Korban Meninggal Banjir Bandang Pulau Siau Capai 17 Jiwa, Dua Masih Hilang
Tragedi banjir bandang Pulau Siau menelan 17 korban jiwa, dengan dua warga lainnya masih dalam pencarian intensif oleh tim SAR gabungan.
Banjir bandang dahsyat yang melanda sejumlah desa dan kelurahan di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, telah menyebabkan kerugian besar. Peristiwa tragis ini terjadi pada dini hari Senin (5/1/2026) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama kurang lebih lima jam tanpa henti. Hingga Kamis (8/1/2026), jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang Pulau Siau terus bertambah, mencapai angka 17 jiwa.
Selain korban meninggal, dua warga masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama dalam operasi pencarian yang terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Kondisi cuaca buruk, seperti hujan dan angin kencang, sempat menjadi kendala signifikan dalam upaya penyelamatan dan pencarian korban di beberapa lokasi terdampak. Pihak berwenang berkomitmen penuh untuk menemukan seluruh korban dan memberikan bantuan maksimal kepada masyarakat yang terdampak bencana alam ini.
Humas Basarnas Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, menegaskan bahwa tim gabungan tidak akan menyerah dalam upaya pencarian hingga seluruh korban ditemukan. Operasi pencarian, yang sempat dihentikan sementara karena kondisi lapangan, direncanakan akan dilanjutkan kembali pada hari ini pukul 08.00 WITA. Seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah bersatu padu menghadapi dampak bencana banjir bandang ini.
Perkembangan Jumlah Korban Banjir Siau
Update terbaru dari Basarnas Sulawesi Utara menunjukkan bahwa total korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Pulau Siau telah mencapai 17 orang. Angka ini meningkat dari laporan awal 15 korban jiwa, dengan penambahan satu korban meninggal karena sakit saat berada di pengungsian dan satu korban lainnya yang baru berhasil ditemukan. Situasi ini menggambarkan betapa seriusnya dampak bencana yang terjadi di wilayah tersebut.
Nuriadin Gumeleng, Humas Basarnas Sulawesi Utara, menjelaskan, "Korban meninggal 17 orang, sementara dalam pencarian sebanyak dua orang. Untuk korban meninggal awalnya ada 15 orang, kemudian bertambah satu yang meninggal karena sakit di pengungsian dan satu lainnya yang baru ditemukan," ujarnya pada Kamis (8/1/2026). Penambahan korban ini menjadi perhatian serius bagi tim penanganan bencana di lapangan.
Saat ini, dua warga masih dalam daftar pencarian orang (DPO) dan diidentifikasi sebagai Andris Pianaung serta Leonel Pianaung, keduanya berjenis kelamin laki-laki. Tim SAR gabungan terus berupaya keras untuk menemukan kedua korban yang hilang tersebut. Keluarga korban berharap agar pencarian dapat segera membuahkan hasil positif di tengah kondisi yang menantang.
Upaya Pencarian Korban Hilang di Pulau Siau
Tim SAR gabungan terus mengintensifkan upaya pencarian korban yang hilang pasca-banjir bandang Pulau Siau. Pada Rabu (7/1/2026) pukul 11.40 WITA, tim berhasil menemukan satu korban atas nama Clayton Azriel Tatambihe. Setelah ditemukan, korban segera dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses selanjutnya. Keberhasilan penemuan ini sedikit memberikan harapan di tengah duka yang mendalam.
Meskipun demikian, operasi pencarian yang dilanjutkan hingga siang hari sempat menghadapi kendala serius. Hujan deras yang disertai angin kencang melanda, khususnya di wilayah Desa Bahu Sondang, membuat tim harus ekstra hati-hati dalam bergerak. Kondisi cuaca ekstrem ini sangat mempengaruhi visibilitas dan keamanan para personel yang bertugas di lapangan. Pencarian korban banjir bandang masih menjadi prioritas utama.
Hingga pukul 18.00 WITA, tanda-tanda keberadaan kedua korban yang masih hilang, Andris Pianaung dan Leonel Pianaung, belum juga ditemukan. Oleh karena itu, operasi pencarian dihentikan sementara demi keselamatan tim. Nuriadin Gumeleng menambahkan bahwa pencarian direncanakan akan dilanjutkan kembali pada hari ini mulai pukul 08.00 WITA, dengan harapan cuaca akan lebih mendukung. Fokus utama adalah menemukan korban hilang banjir bandang.
Keterlibatan Tim SAR Gabungan dan Komitmen Bantuan
Operasi penyelamatan dan pencarian korban banjir bandang Pulau Siau melibatkan berbagai unsur dari pemerintah dan masyarakat. Tim SAR gabungan ini terdiri dari Basarnas Sulawesi Utara, Kodam XIII/Merdeka, Polda Sulawesi Utara, BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro, Polres Sitaro, Kodim Sangihe, Koramil Sitaro, dan Pos AL Siau. Kolaborasi ini menunjukkan keseriusan dalam penanganan bencana.
Selain itu, pemerintah daerah setempat dan masyarakat juga turut aktif memberikan dukungan serta bantuan dalam berbagai bentuk. Sinergi antara lembaga militer, kepolisian, badan penanggulangan bencana, dan komunitas lokal sangat krusial dalam menghadapi situasi darurat seperti ini. Setiap elemen bekerja sama untuk memastikan penanganan banjir bandang berjalan efektif.
Nuriadin Gumeleng dari Basarnas Sulawesi Utara menegaskan komitmen lembaganya untuk terus melakukan pencarian secara maksimal. Tujuan utama adalah menemukan seluruh korban yang masih hilang dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Basarnas memastikan bahwa upaya terbaik akan terus diberikan hingga seluruh kebutuhan penanganan bencana banjir bandang ini terpenuhi secara optimal.
Sumber: AntaraNews