Sehari sebelum upacara puncak Jumenengan, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar rangkaian adat secara lengkap untuk Sahandhap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwana XIV, Jumat (4/9/2026).
Dimulai dari prosesi ruwatan di sore hari, latihan pamungkas Bedhaya Ketawang di malam hari, hingga ikrar di Masjid Paromosono. Ketiganya menjadi gerbang spiritual sebelum PB XIV Hangabehi resmi bertahta pada Sabtu, 5 September 2026.
Advertisement
Disucikan Lewat Ruwatan
Rangkaian dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dengan prosesi ruwatan. Menurut Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adar (LDA) Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, ruwatan memiliki makna untuk menghilangkan sukerta.
“Ruwatan pada dasarnya dimaksudkan untuk menghilangkan sukerta, yaitu segala sesuatu yang dianggap tidak baik atau dapat menjadi penghalang dalam perjalanan kehidupan seseorang,” ujar Gusti Moeng.
Prosesi ini dipimpin Dalang Ki Tengkleng Sri Susilo, yang masih memiliki garis trah dengan Keraton Surakarta. Tujuannya agar Sinuhun dapat menjalankan amanah tanpa aral melintang.
“Yang paling utama, Sinuhun diharapkan dapat menjadi panutan dan pengayom bagi para sembahan dan abdi dalemnya, serta mampu menjalankan tanggung jawab dan amanah sebagai seorang raja,” tutur Gusti Moeng.
Advertisement
Latihan Pamungkas 9 Penari Bedhaya Ketawang
Malam harinya pukul 20.00–22.00 WIB, giliran 9 penari perempuan menjalani latihan pamungkas Bedhaya Ketawang di Pendhapa Sasana Sewaka.
Latihan berlangsung khidmat dengan iringan gamelan, tata ruang, dan sesaji lengkap sesuai pakem Keraton. Jumlah sembilan penari bukan tanpa makna. Dalam kosmologi Jawa, angka sembilan adalah simbol kesempurnaan.
Bedhaya Ketawang sendiri merupakan pusaka budaya Keraton yang berkaitan erat dengan Tingalan Dalem Jumenengan. Tarian ini juga memiliki narasi spiritual yang mengaitkannya dengan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul.
Bagi Keraton, latihan pamungkas bukan sekadar teknis. Ini adalah bentuk menjaga kekhidmatan, ketertiban tata, dan kesinambungan warisan antargenerasi.
Advertisement
Teguhkan Ikrar di Masjid Paromosono
Puncak malam ditutup dengan suasana spiritual di Kagungan Dalem Masjid Paromosono. PB XIV menjalani salat malam dan meneguhkan ikrar menjelang Jumenengan.
Di masjid bersejarah peninggalan PB II itu, Sinuhun membaca Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-'Alaq. Gusti Moeng menegaskan, makna kepemimpinan saat ini bukan soal kekuasaan.
“Nilai kepemimpinan itu tidak semata-mata tentang kekuasaan, tetapi tentang amanah untuk menjaga warisan budaya dan meneruskannya kepada generasi berikutnya,” katanya.
Usai ikrar, gema takbir mengiringi langkah PB XIV kembali ke Kedhaton. Momen itu menjadi simbol bahwa perjalanan menuju takhta memiliki dimensi batin yang kuat.
SISKS Paku Buwana XIV lahir dengan nama BRM Suryo Suharto, 5 Februari 1985. Ia pernah bergelar GPH Mangkubumi dan KGPH Hangabehi sebelum mendeklarasikan diri sebagai PB XIV pada 13 November 2025, setelah ayahandanya PB XIII wafat.
Dengan rangkaian ruwatan, Bedhaya Ketawang, dan ikrar ini, Keraton Surakarta berharap PB XIV dapat menjalankan amanah sebagai raja dengan selamat, lancar, dan mampu mengayomi abdi dalem serta menjaga warisan budaya Keraton Surakarta.