Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memulai revitalisasi besar-besaran tahap kedua yang ditandai dengan prosesi wilujengan di Sasana Maligi, Selasa (21/7). Program yang dibiayai APBN itu akan menyasar sedikitnya 13 titik di kawasan keraton, mulai dari area depan hingga kompleks bagian dalam.
Prosesi tersebut dihadiri Raja Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi, Pelaksana Pelestarian, Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, Ketua Eksekutif LDA KPH Eddy Wirabhumi, serta jajaran sentana dalem dan abdi dalem.
Ketua LDA, Gusti Moeng, mengatakan cakupan revitalisasi kali ini menjadi yang terbesar karena menyentuh sejumlah bangunan penting di lingkungan Keraton Solo.
"Revitalisasi kali ini sangat luas. Dari Pagelaran, Sitinggil, museum, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Pakubuwanan, Langen Katong hingga Keraton Kilen. Yang paling luas adalah Keraton Kilen dengan area sekitar dua hektare," ujar Gusti Moeng.
Advertisement
Terancam Molor karena Bangunan Masih Digembok
Di balik dimulainya proyek tersebut, revitalisasi Keraton Solo masih menghadapi kendala. Sejumlah bangunan yang masuk dalam paket pekerjaan hingga kini belum dapat diakses karena masih terkunci.
Gusti Moeng mengungkapkan, pihaknya telah berulang kali meminta agar akses ke bangunan tersebut dibuka. Namun, hingga kini permintaan itu belum dipenuhi.
"Kalau mereka enggak mau membuka, ya kita akan buka. Sebetulnya masalah ditutup itu sudah selalu kami sampaikan agar dibuka," katanya.
Menurut dia, sedikitnya lima bangunan yang menjadi bagian dari proyek revitalisasi masih belum bisa dimasuki. Bangunan tersebut berada di kawasan Keputren, Keraton Kilen, Ndalem Ageng, hingga Sino Renggo.
Ia mengaku sudah hampir lima bulan berupaya membujuk agar kunci bangunan diserahkan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
"Keraton ini milik dinasti, bukan milik pribadi. Tanggung jawabnya ada di Lembaga Dewan Adat," tegasnya.
Advertisement
Tak Hanya Bangunan, SDM Keraton Juga Ditata
Selain memperbaiki bangunan fisik, revitalisasi juga akan difokuskan pada penataan sumber daya manusia, khususnya para abdi dalem dan sentana dalem.
Menurut Gusti Moeng, pelibatan sentana dalem menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi Keraton Solo agar tetap terpelihara.
"Total ada 13 titik yang akan disentuh, termasuk lima building di kawasan Keraton Kilen dan Sino Renggo. Manusianya juga perlu ditata kembali, dibekali, dan tentu kami melibatkan sentana dalem," jelasnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui besaran anggaran revitalisasi karena seluruh pembiayaan dikelola pemerintah pusat.
Advertisement
Soroti Pelanggaran Adat di Lingkungan Keraton
Dalam kesempatan itu, Gusti Moeng juga menyoroti masih adanya aktivitas di lingkungan keraton yang dinilai tidak sesuai dengan aturan adat.
Salah satunya adalah pelaksanaan tradisi caos dhahar yang dilakukan pada tengah malam oleh sekelompok orang. Padahal, menurutnya, tradisi tersebut memiliki tata cara dan waktu pelaksanaan yang sudah ditentukan.
"Caos dhahar di keraton itu ada harinya, ada waktunya. Tidak bisa dilakukan sembarangan," ujarnya.
Terkait bangunan yang masih tertutup, LDA menegaskan akan membuka akses secara mandiri apabila diperlukan. Langkah itu dilakukan untuk mendukung inventarisasi benda pusaka sekaligus memastikan proyek revitalisasi dapat berjalan sesuai rencana.