Pemulihan Trauma Pelajar Taput: Ratusan Siswa Penyintas Longsor Kembali Ceria
Ratusan pelajar di Tapanuli Utara mengikuti kegiatan pemulihan trauma pascabencana longsor, membantu mereka mengatasi dampak psikologis dan kembali ceria, dengan fokus pada pemulihan trauma pelajar Taput.
Ratusan pelajar Sekolah Dasar Negeri 173149 Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), mengikuti program pemulihan trauma pada Sabtu, 24 Januari. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu anak-anak mengatasi dampak psikologis akibat bencana longsor yang mereka alami. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Barito Selatan, serta Yayasan Swanayaka Indonesia.
Program pemulihan trauma ini dirancang khusus untuk memberikan dukungan emosional kepada para penyintas bencana. Sebanyak 136 pelajar terlibat dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan dan interaktif. Mereka diajak untuk melupakan kejadian traumatis melalui permainan dan interaksi positif dengan para pemateri.
Para pelajar ini sebelumnya menghadapi pengalaman sulit akibat longsor, bahkan beberapa di antaranya kehilangan pakaian sekolah karena rumah mereka tertimbun longsor. Oleh karena itu, kegiatan pemulihan trauma pelajar Taput ini sangat krusial untuk mengembalikan keceriaan dan semangat mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Mengembalikan Keceriaan Anak-anak Melalui Permainan
Tenaga pendidik SD Negeri 173149, Irmalirawati Hutagalung, menyatakan bahwa seluruh anak sangat senang dan berbahagia mengikuti kegiatan ini. Interaksi dengan pemateri dan permainan anak-anak membuat mereka lupa akan trauma yang dialami. Kegiatan ini terbukti efektif dalam memberikan pengalaman positif bagi para siswa.
Irmalirawati Hutagalung menekankan betapa pentingnya kegiatan semacam ini untuk mengobati trauma para pelajar. Ia berharap program pemulihan trauma ini dapat terus berlanjut guna mendukung pemulihan kejiwaan anak-anak secara berkelanjutan. Kebutuhan akan dukungan psikologis pascabencana memang sangat tinggi di kalangan penyintas muda.
Banyak pelajar yang menjadi penyintas bencana longsor ini sempat kehilangan harta benda, termasuk seragam sekolah mereka. Kondisi ini menambah beban psikologis yang mereka alami, sehingga intervensi pemulihan trauma menjadi sangat vital. Program pemulihan trauma pelajar Taput berupaya membangun kembali resiliensi dan harapan di hati anak-anak.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pemulihan Psikologis
Relawan Medis Kementerian Kesehatan dan anggota IDI Barito Selatan, dr. Jimmy Taruna Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa pihaknya diajak berkolaborasi untuk menyembuhkan trauma yang dialami anak-anak. Aksi ini merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang harus diberikan kepada masyarakat terdampak bencana. Mereka berkomitmen agar anak-anak di wilayah tersebut dapat pulih sepenuhnya.
Founder Yayasan Swanayaka Indonesia, dr. Siti Sundari Manopo, menambahkan bahwa anak-anak ini adalah penyintas bencana. Meskipun bekas trauma tidak selalu terlihat di wajah mereka, namun secara psikologis hal itu masih ada di dalam jiwa mereka. Yayasan berupaya menggugah semangat mereka agar bisa melupakan kejadian naas tersebut dan menyikapinya secara positif.
Edukasi dilakukan melalui permainan tradisional dan interaksi yang dirancang untuk membuat anak-anak bahagia dan bersemangat menjalani hidup. Upaya ini adalah bagian dari komitmen bersama untuk memastikan anak-anak Indonesia kembali ceria di masa pemulihan pascabencana. Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan dampak bencana, khususnya dalam pemulihan trauma pelajar Taput.
Sumber: AntaraNews