Densus 88 Lakukan Pembinaan di Ponpes Boyolali yang Pernah Terafiliasi Jamaah Islamiyah
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan agar ponpes terbebas dari paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Sejak Senin Senin-Kamis (2-5/2/2026), Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri masuk ke Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Kedatangan mereka dalam rangkaian kegiatan seminar dan peningkatan kemampuan di ponpes tersebut. Selain itu juga sebagai bagian dari tindak lanjut atas deklarasi pembubaran Jamaah Islamiyah (JI) pada 30 Juni 2024.
"Kegiatan ini bertujuan mendorong transformasi Pondok Pesantren Darusy Syahadah agar semakin mandiri, terbuka, dan sepenuhnya terbebas dari paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET)," ujar Direktur Idensos Densus 88 AT Polri, Brigjen Pol. Arif Makhfudiharto, Kamis (5/2).
Ruang Pendidikan yang Moderat, Inklusif
Arif mengatakan, Ponpes Darusy Syahadah dipilih karena memiliki posisi historis sebagai salah satu pesantren tertua dan terbesar.
"Ponpes ini sebelumnya terafiliasi Jamaah Islamiyah. Pasca pembubaran organisasi tersebut, pihak pesantren menyatakan komitmennya untuk bertransformasi secara menyeluruh dan menjadikan pesantren sebagai ruang pendidikan yang moderat, produktif, dan inklusif," jelasnya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan seminar yang dihadiri oleh pengelola pesantren, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah. Rangkaian seminar dan diskusi keagamaan menghadirkan narasumber dari unsur akademisi, tokoh agama, dan praktisi.
"Peserta mencapai sekitar 500 orang, terdiri dari santri, masyarakat sekitar, serta mantan anggota Jamaah Islamiyah wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya," katanya.
Lanjut dia, diskusi berlangsung terbuka dan dinamis, membahas proses transformasi pascapembubaran Jamaah Islamiyah. Termasuk pentingnya perubahan ideologi, perilaku, dan struktur sosial secara menyeluruh.
"Selain seminar, kegiatan juga difokuskan pada pelatihan berbasis potensi lokal guna memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya," ucap dia.
Potensi Peternakan Kambing dan Sapi
Di antaranya, pelatihan pengolahan susu yang diikuti oleh 40 peserta perempuan dari pesantren dan eks JI. Kegiatan ini memanfaatkan potensi peternakan kambing perah dan sapi perah di wilayah Boyolali.
"Peserta dibekali keterampilan pengolahan susu menjadi produk bernilai tambah. Seperti yoghurt, kefir, keju, dan olahan lainnya, dengan dukungan peralatan produksi sederhana," beber dia.
Kemudian pelatihan pertanian yang diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari pengurus pesantren, eks JI, dan masyarakat sekitar. Materi pelatihan meliputi budidaya jagung, padi, kopi, hortikultura, peternakan kambing, pupuk organik, hingga pemasaran hasil pertanian.
"Seluruh materi disesuaikan dengan kondisi lahan dan potensi wilayah sekitar pesantren agar dapat langsung diterapkan pascapelatihan," katanya lagi.
Sejumlah bantuan sarana produksi pertanian dan bibit tanaman juga diserahkan dan dilakukan penanaman secara simbolis di lingkungan pesantren.
Kebutuhan Riil Pesantren
Pelatihan keterampilan lainnya mencakup pelatihan barista dan pangkas rambut yang menyasar kebutuhan riil pesantren dan peluang usaha di sekitarnya.
Tingginya konsumsi kopi nasional dan belum tersedianya layanan barbershop di sekitar pesantren menjadi dasar pemilihan pelatihan ini.
"Pada penutupan kegiatan, turut diresmikan barbershop dan kafe pesantren yang memasarkan produk kopi dan olahan susu hasil pelatihan," imbuhnya.
Seluruh rangkaian kegiatan ini diharapkan memperkuat peran Ponpes Darusy Syahadah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
"Pesantren diharapkan mampu mencetak santri yang berakhlak, cinta tanah air, memiliki keterampilan vokasional, serta berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya," tuturnya.
Arif menambahkan, kegiatan ini sekaligus menegaskan pendekatan penanggulangan terorisme yang semakin mengedepankan soft approach, melalui dialog, pendampingan berkelanjutan, dan penguatan kemandirian sosial-ekonomi.
Model Pembinaan Pesantren
Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, Indonesia berhasil menjaga kondisi keamanan dengan capaian nihil serangan terorisme, yang merupakan hasil sinergi seluruh elemen bangsa.
Pihaknya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Di antaranya Kementerian Pertanian RI, Kementerian Agama RI, Pemerintah Kabupaten Boyolali, Yayasan Baitul Maal PLN, lembaga pendidikan, mitra swasta, akademisi, serta masyarakat sekitar.
"Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi model pembinaan pesantren pascaterafiliasi jaringan terorisme, menuju pesantren yang mandiri, produktif, dan sepenuhnya bebas dari paham IRET, demi terwujudnya Indonesia yang aman dan sejahtera," pungkasnya.