Klarifikasi Fadli Zon Soal Usulan Kakek Prabowo Lebih Tepat Disebut Bapak Koperasi
Sejak lama, gelar Bapak Koperasi diberikan kepada Mohammad Hatta, yang merupakan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan klarifikasi terkait usulannya mengenai kakek Presiden Prabowo Subianto, Margono Djojohadikusumo, yang dianggap lebih tepat untuk disebut sebagai Bapak Koperasi.
Pernyataannya itu kemudian ramai diperbincangkan. Pasalnya, selama ini, gelar tersebut secara resmi diberikan kepada Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta.
Ia membantah bila pernyataan itu adalah sikap resmi pemerintah. Menurutnya, hal itu merupakan pendapat pribadinya saja.
"Oh ya, bukan. Itu pendapat saja. Karena menurut saya, Bung Hatta itu lebih besar dari sekadar Bapak Koperasi," ungkap Fadli Zon kepada para wartawan.
Ia menambahkan bahwa Bung Hatta, yang akrab disapa demikian, merupakan seorang perancang ekonomi kerakyatan dan sosok intelektual yang sangat kompeten.
Oleh karena itu, Fadli Zon berpendapat bahwa Bung Hatta lebih layak mendapatkan gelar Bapak Ekonomi Kerakyatan.
"Jadi atribusinya itu lebih dari Bapak Koperasi. Itu yang saya katakan. Jadi Bung Hatta itu Bapak Ekonomi Kerakyatan," tutupnya dengan tegas.
Fadli Zon menjelaskan bahwa Margono lebih layak diakui sebagai Bapak Koperasi
Fadli Zon pernah menyebut Margono Djojohadikusumo sebagai Bapak Ekonomi Indonesia karena perannya yang signifikan dalam membangun dasar ekonomi nasional setelah kemerdekaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Fadli Zon saat peluncuran dan bedah buku berjudul "Margono Djojohadikusumo: Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 46" yang ditulis oleh Jimmy S. Harianto dan H.M.U. Kurniadi di Kompas Institute pada Jumat, 9 Agustus 2025.
"Mungkin lebih tepat Pak Margono disebut Bapak Koperasi tapi Bung Hatta Bapak Ekonomi Kerakyatan," ungkap Fadli Zon.
Ia menekankan bahwa kontribusi Margono tidak hanya terlihat dalam perjuangan fisik, tetapi juga dalam pengambilan keputusan di bidang kebijakan ekonomi.
Profil Margono Djojohadikusumo
Pada tanggal 5 Juli 1946, Margono Djojohadikusumo mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI) di Yogyakarta, di saat Indonesia masih belum memiliki sistem keuangan yang mandiri.
BNI kemudian berperan penting dalam mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI), yang menjadi simbol kedaulatan ekonomi negara.
Margono Djojohadikusumo juga dikenal sebagai pelopor dalam bidang koperasi dan kredit rakyat, yang mengusung semangat ekonomi kerakyatan yang diwariskan kepada anaknya, Sumitro Djojohadikusumo.
Dia berperan aktif dalam pengembangan sistem ekonomi Pancasila yang sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945, bersama Bung Hatta.
Margono Djojohadikusumo menghembuskan napas terakhirnya pada 25 Juli 1978 dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah.
Kontribusinya dalam membangun dasar-dasar ekonomi Indonesia diakui oleh banyak pihak, dan terdapat usulan untuk mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.
Dengan segala pencapaiannya, Margono Djojohadikusumo menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sumber: Merdeka.com