Update Banjir Bandang di Pekalongan, Sembilan Orang Dilaporkan Hilang
Para relawan SAR Pekalongan masih berusaha mencari keberadaan pemancing masih hilang setelah diterjang banjir bandang.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah terus melakukan pencarian terhadap puluhan pemancing terseret arus banjir bandang melanda Kabupaten Pekalongan, Senin (20/1) malam. Para relawan SAR Pekalongan masih berusaha mencari keberadaan pemancing masih hilang setelah diterjang banjir bandang.
Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan dari data disampaikan BPBD Jawa Tengah terdapat 11-18 pemancing yang saat ini dilaporkan hilang karena terbawa arus banjir bandang di Kecamatan Petungkriyono.
"Ada warga yang bilang 11, ada yang 15 ada yang 18. Datanya masih dinamis. Informasi warga mereka lagi mancing," kata Bergas Catursasi Penanggungan, Selasa (21/1).
Peristiwa ini bermula ketika ada sejumlah warga melakukan aktivitas memancing di bibir sungai kemudian hujan deras membuat arus air mengalir deras.
"Kita sedang mengerahkan relawan, mendapat bantuan kekuatan dari Basarnas untuk memberi pertolongan kepada pemancing yang belum ditemukan," ujar Bergas.
Jumlah Korban
Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Semarang masih mencari 9 orang yang hilang dalam kejadian banjir bandang dan bencana tanah longsor di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Korban paling banyak diantaranya dari orang-orang yang sedang melintas dan berteduh di rumah Carik dimana rumah tersebut juga tersapu longsor.
"Total 17 orang tewas, 13 luka-luka dan 9 masih dalam pencarian. Kebanyakan korban melintas sambil berteduh di rumah pak Carik, dan orang yang sedang memancing di sungai," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, Budiono, Rabu (22/1).
Tim yang menerima info banyaknya korban hilang karena banjir bandang dan longsor di desa Kasimpar pada selasa (21/1) pagi langsung mengerahkan tim Kansar dari Pos SAR.
"Kami kerahkan 3 tim dari Kansar Semarang, Pos SAR Wonosobo dan Unit Siaga Pemalang," kata Budiono.
Berdasarkan keterangannya bahwa sebenarnya untuk korban dari desa Kasimpar sendiri tidak terlalu banyak sekira 9 orang yang dilaporkan hilang dan sebagian besar sudah ditemukan. Data tersebut masih bisa berkembang mengingat daerah longsoran merupakan area lintasan Pekalongan Dieng.
"Jadi dimungkinkan ada pengguna jalan yang tertimpa longsor, dan juga pengunjung kafe serta yang berteduh di rumah pak Carik," jelas Budiono.
Sedangkan untuk korban meninggal saat ini seluruhnya sudah diserahkan ke pihak keluarga. Sedangkan yang luka-luka sudah dirawat di RSUD Kajen untuk yang luka parah, dan yang luka ringan dirawat di Puskesmas Petungkriyono.
Saat ini pencarian oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, Organisasi SAR dan masyarakat sekitar dengan total kurang lebih 300 personil dihentikan sementara mengingat cuaca sudah gelap dan hujan juga masih turun dengan intensitas yang cukup deras.
"Sehingga pencarian tidak efektif dan akan kami lanjutkan pagi ini. Untuk pencarian masih dilakukan di sekitar area longsor. Hari ini juga kami akan mengerahkan drone thermal dan juga unit anjing SAR. Semoga cuaca cerah dan tim dimudahkan dalam melakukan pencarian," pungkas Budiono.
Penyebab Cuaca Ekstrem Landa Jateng
Terpisah, Kepala Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo mengatakan cuaca ekstrem yang melanda Jawa Tengah lantaran dipengaruhi munculnya Siklon Tropis Sean yang terpantau di Samudera Hindia sisi barat Australia. "Kemunculan Siklon Tropis Sean menyebabkan pola pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Jawa Tengah," kata Yoga Sambodo.
Terkait pemicu lainnya yaitu karena gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial di Jawa bagian tengah kembali aktif. Kondisi tersebut berkontribusi pada aktifitas pembentukan awan konvektif wilayah Jawa Tengah.
"Kelembapan udara di berbagai ketinggian cenderung basah sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan yang menjulang hingga ke lapisan atas," ujar Yoga.
Adanya kondisi di atas dapat menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang - lebat yang bisa disertai petir atau kilat dan angin kencang.
Pihak BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem tiga hari ke depan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang dan sambaran petir. Terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Sejumlah kabupaten kota dalam tiga hari ke depan dilanda cuaca ekstrem. Pihak BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku pada 20-22 Januari 2025.
Adapun daerah yang dilanda cuaca ekstrem sebagai berikut :
Tanggal 20 Januari 2025
Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Kabupaten / Kota Magelang, Temanggung, Kabupaten Semarang, Salatiga, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Surakarta, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Kudus, Jepara, Demak, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes dan sekitarnya.
Tanggal 21 Januari 2025
Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kab./Kota Magelang, Temanggung, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Surakarta, Wonogiri, Karanganyar, Jepara, Demak, Batang, Kab. Pekalongan, Pemalang, Kab./Kota Tegal, Brebes dan sekitarnya.
Tanggal 22 Januari 2025
Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Kab./Kota Magelang, Temanggung, Kab. Semarang, Salatiga, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Karanganyar, Jepara, Kendal, Batang, Kab. Pekalongan, Pemalang, Kab. Tegal, Brebes dan sekitarnya.