Lebih dari Satu Dekade Hidup Ilegal, Mungky dan Dodo Kini Menuju Pulau Suaka: Upaya Konservasi Orangutan IKN Berlanjut
OIKN, BKSDA Kaltim, dan YAD berkolaborasi dalam Konservasi Orangutan IKN, menyelamatkan Mungky dan Dodo ke pulau suaka. Kisah pilu mereka kini berujung harapan di habitat baru.
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kaltim dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) berkolaborasi. Mereka bersinergi untuk menyejahterakan orangutan di Pulau Kelawasan Sepaku, yang berada di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Inisiatif ini merupakan bagian penting dari upaya konservasi orangutan IKN yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini bertujuan melestarikan orangutan, spesies kunci yang berstatus terancam punah. Melalui kerja sama, Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari didirikan untuk mendukung konservasi satwa liar. Fokus utamanya pada orangutan jantan dewasa yang tidak lagi dapat dilepasliarkan ke alam bebas.
Dua individu orangutan, Mungky dan Dodo, kini selangkah lebih dekat menuju habitat alami mereka. Mereka telah menghabiskan lebih dari satu dekade hidup sebagai hewan peliharaan ilegal. Keduanya berhasil ditranslokasi ke PSO Arsari. Kisah penyelamatan ini menjadi simbol harapan baru bagi konservasi orangutan IKN.
Pusat Suaka Orangutan Arsari: Harapan Baru di IKN
Visi mewujudkan lingkungan hidup dan budaya Nusantara yang lestari menjadi landasan bagi Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD). YAD bekerja sama dengan pemerintah untuk mendirikan Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari. Pusat ini berlokasi strategis di area HGB PT ITCI Kartika Utama, Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
"Sebagai bagian dari visi mewujudkan lingkungan hidup dan budaya Nusantara yang lestari, YAD bekerja sama dengan pemerintah, mendirikan sebuah Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari," kata Wakil Ketua YAD, S Indrawati Djojohadikusumo di Sepaku. PSO Arsari yang didirikan pada tahun 2019 ini secara khusus mendukung konservasi orangutan IKN dan satwa liar lainnya.
PSO Arsari didirikan untuk melestarikan orangutan dan habitatnya di wilayah Kalimantan Timur dan kawasan IKN. Kolaborasi tripartit antara BKSDA Kaltim, OIKN, dan YAD menegaskan komitmen bersama. Tujuannya adalah memberikan kesejahteraan bagi orangutan jantan dewasa yang tidak memungkinkan kembali ke alam bebas.
Kisah Mungky dan Dodo: Dari Penyelamatan ke Pulau Suaka
Kisah Mungky dan Dodo, dua orangutan jantan dari spesies Pongo pygmaeus, menyoroti tantangan konservasi orangutan IKN. Kedua satwa ini telah menghabiskan lebih dari satu dekade hidup sebagai hewan peliharaan ilegal. Kondisi ini membuat mereka tidak bisa dilepasliarkan secara penuh ke alam liar.
Sebelumnya, Mungky dan Dodo diselamatkan dan ditampung di Sintang Orangutan Center (SOC) di Kalimantan Barat. Dodo juga sempat berada di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPS Cikananga) di Jawa Barat. Upaya penyelamatan ini menunjukkan kepedulian berbagai pihak terhadap nasib satwa dilindungi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Mungky dan Dodo berhasil ditranslokasi ke PSO Arsari. Mereka kini diharapkan dapat tinggal di Pulau Kelawasan. Pulau ini sedang dikembangkan menjadi pulau suaka, khusus untuk orangutan yang memerlukan perlindungan ekstra. Pulau Kelawasan akan menjadi habitat aman bagi mereka.
Sinergi Multi Pihak untuk Konservasi Orangutan di IKN
Translokasi Mungky dan Dodo adalah bukti nyata dari kerja sama multi pihak yang solid. Berbagai institusi pemerintah terlibat, termasuk BKSDA Kaltim, BKSDA Kalbar, dan Balai Besar KSDA Jawa Barat. OIKN juga turut berperan aktif dalam mendukung inisiatif konservasi orangutan IKN ini.
Lembaga mitra seperti Sintang Orangutan Center (SOC) dan Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPS Cikananga) memberikan dukungan vital dalam proses penampungan dan rehabilitasi. Bahkan, badan usaha seperti KirimAja turut berkontribusi. Mereka menyediakan jasa ekspedisi untuk kelancaran translokasi orangutan.
"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah menunjukkan kepedulian dan kontribusi dalam translokasi orangutan Mungky dan Dodo," ujar Indrawati. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana sinergi berbagai elemen masyarakat dapat menciptakan dampak positif yang signifikan. Ini penting untuk masa depan konservasi orangutan IKN dan lingkungan hidup.
Sumber: AntaraNews