Banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin (5/1) dini hari, menyebabkan kerusakan parah pada permukiman warga. Bencana ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama yang mengakibatkan sungai meluap, membawa material lumpur, batu, serta kayu ke kawasan permukiman dan fasilitas umum. Akibatnya, ratusan keluarga di Kepulauan Sitaro terpaksa mengungsi mencari tempat yang aman.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro segera merespons dengan menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, mulai dari 5 hingga 18 Januari 2026. Keputusan ini diambil berdasarkan Keputusan Bupati Kepulauan Sitaro Nomor 1 Tahun 2026, bertujuan untuk mempercepat penanganan darurat dan pemulihan pasca-bencana. Upaya penanganan melibatkan berbagai pihak untuk memastikan bantuan segera tersalurkan kepada para korban.
Sebagai langkah awal penanganan, sejumlah gereja dan museum di wilayah tersebut difungsikan sebagai lokasi pengungsian sementara bagi warga terdampak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) turut memberikan pendampingan intensif guna memastikan penanganan darurat berjalan optimal serta merencanakan langkah relokasi dan pemulihan jangka panjang.
Advertisement
Advertisement
Pengungsian dan Bantuan Darurat untuk Korban Banjir Bandang Sitaro
Ratusan keluarga dari Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan menjadi korban banjir bandang Sitaro dan kini menempati lokasi pengungsian sementara. Beberapa fasilitas yang dimanfaatkan antara lain museum di Kecamatan Siau Timur, Gereja Advent, Gereja GMIST Bethel Pesing, serta Gedung Gereja GMIST Jemaat Bethabara Paseng. Mereka akan berada di sana sembari menunggu proses pemulihan lingkungan pasca-bencana selesai dilakukan oleh tim petugas gabungan.
Penanganan darurat di lokasi bencana mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Pelaksana tugas Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Pangarso Suryotomo, bersama Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, telah meninjau langsung lokasi kejadian. Kunjungan ini sekaligus untuk menyerahkan bantuan logistik darurat kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro, memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
Bantuan yang disalurkan mencakup berbagai kebutuhan pokok, selimut, matras, tenda keluarga, serta peralatan kebersihan. Distribusi bantuan ini disesuaikan dengan jumlah pengungsi dan tingkat kebutuhan di setiap lokasi. Fokus utama adalah memastikan para korban banjir bandang Sitaro mendapatkan fasilitas dan dukungan yang memadai selama masa tanggap darurat.
Advertisement
Advertisement
Dampak dan Upaya Pemulihan Pasca Banjir Bandang Sitaro
Data sementara dari BNPB hingga Kamis (8/1) pukul 16.00 WIB menunjukkan bahwa lebih dari 600 keluarga terdampak banjir bandang Sitaro telah mengungsi. Bencana ini juga menimbulkan korban jiwa, dengan 17 orang meninggal dunia dan dua orang masih dinyatakan hilang, sementara 26 orang mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis.
Kerusakan permukiman akibat banjir bandang Sitaro bervariasi di empat kelurahan dan enam desa yang tersebar di Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Tim gabungan terus bekerja keras untuk membersihkan material lumpur, batu, dan kayu yang menutupi area permukiman dan fasilitas umum. Proses pemulihan lingkungan menjadi prioritas untuk memungkinkan warga kembali ke rumah mereka dengan aman.
Selain penanganan darurat, BNPB dan Kemenko PMK juga telah membahas langkah-langkah relokasi dan pemulihan jangka panjang. Evaluasi komprehensif sedang dilakukan untuk menentukan opsi terbaik bagi warga yang permukimannya rusak parah. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca banjir bandang Sitaro agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal.
Advertisement
Sumber: AntaraNews