Kupang, 25 Januari 2026 – Sebanyak 13 personel Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) telah diterjunkan ke Kabupaten Manggarai Timur untuk membantu pencarian dua warga Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, yang menjadi korban tanah longsor sejak Jumat (23/1) pekan lalu. Bencana ini telah menewaskan satu warga bernama Albina Ria, sementara dua korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Komandan Satuan Brimob Polda NTT, Kombes Pol Afrizal Asri, menyatakan pengerahan personel ini merupakan bentuk tanggap segera Polri dalam misi kemanusiaan di wilayah rawan bencana. Tim Brimob tiba di lokasi pada Sabtu (24/1) dan langsung berkoordinasi dengan berbagai unsur terkait untuk menyusun strategi pencarian yang efektif.
Proses pencarian yang terus dilakukan hingga Minggu (25/1) ini menghadapi sejumlah kendala serius, termasuk hujan deras disertai kabut tebal dan kondisi tanah yang masih labil. Selain itu, keterbatasan alat berat serta terputusnya jaringan listrik dan internet di lokasi bencana turut menghambat upaya tim SAR gabungan.
Advertisement
Advertisement
Polda NTT menunjukkan komitmen tinggi terhadap misi kemanusiaan dengan mengerahkan 13 personel Brimob ke lokasi bencana longsor di Manggarai Timur. Komandan Satuan Brimob Polda NTT, Kombes Pol Afrizal Asri, menegaskan kehadiran Brimob bertujuan untuk membantu masyarakat yang terdampak. “Brimob Polda NTT hadir untuk membantu masyarakat,” katanya, menyoroti fokus utama pada pencarian dua korban yang diduga masih tertimbun longsor, serta memastikan keselamatan warga dan personel di lapangan.
Personel Brimob tersebut tiba di Desa Goreng Meni pada Sabtu (24/1) dan segera bergabung dengan tim gabungan. Tim SAR gabungan ini terdiri dari unsur Pemerintah Daerah, BPBD, Polres Manggarai Timur, TNI, Basarnas, serta masyarakat setempat.
Sebelum memulai operasi pencarian, rapat koordinasi penting telah dilakukan bersama Wakil Bupati Manggarai Timur. Pertemuan ini bertujuan untuk menentukan strategi pencarian yang paling efektif dan mengidentifikasi kebutuhan peralatan yang mendesak guna mendukung kelancaran operasi.
Advertisement
Advertisement
Upaya pencarian korban longsor di Manggarai Timur menghadapi berbagai tantangan alam yang signifikan. Hujan deras yang terus mengguyur disertai kabut tebal menjadi penghalang utama bagi tim SAR dalam melakukan visualisasi dan pergerakan di lapangan. Kondisi ini memperburuk situasi dan meningkatkan risiko bagi para petugas.
Selain faktor cuaca, kondisi tanah di lokasi bencana masih sangat labil dan rawan longsor susulan, membahayakan keselamatan tim pencari. Keterbatasan alat berat di area terpencil ini juga menjadi kendala serius, memperlambat proses evakuasi material longsor yang menimbun korban.
Kendala komunikasi semakin mempersulit koordinasi tim SAR di lapangan. Terputusnya jaringan listrik dan internet di lokasi bencana membuat tim kesulitan untuk berkoordinasi secara efektif dan cepat dalam merespons perkembangan situasi. Demi keselamatan bersama, pencarian korban dihentikan sementara dan direncanakan dilanjutkan keesokan harinya setelah alat berat tiba di lokasi.
Advertisement
Advertisement
Bencana tanah longsor yang melanda Desa Goreng Meni pada Jumat (23/1) lalu telah menimbun sejumlah rumah dan menyebabkan dampak serius bagi warga. Satu warga bernama Albina Ria telah dinyatakan meninggal dunia akibat kejadian ini, menambah duka bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, dua korban lainnya masih dalam proses pencarian intensif oleh tim SAR gabungan. Sebagian warga Kampung Tuwa juga telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman karena wilayah tersebut terisolasi dan sangat rawan terhadap longsor susulan, mengancam keselamatan jiwa mereka.
Menyikapi kondisi ini, Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini disampaikan mengingat kondisi cuaca ekstrem yang masih melanda sejumlah wilayah di NTT. “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir. Jika terjadi hujan deras disertai angin kencang, segera menjauh dari lereng atau daerah rawan dan mengikuti arahan petugas di lapangan,” tegasnya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews