Melihat Eks Napi Teroris Mengikuti Pelatihan Barista di Bandung
Kegiatan tersebut digelar oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror sebagai salah satu program pembinaan dan pencegahan radikalisme.
Sebanyak 20 warga binaan eks narapidana terorisme (napiter) mengikuti pelatihan pengelolaan kopi dan barista di kantor Kesbangpol Jawa Barat, Jalan Supratman, Kota Bandung, Selasa (23/12). Kegiatan tersebut digelar oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror sebagai salah satu program pembinaan dan pencegahan radikalisme lewat pendekatan kewirausahaan.
Salah satu eks napiter yang ikut pelatihan itu, Ali (42 tahun), mengaku pelatihan tersebut membuka wawasannya. Di sisi lain, ia juga berpandangan bahwa kopi, bisa menjadi medium untuk membangun relasi sosial.
“Dengan wasilah kopi kita bisa berdialog, bisa membersamai para pejabat daerah. Dulu mungkin kita saling benci dengan wasilah kopi bisa tambah akrab,” kata dia.
Ia menyebut para peserta mendapat kesempatan praktik langsung dan ia tampak senang soal itu. Di salah satu momen, Ali mencoba menyeduh kopi arabica menggunakan metode manual brew dan ia berikan kepada pemandu pelatihan.
“Nilainya konon 6. Enggak jelek bangetlah,” ujarnya sembari terkekeh.
Bebas dari Nusakambangan Sejak 2014
Ali diketahui bebas sejak 2014 setelah menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan Pasir Putih. Ia menyebut telah mengikuti berbagai program pembinaan dari sejumlah instansi.
Terkait kopi sendiri, ia mengaku punya rencana menjajal bisnis di bidang tersebut. Ia mengaku telah mendaftarkan izin edar untuk menjual kopi graman, bahkan sebelum ikut pelatihan.
“Sebelum ada pelatihan ini kita sudah mendaftarkan untuk edar jualan kopi gram-gram,” ucap dia.
Program Densus 88
Sementara itu, Kasatgaswil Jawa Barat Densus 88, Kombes Pol Bogiek Sugiyarto mengatakan program pelatihan digelar ini merupakan salah satu program berkelanjutan dari pihaknya.
Warga binaan eks napiter, dibekali keterampilan dengan harapan dapat mandiri secara ekonomi menyusul kembalinya mereka ke tengah lingkungan masyarakat.
“Pelatihan ini diikuti sekitar 20 eks napiter yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten,” katanya dijumpai usia pelatihan.
“Mereka sudah menjalani hukuman sudah bisa berinteraksi, secara pemahaman sudah moderat, sekarang mereka sedang mengembangkan kewirausahaan,” tutur dia.
Terpisah, Pemandu Pelatihan Kopi, Egi Mahardika mengemukankan bahwa materi yang menitikberatkan pada pemahaman kopi dari hulu ke hilir. Materi dimulai dari pengenalan jenis kopi, proses pascapanen, hingga teknik penyeduhan.
Menurutnya, kopi tidak sekadar soal memetik dan menyeduh, melainkan rangkaian proses panjang yang menentukan kualitas produk. Dan itu penting sebagai bekal para eks napiter yang memiliki minat pada membuka usaha pada bidang perkopian.
“Jadi pelatihan ini mencoba mengarahkan berbagi ilmu dengan para warga binaan dari densus 88 tentang kopi, bukan hanya kopi itu dipetik kemudian diminum. Tapi sebuah rantai yang tidak bisa terputus untuk menciptakan kualitas kopi yang layak untuk diminum layak juga untuk dijual, itu mungkin seperti itu,” katanya.
Teori dan Praktik
Selain teori, peserta juga dibekali praktik penyeduhan secara langsung pada kegiatan tersebut, termasuk teknik-tekniknya, baik secara manual maupun menggunakan mesin. Teknik dasar pengolahan kopi hingga pencampuran bahan juga turut diajarkan.
“Teknik-teknik penyeduhan juga diajarkan seperti misalnya ini kita pakai manual brew mengajarkan mereka bagaimana cara penggunaan kopi yang baik kemudian green size-nya, ukurannya terus bagaimana cara memprosesnya, baik itu pure-nya dan untuk menghasilkan kopi yang baik, versi manual brew itu seperti apa juga diajarkan,” kata Egi.
“Juga dasar dari penggunaan alat-alat kopi seperti ekspresso, juga miksologinya mulai dari pencampuran air, susu, sirup, gula dan yang lain sebagainya,” imbuh dia.