Komdigi Dampingi Pemulihan Psikis Anak Bencana di Sumbar, Fokus Kembalikan Semangat Belajar
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berkolaborasi dengan Save the Children dan UNP, aktif dalam pendampingan anak bencana di Sumbar untuk memulihkan psikis mereka pasca banjir dan longsor.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara proaktif terus memberikan pendampingan psikis bagi anak-anak yang terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatra Barat. Upaya ini merupakan kolaborasi strategis dengan organisasi Save the Children dan Universitas Negeri Padang (UNP). Fokus utama dari program ini adalah mengembalikan stabilitas emosi dan semangat belajar anak-anak di tengah masa pemulihan pascabencana.
Pendekatan yang diterapkan dalam program pendampingan ini dirancang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan interaktif bagi para peserta. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat kembali bangkit dari trauma, menemukan kembali semangat mereka, serta mampu fokus menghadapi ujian sekolah yang akan datang. Dosen Ilmu Komunikasi UNP, Evelynd, menegaskan pentingnya metode ini untuk mendukung pemulihan mereka.
Evelynd menjelaskan bahwa tingkat pemulihan psikis setiap anak pascabencana dapat berbeda-beda, mengingat pengalaman traumatis yang mereka alami. Oleh karena itu, pendampingan dilakukan secara bertahap dan memerlukan keterlibatan aktif dari orang tua. Program ini tidak hanya berfokus pada anak-anak, tetapi juga mengedukasi orang tua mengenai peran krusial mereka dalam proses pemulihan.
Pendekatan Menyenangkan untuk Pemulihan Emosi Anak
Dosen Ilmu Komunikasi UNP, Evelynd, menjelaskan bahwa metode pendampingan psikis anak-anak terdampak bencana dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Pendekatan ini bertujuan agar anak-anak dapat kembali fokus dan bersemangat setelah mengalami peristiwa traumatis. Banyak dari mereka yang kini memasuki masa ujian sekolah, sehingga pendampingan ini menjadi sangat krusial untuk mengembalikan stabilitas emosi mereka.
“Kegiatan dibuat menyenangkan agar anak bisa kembali fokus. Banyak dari mereka memasuki masa ujian sekolah sehingga pendampingan ini sangat penting untuk mengembalikan stabilitas emosi,” kata Evelynd melalui keterangan resminya, Sabtu. Kegiatan ini dirancang untuk membantu anak-anak mengatasi perubahan rutinitas akibat tinggal di posko pengungsian. Pendampingan yang cepat diharapkan dapat mencegah anak-anak terlalu lama berada dalam ketidaknyamanan.
Berbagai aktivitas yang disajikan dalam program ini dirancang untuk tidak bersinggungan langsung dengan gawai. Justru, kegiatan ini menghadirkan kekuatan yang lebih ampuh melalui pendampingan orang tua. Aktivitas seperti kuis, menggambar, membaca cerita, dan permainan kolaboratif menjadi bagian dari upaya mengembalikan interaksi sosial dan rasa aman pada anak-anak.
Peran Orang Tua dan Batasan Gawai dalam Pendampingan Anak Bencana
Evelynd menekankan bahwa pemulihan psikis anak-anak memiliki tingkat yang berbeda setelah mereka menghadapi situasi traumatis. Oleh karena itu, pendampingan perlu dilakukan secara bertahap dan melibatkan peran aktif orang tua. Keterlibatan orang tua menjadi kunci untuk memastikan efektivitas program pendampingan psikis anak bencana.
Program ini secara khusus mengedukasi orang tua mengenai informasi yang layak dikonsumsi anak, terutama terkait penggunaan gawai. “Anak bisa menjauhi gawai jika didampingi dan diberi batasan. Yang paling penting adalah edukasi kepada orang tua tentang informasi apa yang layak dikonsumsi anak,” tegas Evelynd. Hal ini bertujuan untuk melindungi anak dari konten negatif dan mendorong interaksi langsung.
Kegiatan yang melibatkan orang tua dan anak ini diisi dengan beragam aktivitas yang mendorong interaksi langsung dan kreativitas. Beberapa kegiatan tersebut meliputi kuis edukatif, sesi menggambar, membaca cerita bersama, dan permainan kolaboratif. Pendekatan ini dinilai efektif membantu anak kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan memulihkan rasa aman setelah tinggal di pengungsian.
Dukungan Komdigi dan Relevansi Regulasi Perlindungan Anak
Program pendampingan anak bencana ini sejalan dengan penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 atau yang dikenal sebagai PP Tunas. Regulasi ini secara khusus menekankan pelindungan anak dari berbagai risiko digital. PP Tunas mengatur filter usia, kewajiban platform digital, serta persetujuan orang tua dalam penggunaan teknologi oleh anak-anak.
Selain upaya pendampingan psikis, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga terus memastikan pemulihan konektivitas jaringan serta infrastruktur telekomunikasi di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatra. Pemulihan ini krusial untuk mendukung komunikasi darurat dan koordinasi penanganan bencana secara keseluruhan.
Komdigi juga mendirikan sejumlah Posko sebagai Pusat Informasi dan Media Center di lokasi bencana. Posko-posko ini berfungsi untuk mendukung komunikasi darurat dan memfasilitasi koordinasi penanganan bencana yang lebih efektif. Seluruh upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan dukungan komprehensif bagi masyarakat terdampak, termasuk dalam aspek pemulihan psikis dan infrastruktur.
Sumber: AntaraNews