Ribuan Warga Aceh Utara Terima Layanan Kesehatan Pascabencana, Tiga Penyakit Ini Mendominasi

Dinas Kesehatan Aceh dan HEOC sigap tangani 1.300 warga Aceh Utara pascabencana. Layanan Kesehatan Pascabencana Aceh Utara fokus atasi ISPA, penyakit kulit, dan diare.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ribuan Warga Aceh Utara Terima Layanan Kesehatan Pascabencana, Tiga Penyakit Ini Mendominasi
Sebanyak 1.300 warga Aceh Utara terdampak banjir dan tanah longsor telah mendapatkan layanan kesehatan darurat pascabencana dari Dinas Kesehatan Aceh dan Posko HEOC, fokus pada ISPA, penyakit kulit, dan diare. (AntaraNews)

Sebanyak 1.300 warga Kabupaten Aceh Utara yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor telah menerima layanan kesehatan darurat. Layanan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Aceh bersama Posko Health Emergency Operation Center (HEOC). Tim Emergency Medical Team (EMT) terpadu batch V aktif memberikan bantuan di lokasi.

Pelayanan kesehatan intensif ini berlangsung dari tanggal 4 hingga 7 Januari 2026, menjangkau berbagai wilayah terdampak parah. Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh sekaligus Ketua HEOC, Ferdiyus, mengonfirmasi data tersebut di Banda Aceh pada hari Jumat. Fokus utama adalah penanganan cepat pascabencana.

Tiga penyakit utama yang mendominasi laporan pascabanjir adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare. Kondisi lingkungan yang memburuk pascabencana diduga menjadi pemicu utama peningkatan kasus ini.

Layanan kesehatan darurat ini dilaksanakan secara menyeluruh di beberapa kecamatan yang paling parah terdampak bencana. Wilayah seperti Baktiya, Tanah Jambo Aye, Langkahan, Seunuddon, Lapang, Samudera, Cot Girek, Sawang, hingga Babah Buloh menjadi fokus utama. Tim EMT berupaya menjangkau setiap sudut yang membutuhkan bantuan medis.

Pelayanan tidak hanya terpusat di posko kesehatan tetap pada fasilitas pengungsian. Tim juga bergerak secara mobile untuk menjangkau desa-desa terpencil yang akses jalannya terputus akibat genangan banjir. Pendekatan ini memastikan bahwa tidak ada warga yang luput dari perhatian medis.

Kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia menjadi prioritas utama dalam pemberian layanan kesehatan. Pemerintah Aceh, melalui HEOC, terus memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat secara berkala. Hal ini menunjukkan komitmen serius terhadap kesehatan warga terdampak.

Berdasarkan laporan EMT yang diterima HEOC, pola penyakit yang muncul pascabencana menunjukkan konsistensi di hampir seluruh lokasi pelayanan. Tiga penyakit yang paling sering ditemukan adalah ISPA, penyakit kulit, dan diare. Data ini menjadi acuan penting dalam strategi penanganan.

Tingginya angka ISPA dan penyakit kulit sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan pascabanjir. Ferdiyus menjelaskan bahwa setelah banjir, banyak masalah muncul seperti sanitasi yang buruk dan ketersediaan air bersih yang sangat terbatas. Situasi ini mempercepat penyebaran penyakit.

Pemantauan lapangan oleh HEOC mengidentifikasi beberapa faktor risiko signifikan. Faktor-faktor tersebut meliputi sanitasi lingkungan yang buruk, keterbatasan air bersih layak konsumsi, rusaknya fasilitas jamban, serta belum berfungsinya sistem pengelolaan sampah di beberapa lokasi. Semua elemen ini berkontribusi pada kerentanan kesehatan warga.

Selain memberikan pengobatan langsung, tim EMT juga aktif melaksanakan berbagai upaya pencegahan. Pemantauan kualitas air bersih menjadi salah satu kegiatan krusial untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air. Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga gencar dilakukan kepada masyarakat.

Skrining status gizi bagi balita dan ibu hamil merupakan bagian integral dari layanan ini. Pemberian makanan tambahan turut diberikan untuk memastikan asupan nutrisi yang cukup bagi kelompok rentan. Upaya ini penting untuk menjaga daya tahan tubuh di tengah kondisi sulit.

Tim juga menyelenggarakan trauma healing bagi anak-anak melalui permainan edukatif, seperti ular tangga bertema PHBS. Ferdiyus menegaskan bahwa prioritas utama adalah kesehatan kelompok rentan dan pemulihan lingkungan. "Edukasi PHBS dan penyediaan akses air bersih adalah kunci pencegahan wabah pascabencana," ujarnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi