mendapatkan dekrit ini menunjukkan pengakuan formal terhadap pentingnya Bahasa Indonesia. Ini juga menegaskan komitmen Al-Azhar dalam memperkaya pilihan bahasa yang diajarkan.
Advertisement
Advertisement
Presiden Universitas Al-Azhar, Salamah Dawud, menyambut baik penambahan program baru ini. Ia menyatakan bahwa Program Studi Bahasa Indonesia menjadi tambahan penting bagi penawaran bahasa di universitas tersebut. Saat ini, Al-Azhar telah mengajarkan sekitar 15 bahasa yang berbeda.
Dawud menekankan, "Bahasa Indonesia kini adalah bahasa ke-15 yang diajarkan di Universitas Al-Azhar." Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan berkelanjutan dari Indonesia. Dukungan tersebut mencakup penyediaan guru-guru yang berkualitas dan materi pembelajaran yang memadai.
Selain itu, Salamah Dawud juga mengungkapkan kekagumannya terhadap mahasiswa Indonesia. Menurutnya, "Mahasiswa Indonesia memiliki tempat istimewa di hati komunitas akademik Al-Azhar, karena mereka dikenal dengan karakter mulia dan kesopanan mereka." Ini mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa yang dibawa oleh para pelajar Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews