Memahami Istilah Kedokteran Crossmatch, Modus Dipakai Dokter Residen Perkosa Keluarga Pasien RSHS
Dokter Residen PAP melakukan pemerkosaan pada keluarga korban pada pertengahan Maret 2025.
PAP, dokter residen Unpad melakukan pemerkosaan pada keluarga pasien yang sedang menunggu ayahnya di ruang ICU RSHS Bandung. Informasi yang beredar, modus dokter muda itu menawarkan bantuan pada korban untuk melakukan proses pengecekan apakah darah korban cocok dengan pasien atau crossmatch.
Korban yang tak terlalu paham dengan tindakan yang ditawarkan PAP memilih manut saja. Dia lalu dibawa ke lantai 7, gedung baru di RSHS yang masih kosong. Korban kemudian diminta ganti pakaian paisen dan oleh pelaku dimasukkan obat bius. Korban kemudian tidak sadarkan diri. Saat itulah dugaan pemerkosaan itu dilakukan.
Saat sadar, korban pun kaget. Karena dia merasa yang sakit bukan hanya pada tangannya, tetapi juga bagian tubuhnya yang lain. Korban dan keluarga akhirnya melaporkan kejadian ini ke polisi.
Lalu apa sebenarnya fungsi tes crossmatch yang dijadikan modus dokter residen PAP untuk mengelabui korban?
Crossmatch adalah serangkaian tes yang dilakukan sebelum transfusi darah atau transplantasi organ untuk memastikan kompatibilitas antara darah atau jaringan donor dan resipien. Proses ini sangat penting karena tujuannya mendeteksi adanya antibodi dalam plasma resipien yang dapat bereaksi dengan sel darah merah donor, yang dapat mengakibatkan reaksi transfusi yang berbahaya bahkan fatal.
Dalam proses transfusi darah, crossmatch melibatkan pencampuran serum (bagian cair darah) resipien dengan sel darah merah donor. Jika terjadi reaksi antara antibodi dalam serum resipien dan antigen pada sel darah merah donor, seperti aglutinasi atau hemolisis, hal ini menunjukkan ketidakcocokan.
Proses ini dapat dilakukan secara manual atau elektronik, dengan masing-masing metode memiliki kelebihan tersendiri. Immediate spin crossmatch adalah tes cepat yang dilakukan pada suhu ruang, sementara full crossmatch lebih komprehensif dan dilakukan jika skrining antibodi resipien positif.
Proses Kerja Crossmatch
Untuk melakukan crossmatch dalam transfusi darah, dimulai dengan pengambilan sampel darah dari resipien dan donor. Setelah itu, serum dari resipien dicampurkan dengan sel darah merah dari donor.
Jika tidak ada reaksi yang terjadi, transfusi dapat dilakukan. Namun, jika terjadi reaksi, transfusi tidak dapat dilakukan karena menunjukkan adanya ketidakcocokan antara darah resipien dan donor.
Pentingnya crossmatch dalam transfusi darah tidak dapat diabaikan. Transfusi darah yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi hemolisis yang parah, bahkan berakibat fatal. Meskipun demikian, dalam keadaan darurat, transfusi darah mungkin dilakukan sebelum crossmatch selesai. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penanganan cepat dalam situasi kritis.