Kemenkes Perkuat Kesehatan Penyintas Longsor di Taput, Fokus Penanganan ISPA dan Trauma
Kementerian Kesehatan bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Barito Selatan memperkuat kesehatan penyintas longsor di Desa Sibalanga, Tapanuli Utara, melalui layanan pemeriksaan, edukasi, dan pemulihan trauma untuk mengatasi dampak bencana.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Barito Selatan aktif memperkuat kesehatan masyarakat terdampak longsor. Layanan ini diberikan kepada para penyintas di Desa Sibalanga, Kecamatan AdianKoting, Tapanuli Utara (Taput), Provinsi Sumatera Utara. Mereka menyediakan pemeriksaan dan edukasi kesehatan komprehensif bagi warga setempat.
Kegiatan tersebut berlangsung di Posko Gereja HKBP Desa Sibalanga, menyasar anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan perhatian medis. Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan yang muncul pascabencana. Tim medis juga memberikan dukungan psikologis kepada para korban.
Relawan Medis Kemenkes, dr. Jimmy Taruna Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari respons cepat terhadap dampak bencana. Fokus utama adalah pencegahan dan penanganan penyakit yang rentan terjadi di lingkungan pascabencana. Edukasi tentang pola hidup sehat turut menjadi prioritas.
Penanganan Penyakit Akibat Bencana
Tim medis Kemenkes dan IDI Barito Selatan mencatat adanya peningkatan kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di kalangan penyintas longsor. Sebanyak 53 orang terdiagnosis ISPA, terdiri dari 17 anak-anak dan 36 orang dewasa, menunjukkan kerentanan populasi terhadap kondisi lingkungan pascabencana. Penyakit ini seringkali disebabkan oleh paparan debu dan kondisi sanitasi yang kurang memadai.
Selain ISPA, masalah kesehatan lain yang signifikan adalah diare akut, yang menjangkiti 23 anak-anak di Desa Sibalanga. Diare merupakan dampak umum pascabencana, terutama karena kesulitan akses terhadap air bersih dan makanan yang higienis. Petugas kesehatan juga menemukan 14 anak-anak yang menderita influenza, menambah daftar penyakit infeksi yang perlu ditangani segera.
Tidak hanya penyakit infeksi, sejumlah penyintas juga menghadapi masalah kesehatan non-infeksi yang perlu perhatian serius. Data menunjukkan 34 orang menderita hipertensi, 12 pasien asma, dan 12 pasien diabetes melitus. Selain itu, empat pasien teridentifikasi mengalami infeksi jamur atau dermatomikosis, menyoroti beragamnya kebutuhan medis di lokasi bencana.
Dr. Jimmy Taruna Taufiq Fajar menekankan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik. Tim juga memberikan dukungan psikologis untuk penyembuhan trauma kepada korban terdampak. Pendekatan holistik ini penting untuk memastikan pemulihan kesehatan dan mental penyintas secara menyeluruh.
Edukasi dan Pemulihan Trauma untuk Penyintas
Upaya pencegahan penyakit menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan Kemenkes dan IDI Barito Selatan. Petugas secara aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konsumsi makanan sehat dan air bersih. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko penularan ISPA dan diare, yang merupakan ancaman serius di lingkungan pascabencana.
Edukasi kesehatan juga mencakup praktik kebersihan diri dan lingkungan, yang esensial dalam mencegah penyebaran infeksi. Dr. Jimmy Taruna Taufiq Fajar menegaskan bahwa daerah tersebut memiliki banyak korban terdampak penyakit, sehingga layanan dan edukasi kesehatan merupakan upaya pencegahan yang krusial. Pemahaman masyarakat tentang kesehatan adalah kunci pemulihan.
Selain penanganan fisik, pemulihan trauma (trauma healing) menjadi fokus penting, terutama bagi anak-anak. Ratusan pelajar SD Negeri 173149 Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Taput, mengikuti sesi pemulihan trauma yang diselenggarakan Kemenkes bekerja sama dengan IDI Barito Selatan dan Yayasan Swanayaka Indonesia. Kegiatan ini dirancang untuk membantu anak-anak mengatasi dampak psikologis bencana.
Irmalirawati Hutagalung, seorang tenaga pendidik di SD Negeri 173149, menyatakan bahwa 136 pelajar berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan menunjukkan antusiasme yang tinggi. Anak-anak merasa senang dan berbahagia selama sesi pemulihan trauma, menandakan keberhasilan program dalam memberikan dukungan emosional. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu mereka kembali beraktivitas normal.
Sumber: AntaraNews