Anak-anak penyintas bencana di Aceh Tengah kini mendapatkan perhatian khusus melalui program pendampingan psikologi. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan Universitas Teuku Umar.
Program tersebut difokuskan untuk membantu pemulihan kondisi mental anak-anak yang terdampak bencana, khususnya di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Tujuannya agar mereka dapat kembali beraktivitas normal setelah mengalami pengalaman traumatis.
Pendampingan ini diharapkan mampu memberikan dukungan emosional serta strategi penanganan trauma bagi anak-anak. Hal ini penting untuk memastikan kesejahteraan psikologis mereka pasca-bencana yang melanda wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Dosen Universitas Teuku Umar, Irsadi Aristora, menjelaskan bahwa program ini terfokus pada penyembuhan trauma anak-anak. Berbagai kegiatan seperti permainan dan aktivitas sosial dirancang untuk membantu anak-anak berinteraksi dan mengekspresikan diri.
Program yang disebut "sekolah bencana" ini telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. Irsadi berharap melalui proses pengabdian sosial ini, kondisi psikologis anak-anak dapat membaik secara signifikan.
Inisiatif ini menunjukkan komitmen Kemdiktisaintek dan Universitas Teuku Umar dalam mendukung pemulihan pasca-bencana. Fokus pada kesehatan mental anak-anak menjadi prioritas utama dalam upaya rehabilitasi sosial.
Advertisement
Advertisement
Ketua program Unit Kegiatan Mahasiswa Berdampak Penanggulangan Bencana Universitas Teuku Umar, Rahmat Hayatun Nupus, menyampaikan bahwa kondisi anak-anak terdampak bencana sudah menunjukkan perbaikan.
Hayatun, yang mengambil jurusan hukum, menyatakan bahwa membantu masyarakat dan anak-anak terdampak bencana merupakan kebiasaan dan hobi timnya. Mereka juga pernah melakukan pengobatan serupa di beberapa daerah lain yang mengalami dampak bencana.
Di Kampung Toweren, total terdapat 90 anak dan balita yang terdampak bencana banjir Sumatera. Bencana tersebut terjadi pada tanggal 25-30 November 2025, menyebabkan banyak keluarga harus mengungsi.
Advertisement
Advertisement
Mayoritas anak-anak penyintas bencana ini telah kembali ke kediaman pribadi masing-masing. Mereka sebelumnya mengungsi di posko kebencanaan selama kurang lebih tiga bulan.
Kembalinya anak-anak ke lingkungan rumah mereka menandakan fase pemulihan fisik. Namun, pendampingan psikologis tetap krusial untuk memastikan pemulihan emosional yang berkelanjutan.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan kementerian, sangat vital dalam membangun kembali kehidupan masyarakat terdampak. Terutama untuk anak-anak agar dapat tumbuh kembang dengan optimal tanpa bayang-bayang trauma.
Advertisement
Sumber: AntaraNews